Wednesday, October 28, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Rupiah Melemah ke Rp 18.184 per Dolar AS, IHSG Tertekan dan Investor Diminta Waspada

Mistar.idRabu, 28 Oktober 2026 pukul 16.27 WIB
rupiah_melemah_ke_rp_18184_per_dolar_as_ihsg_tertekan_dan_investor_diminta_waspada

Ilustrasi Rupiah melemah (Foto: Istimewa/Mistar)


Saham yang Berpotensi Tertekan akibat Rupiah Melemah

Hendry mengidentifikasi beberapa kelompok saham yang perlu dicermati investor ketika rupiah mengalami tekanan.

Pertama, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan biaya impor dapat menggerus margin keuntungan, terutama apabila perusahaan kesulitan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Sektor farmasi, misalnya, masih mengandalkan bahan baku impor sekitar 85%–95%. Industri otomotif juga menghadapi ketergantungan pada sejumlah komponen dari luar negeri.

Kedua, emiten dengan utang dolar AS tanpa lindung nilai atau hedging. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan nilai kewajiban dalam mata uang lokal. Sebagai gambaran, setiap pelemahan Rp 1.000 per dolar AS akan menambah nilai rupiah dari utang sebesar US$ 1 miliar sekitar Rp 1 triliun, dengan asumsi nilai utang dolar tetap.

Ketiga, saham berkapitalisasi besar yang menjadi sasaran penjualan investor asing, termasuk sembilan konstituen MSCI Global Standard yang disebut Hendry. Tekanan terhadap saham-saham tersebut dapat dipicu oleh arus dana keluar, meskipun kondisi fundamental perusahaan belum tentu memburuk.

Sebaliknya, perusahaan eksportir komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan logam dasar relatif berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah. Pendapatan mereka banyak berasal dari dolar AS, sedangkan sebagian biaya operasional dibayarkan dalam rupiah. Meski demikian, dampaknya tetap bergantung pada harga komoditas, struktur biaya, dan kondisi bisnis masing-masing perusahaan.

Strategi Investor Menghadapi Tekanan Pasar

Menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, Hendry mengingatkan investor agar tidak panik, tetapi juga tidak terburu-buru membeli saham hanya karena harganya telah turun.

Menurutnya, valuasi saham yang terlihat murah belum tentu menjadi sinyal bahwa waktu terbaik untuk membeli telah tiba. Peluang akumulasi dinilai lebih menarik ketika tekanan terhadap rupiah, pasar obligasi, dan arus keluar modal mulai mereda.

Investor yang ingin menambah kepemilikan saham disarankan melakukannya secara bertahap, bukan mengalokasikan seluruh dana sekaligus.

Selain itu, investor perlu menelaah laporan keuangan kuartal III 2026, terutama porsi utang dalam dolar AS, kebijakan lindung nilai, serta potensi kerugian akibat perubahan kurs. Langkah ini penting untuk membedakan saham yang turun karena tekanan aliran dana dengan saham yang melemah akibat penurunan kinerja fundamental.

Hendry juga menyarankan investor mengutamakan perusahaan dengan neraca keuangan yang kuat, tingkat utang rendah, arus kas stabil, serta kemampuan menyesuaikan harga jual tanpa kehilangan banyak pelanggan.

Diversifikasi portofolio turut menjadi perhatian. Saham perusahaan yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS dapat dipertimbangkan sebagai penyeimbang alami ketika rupiah melemah, dengan tetap memperhatikan risiko bisnis dan harga komoditas.

Terakhir, investor disarankan memantau lima indikator utama, yakni pergerakan rupiah, data arus dana asing harian (net foreign flow), yield SBN tenor 10 tahun, hasil keputusan suku bunga The Fed, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia menjelang keputusan MSCI.

Perkembangan kelima indikator tersebut dapat membantu investor menilai apakah tekanan pasar masih berlanjut atau mulai mereda sebelum mengambil keputusan investasi.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN