Dua Uskup Katolik AS Kecewa, Doa Bersama Trump Jadi Alat Politik

Uskup Agung Denver James Golka berdoa bersama Presiden Donald Trump, didampingi para uskup lainnya, di Gedung Putih pada 22 Oktober 2026. (foto: arsip Gedung Putih via ewtnnews.com)
Washington, MISTAR.ID - Dua pemimpin Gereja Katolik di Amerika Serikat (AS) menyampaikan penyesalan setelah momen doa bersama Presiden Donald Trump di Gedung Putih dipublikasikan dan dinilai dimanfaatkan untuk kepentingan politik menjelang pemilu nasional.
Dilansir Associated Press (AP) Uskup Agung Milwaukee, Jeffrey Grob, bahkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka pada Minggu (25/10/2026). Ia menyesalkan foto dan video pertemuan yang berlangsung pada Kamis tersebut disebarluaskan Gedung Putih, meski para peserta memahami acara itu sebagai diskusi privat.
Dalam pernyataan berjudul A Public Apology, Grob mengatakan dirinya menerima banyak tanggapan dari masyarakat, termasuk mereka yang merasa terluka karena kehadirannya dalam pertemuan tersebut dapat dianggap sebagai dukungan terhadap Trump dan kebijakannya.
“Saya merasakan kesedihan mendalam, bukan hanya atas rasa sakit yang saya timbulkan, tetapi juga karena sesuatu yang begitu sakral bagi sekelompok pemimpin agama, yakni doa kepada Bapa Surgawi, dimanipulasi dengan cara seperti itu,” kata Grob.
Menurut Grob, pertemuan tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk dukungan terhadap presiden, kebijakannya, ataupun Partai Republik.
“Kami diberi tahu bahwa pertemuan itu merupakan diskusi privat, bahwa beberapa anggota kabinet yang beragama Katolik mungkin akan hadir, dan bahwa ada kemungkinan untuk berdoa secara privat bersama presiden,” tulisnya.
Grob menjelaskan, dirinya bersama 11 uskup lainnya menghadiri pertemuan setelah menerima undangan Gedung Putih pada September. Agenda yang ditawarkan mencakup pembahasan penegakan imigrasi, visa pekerja keagamaan, aborsi, serta kredit pajak federal untuk mendukung pendidikan swasta.
Namun, tak lama setelah pertemuan berlangsung, Gedung Putih mengunggah foto dan video kegiatan tersebut.
“Tidak lama setelah itu, Gedung Putih mengunggah video dan foto doa tersebut,” ujar Grob.
Ia mengaku menerima pesan dari masyarakat yang khawatir dirinya tanpa sengaja telah terlibat dalam kegiatan politik menjelang pemilu nasional. Ia juga mendengar keluhan dari orang-orang yang merasa terluka oleh dampak kebijakan Trump terhadap diri mereka maupun keluarga mereka.
Grob mengakui sebenarnya ia sempat ragu untuk menghadiri pertemuan tersebut.
“Saya datang dengan sejumlah keraguan. Saya berharap telah mengindahkannya,” tulisnya.
Ia kemudian menyampaikan permintaan maaf atas dampak yang ditimbulkan oleh keputusannya menghadiri pertemuan itu.
“Saya meminta maaf atas segala dampak buruk yang ditimbulkan oleh tindakan saya,” ujarnya.
Penyesalan serupa disampaikan Uskup Des Moines, Iowa, William Joensen. Ia mengakui seharusnya lebih berhati-hati agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik partisan.
“Saya berharap bisa lebih cerdik dan tidak terlalu polos, seperti mereka yang mengeksploitasi pertemuan kami untuk tujuan politik partisan,” tulis Joensen.
Meski demikian, Joensen menegaskan tetap terbuka untuk berdialog dan berdoa bersama para pemimpin politik di berbagai tingkatan. Ia berharap dapat bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi pertemuan serupa pada masa mendatang.
Sementara itu, Gedung Putih tidak menjawab secara langsung ketika ditanya apakah telah memperoleh persetujuan para uskup untuk merilis foto dan video tersebut.
Juru bicara Gedung Putih, Taylor Rogers, justru menyatakan Trump merupakan presiden yang paling berpihak kepada umat Katolik Amerika, seraya merujuk pada rekam jejak pemerintahannya. (*)














































