Vucic Mengaku Kalah di Pemilu Serbia, Gerakan Mahasiswa Rayakan Kemenangan

Warga merayakan kemenangan setelah Aleksandar Vucic, pemimpin Partai Progresif Serbia (SNS) yang berhaluan kanan, mengakui kekalahan dalam pemilihan parlemen di Belgrade, Serbia, Minggu (25/10/2026). (foto: Marko Drobnjakovic/AP)
Beograd, MISTAR.ID - Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengakui kekalahan partainya dalam pemilihan parlemen yang digelar lebih awal setelah gerakan mahasiswa antikorupsi berhasil menghimpun dukungan luas dari masyarakat.
Dilansir BBC, Senin (26/10/2026), pemimpin populis sayap kanan itu menyampaikan pengakuan kekalahan pada Minggu malam. Ia mengatakan hasil akhir pemilu memang belum diumumkan, tetapi perolehan suara menunjukkan partainya telah kehilangan kemenangan.
"Kami masih belum memiliki hasil akhir... tetapi jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilu ini," kata Vucic saat memberikan pernyataan di markas Partai Progresif Serbia (SNS) di ibu kota Belgrade.
Pengakuan tersebut disambut perayaan di sejumlah kota. Warga turun ke jalan, menari, menyalakan kembang api, serta meneriakkan kata "kemenangan" sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan mahasiswa.
Gerakan mahasiswa yang dikenal melalui daftar kandidat Student List berhasil menarik dukungan dari berbagai kelompok masyarakat yang menginginkan perubahan politik di Serbia.
Kandidat utama Student List, Ilija Srdanovic, menyebut hasil pemilu tersebut sebagai momentum untuk membangun negara yang lebih bebas.
"Ini akan menjadi negara yang bebas," katanya kepada BBC Serbia.
Ia mengatakan gerakan antikorupsi tersebut bertekad membebaskan Serbia dari pemerintahan yang dianggap otoriter.
Student List tidak memiliki struktur kepemimpinan yang menonjol. Para kandidatnya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari dokter, aktor, akademisi hingga tokoh olahraga. Mereka diusung untuk mengisi 250 kursi di parlemen Serbia.
Gerakan tersebut mengusung agenda pemberantasan korupsi, termasuk menindak pejabat yang melanggar aturan, menghentikan penindakan terhadap demonstran, mencegah loyalis partai menguasai perusahaan publik, serta membebaskan lembaga penyiaran publik dari kendali politik.
Kandidat Student List, Radomir Saicic, mengatakan masyarakat Serbia telah menunjukkan bahwa keinginan rakyat untuk menentukan masa depan mereka tidak dapat dihalangi.
"Tidak ada kekuatan yang dapat selamanya mengalahkan rakyat yang telah memutuskan untuk mengambil nasib mereka sendiri," ujarnya dalam pidato perayaan, seperti dilaporkan Reuters.
Kemenangan gerakan mahasiswa tersebut menjadi perkembangan penting setelah Serbia dilanda gelombang demonstrasi selama dua tahun.
Protes bermula setelah kanopi sebuah stasiun kereta api di Novi Sad runtuh dan menewaskan 16 orang. Tragedi tersebut memicu kemarahan publik dan dipandang sebagai simbol dugaan korupsi serta kelalaian dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Vucic kemudian menyerukan pemilihan parlemen lebih awal di tengah tekanan politik yang terus meningkat.
Selama masa kampanye, Vucic dan partainya berulang kali membantah tuduhan korupsi. Ia juga menjanjikan peningkatan pensiun, kenaikan gaji pegawai sektor publik, serta tambahan investasi untuk layanan kesehatan negara.
Vucic sebelumnya telah menjalani dua masa jabatan sebagai presiden sehingga tidak dapat mencalonkan diri untuk periode ketiga. Melalui pemilu tersebut, ia memimpin SNS dengan tujuan kembali menduduki jabatan perdana menteri, posisi yang ditinggalkannya pada 2017. (*)
PREVIOUS ARTICLE
Dua Uskup Katolik AS Kecewa, Doa Bersama Trump Jadi Alat Politik













































