Produksi Anjlok, RI Kehilangan 1,59 Juta Ton Beras Tahun Ini

Ilustrasi produksi beras anjlok 1,59 juta ton. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)
Jakarta, MISTAR.ID (2/11/2026) — Produksi beras nasional tahun 2026 diprediksi mengalami koreksi. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan total produksi Januari hingga Desember hanya sebesar 33,11 juta ton, menyusut 1,59 juta ton dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan penurunan tersebut setara 4,57 persen secara tahunan.
"Produksi beras periode Januari-Desember 2026 diperkirakan 33,11 juta ton, turun 1,59 juta ton atau 4,57 persen dibandingkan Januari-Desember 2025," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta dilansir detikcom, Senin (2/11/2026).
Tren penurunan juga terjadi pada komoditas padi. BPS mencatat proyeksi produksi gabah kering giling (GKG) sepanjang tahun ini sebesar 57,45 juta ton, atau berkurang 2,75 juta ton dibandingkan tahun lalu.
"Untuk padi Januari-Desember 2026, produksinya diperkirakan 57,45 juta ton GKG, turun 4,57 persen year on year," jelasnya.
Ateng menilai, anjloknya produksi padi dan beras dipengaruhi oleh berkurangnya luas panen secara nasional. Total luas panen padi pada 2026 diproyeksikan mencapai 10,78 juta hektare, atau turun 4,80 persen dibandingkan 2025.
Data Kerangka Sampel Area (KSA) per September 2026 menunjukkan luas panen hanya 0,91 juta hektare, anjlok 19,40 persen dibandingkan September tahun lalu yang sebesar 1,13 juta hektare.
Secara kumulatif, luas panen Januari-September 2026 tercatat 9,24 juta hektare, turun 2,23 persen year on year. Sedangkan untuk periode Oktober-Desember 2026, luas panen diperkirakan hanya 1,54 juta hektare, atau merosot 17,75 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Menurut Ateng, angka proyeksi tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah tergantung dinamika di lapangan pada kuartal akhir tahun.
"Potensi angka masih bisa berubah, tergantung kondisi pertanaman Oktober-Desember 2026, seperti serangan OPT, banjir, kekeringan, hingga perubahan jadwal panen petani dan faktor lainnya," pungkasnya. (hm02)










































