Monday, November 2, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Inflasi Sumut Naik Jadi 3,19 Persen, Pasokan Pangan Aman Jelang Nataru

Mistar.idSenin, 2 November 2026 pukul 15.06 WIB
inflasi_sumut_naik_jadi_319_persen_pasokan_pangan_aman_jelang_nataru_

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra. (Foto: amita/mistar)

Medan, MISTAR.ID (2/11/2026) — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) pada Oktober 2026 naik menjadi 3,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 114,43. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 2,71 persen.

Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan pengendalian inflasi daerah menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru (Nataru) masih terkendali.

Sementara itu, inflasi bulanan atau month to month (mtm) pada Oktober 2026 tercatat 0,27 persen, naik dari 0,14 persen. Adapun inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 1,94 persen.

"Upaya pengendalian inflasi Sumatera Utara terkendali, walaupun sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang saat itu di 2,71 persen secara tahunan," kata Asim, Senin (2/11/2026).

Kenaikan inflasi tahunan dipicu peningkatan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,49 persen, pakaian dan alas kaki 2,53 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,77 persen.

Kenaikan lain terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,34 persen, kesehatan 1,19 persen, transportasi 4,56 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 3,43 persen.

Kemudian, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 0,89 persen, pendidikan 1,23 persen, penyediaan makanan dan minuman atau restoran 3,35 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 3,35 persen.

Komoditas penyumbang inflasi tahunan pada Oktober 2026, yakni cabai rawit dengan andil 0,38 persen, bensin 0,21 persen, beras 0,20 persen, tomat 0,19 persen, dan emas perhiasan 0,14 persen.

Untuk komoditas penyumbang deflasi tahunan, yaitu cabai merah 0,24 persen, bawang merah 0,15 persen, kentang 0,07 persen, wortel 0,04 persen, dan bawang putih 0,02 persen.

Sementara komoditas pemberi andil inflasi bulanan adalah cabai merah 0,25 persen, cabai rawit 0,09 persen, tomat 0,07 persen, bayam dan angkutan udara masing-masing 0,03 persen. Komoditas penyumbang deflasi bulanan, yakni daging ayam ras 0,23 persen, ikan kembung 0,03 persen, serta kentang, bawang merah, dan beras masing-masing 0,02 persen.

Menanggapi harga beras yang sempat tinggi tetapi menjadi penyumbang deflasi bulanan, Asim menyebut hal itu dipicu produksi padi yang baik karena panen raya pada September lalu.

Meski demikian, kenaikan harga masih terjadi khususnya untuk beras premium akibat tingginya permintaan dari luar provinsi.

"Pada September lalu, produksi padi relatif sangat baik. Kita panen raya dan beberapa harga yang medium sudah terjangkau. Kita mengalami kendala pada komoditas beras premium karena besarnya permintaan mengalir dari provinsi lain. Kita jadi daerah pengirim beberapa komoditas strategis, termasuk ke Aceh dan Riau. Jadi harus berbagi dengan daerah sekitar kita," ucapnya.

BPS mencatat, peningkatan produksi jagung di Sumatera Utara berdampak positif bagi sektor peternakan ayam ras, terutama untuk ketersediaan pangan protein agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berlanjut.

Seluruh kabupaten/kota ber-IHK di Sumatera Utara pada Oktober 2026 secara serentak mengalami inflasi yoy, tertinggi di Kota Gunungsitoli sebesar 4,92 persen dengan IHK 117,06 dan terendah di Kota Medan sebesar 2,84 persen dengan IHK 113,03.(hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN