Dua Bendung Rusak, Petani Ujung Padang Rogoh Rp120 Ribu Sekali Mengairi Sawah

Kepala BPBD Simalungun saat melakukan peninjauan pada bendung yang rusak akibat banjir di Kecamatan Ujung Padang. (Foto: BPBD Simalungun/Mistar)
Simalungun, MISTAR.ID - Banjir tak hanya merusak bangunan pengairan di Kecamatan Ujung Padang, Kabupaten Simalungun. Dampaknya kini mulai dirasakan petani yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengairi sawah.
Dua bendung di Nagori Sei Merbau mengalami kerusakan, yakni Bendung Tanjung Marihat dan Bendung Kampung Baru Hilir. Keduanya selama ini menjadi sumber air bagi sedikitnya 151,6 hektare lahan pertanian.
Bendung Tanjung Marihat melayani irigasi sekitar 66 hektare persawahan. Sementara Bendung Kampung Baru Hilir mengaliri sekitar 85,6 hektare areal pertanian.
Akibat kerusakan tersebut, petani yang biasanya mengandalkan aliran irigasi kini terpaksa menggunakan mesin pompa air. Cara itu tentu membutuhkan biaya tambahan.
Salah seorang perwakilan petani, Muda Bakkara, mengatakan penggunaan pompa cukup membebani petani, terutama karena biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan setiap kali mengairi atau mengolah lahan.
"Untuk lahan sekitar 2.400 meter persegi saja, kami harus mengeluarkan biaya Pertalite sekitar Rp120.000 setiap kali pengairan atau pengolahan tanah," kata Muda, Senin (7/9/2026).
Menurutnya, kondisi itu menjadi beban baru bagi petani. Mereka berharap kedua bendung yang rusak segera diperbaiki agar sawah kembali mendapatkan pasokan air seperti semula.
"Kami berharap kedua bendung ini segera diperbaiki supaya kami bisa kembali mengelola lahan dengan tenang dan biaya yang lebih hemat," ujarnya.
Kepala BPBD Simalungun, Budiman Silalahi, telah turun langsung meninjau kondisi dua bangunan pengairan tersebut. Peninjauan dilakukan untuk melihat tingkat kerusakan sekaligus dampaknya terhadap lahan pertanian dan masyarakat.
Budiman mengatakan hasil pemeriksaan di lapangan akan menjadi dasar untuk berkoordinasi dengan instansi terkait dalam menentukan langkah penanganan.
Menurut dia, keberadaan infrastruktur irigasi sangat penting bagi petani dan produktivitas pertanian.
"Infrastruktur irigasi merupakan penopang utama produktivitas pertanian dan kunci terwujudnya ketahanan pangan yang kokoh bagi kita semua, khususnya wilayah Simalungun," ujar Budiman.
Kerusakan kedua bendung dikhawatirkan mengganggu pasokan air ke persawahan. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat menghambat pengolahan lahan hingga berpotensi memengaruhi hasil panen petani di Kecamatan Ujung Padang.
Pemerintah Kabupaten Simalungun, kata Budiman, menegaskan komitmennya untuk segera merespons dan menindaklanjuti permasalahan ini.
"Untuk memulihkan fungsi irigasi, menjamin kelancaran aliran air ke areal persawahan, serta memastikan kegiatan pertanian masyarakat dapat berjalan kembali dengan lancar dan berkelanjutan," ujarnya. (hm25)





































