Tiga ABK KM Pulau Samosir Tewas, Kapal Diduga Berlayar Tanpa Laporan Izin

Korban tewas di dalam KM Pulau samosir saat akan dievakuasi ke rumah sakit. (foto: kamaluddin/mistar)
Medan, MISTAR.ID - Status operasional KM Pulau Samosir menjadi sorotan setelah tiga anak buah kapal (ABK) ditemukan tewas di dalam palka saat kapal beraktivitas di perairan Pangkalan Brandan, Kabupaten Langkat, Senin (31/8/2026).
Pihak Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB) menyebut, berdasarkan data yang mereka miliki, keberangkatan KM Pulau Samosir tidak tercatat dalam laporan izin keberangkatan kapal.
Pejabat Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap pada PPSB, Samuel Pakpahan, mengatakan pihaknya telah memanggil nakhoda dan pemilik kapal untuk dimintai klarifikasi terkait kejadian tersebut. Namun, hingga Senin (7/9/2026), keduanya belum memenuhi panggilan.
“Kami sudah memanggil nakhoda dan pemilik kapal, tetapi sampai saat ini belum memenuhi panggilan dengan alasan sedang memenuhi kepentingan pihak lain dalam kasus ini,” ujar Samuel saat ditemui di ruang kerjanya, Senin sore.
Menurut Samuel, pihaknya akan kembali melayangkan panggilan untuk meminta klarifikasi terkait keberadaan kapal dan kejadian yang menyebabkan tiga ABK meninggal dunia tersebut.
Ia mengatakan, berdasarkan data yang dimiliki PPSB, tidak terdapat laporan mengenai izin dan keberangkatan KM Pulau Samosir. “Data yang ada pada kami, laporan izin dan keberangkatan kapal tidak mereka laporkan. Berarti mereka berangkat tanpa surat izin,” katanya.
Samuel bahkan menyebut pihaknya menduga KM Pulau Samosir sebagai kapal “siluman” karena tidak tercatat dalam laporan keberangkatan yang diterima pihak PPSB.
Meski demikian, pihak PPSB masih akan melakukan klarifikasi dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan status serta legalitas operasional kapal tersebut. “Untuk penyelidikan lebih lanjut, kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Sebelumnya, tiga ABK KM Pulau Samosir, yakni Garto, Mamat dan Iwan, ditemukan meninggal dunia setelah diduga mengalami keracunan saat membersihkan palka kapal. Peristiwa bermula ketika kapal sedang beraktivitas di perairan Pangkalan Brandan. Saat membersihkan palka, Garto tiba-tiba terjatuh dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Melihat kejadian tersebut, Mamat berusaha memberikan pertolongan. Namun, ia mengalami kondisi serupa. ABK lainnya, Iwan, kemudian juga terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Nakhoda kapal, Yusri M, kemudian memerintahkan ABK lainnya menjauh dari lokasi untuk mencegah bertambahnya korban. Kapal selanjutnya berbalik arah menuju Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan guna melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.
Sementara itu, Ditpolairud Polda Sumatera Utara masih melakukan penyelidikan terkait kematian ketiga ABK tersebut. Penyidik pembantu Ditpolairud Polda Sumut, Aipda M Sianturi, mengatakan hingga saat ini belum ada tersangka yang ditetapkan dalam kasus tersebut.
“Kasus ini masih dalam proses penyelidikan dan belum ada penetapan tersangka karena belum ditemukan adanya unsur pidana,” katanya saat dikonfirmasi awak media.
Terkait belum dipasangnya garis polisi (police line) di kapal, M Sianturi mengatakan hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan penyelidikan. “Dalam hal ini disesuaikan dengan kebutuhan penyelidikan,” tuturnya.





































