Monday, September 7, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Setelah “Minyak Kita”, 20 Oktober Bulog Luncurkan "Beras Kita"

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 19.03 WIB
setelah_minyak_kita_20_oktober_bulog_luncurkan_beras_kita_

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memperlihatkan produk beras kemasan bermerek Beras Kita Premium dan Beras Kita Medium.(Foto: Majalahhortus.com)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID (7/9/2026) – Perum Bulog akan mengganti nama dan kemasan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan menjadi "Beras Kita Medium". Peluncuran dijadwalkan pada 20 Oktober 2026.

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut tanggal itu dipilih bertepatan dengan memasuki tahun ketiga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Peluncuran rencananya tanggal 20 Oktober. Bertepatan dengan tahun ketiga pemerintahan Bapak Presiden Prabowo Subianto," kata Rizal di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).

Rizal menjelaskan kemasan lama SPHP akan diganti dengan desain baru bertuliskan "Beras Kita Medium". Label "SPHP" atau "Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan" tetap dicantumkan di bagian bawah kemasan dengan ukuran lebih kecil.

Penamaan "Beras Kita" mengikuti produk pemerintah lain seperti "Minyakita" dan "Gula Manis Kita".

Singkatan "Kita" merujuk pada "Keluarga Indonesia Sejahtera".

Perubahan ini bertujuan agar produk Bulog lebih kompetitif di pasar. Selain tampilan, Bulog juga akan meningkatkan mutu beras yang dijual.

"Kami ubah kemasan agar lebih menarik dan bisa bersaing dengan swasta. Sekaligus kami jaga dan tingkatkan mutu isi berasnya," ujar Rizal.

Untuk segmen premium, Bulog akan menyatukan merek menjadi "Beras Kita Premium". Produk yang sebelumnya memakai merek "Befood" dan "Punakawan" akan dialihkan ke merek tersebut.

"Beras Kita Medium" tetap mendapat subsidi pemerintah. Sementara "Beras Kita Premium" tidak disubsidi karena diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak membutuhkan bantuan.

Selain rebranding, Bulog menyiapkan kebijakan hilirisasi. Sebanyak 380 ribu ton stok beras yang mutunya menurun akan diolah menjadi tepung beras.

Kebijakan ini muncul karena industri masih mengimpor tepung beras, padahal Bulog memiliki stok lama yang bisa dimanfaatkan.

"Lelang akan dilakukan di KPKNL. Harga minimal ditetapkan Rp11.000 per kilogram. Pemenang lelang bisa mengolahnya menjadi tepung beras," jelas Rizal.

Bulog juga mendapat tugas menyalurkan 150 ribu ton jagung melalui skema SPHP untuk peternak rakyat. Kebijakan ini untuk menstabilkan harga pakan seiring program Makan Bergizi Gratis.

Jagung SPHP ditargetkan dijual sekitar Rp5.000 per kilogram dan diprioritaskan untuk peternak kecil dan menengah, bukan perusahaan besar.

"Stoknya sudah tersedia di gudang Bulog. Mudah-mudahan bisa membantu peternak yang kesulitan mendapatkan jagung harga terjangkau," kata Rizal.(CNN/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN