Monday, November 2, 2026
home_banner_first
SAINS & TEKNOLOGI

Mobil Otonom Kian Nyata! Robotaxi Mengaspal di AS dan China, Kapan Indonesia Menyusul?

Mistar.idSenin, 2 November 2026 pukul 15.06 WIB
mobil_otonom_kian_nyata_robotaxi_mengaspal_di_as_dan_china_kapan_indonesia_menyusul

Mobil Otonom Kian Nyata! Robotaxi Mengaspal di AS dan China, Kapan Indonesia Menyusul? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (2/11/2026) — Bayangkan memesan taksi melalui ponsel, kemudian sebuah mobil datang menjemput tanpa sopir di balik kemudi. Penumpang tinggal masuk, menentukan tujuan, dan menikmati perjalanan. Skenario yang dahulu hanya ditemukan dalam film fiksi ilmiah itu kini mulai menjadi kenyataan melalui teknologi mobil otonom atau self-driving car.

Amerika Serikat dan China telah mengembangkan layanan robotaxi yang memungkinkan kendaraan beroperasi tanpa pengemudi manusia di wilayah tertentu. Namun, di balik kemajuan kecerdasan buatan (AI) tersebut, masih terdapat tantangan besar, mulai dari keselamatan, regulasi, tanggung jawab hukum, hingga masa depan pekerjaan sopir.

Lantas, seberapa canggih teknologi mobil otonom saat ini? Kapan kendaraan tanpa sopir dapat digunakan secara luas, termasuk di Indonesia?

Robotaxi di Amerika dan China: Kendaraan Tanpa Sopir Mulai Beroperasi

Perkembangan mobil otonom semakin terlihat melalui persaingan perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan China.

Di Amerika, Waymo, perusahaan teknologi kendaraan otonom milik Alphabet, telah mengoperasikan layanan robotaxi di sejumlah kota, termasuk Phoenix, San Francisco, Los Angeles, Austin, dan Atlanta.

Menurut laporan Stanford AI Index 2026, hingga akhir 2025 Waymo mengoperasikan sekitar 2.500 robotaxi dan melayani sekitar 450.000 perjalanan setiap pekan. Angka ini memperlihatkan bahwa kendaraan tanpa sopir mulai berkembang dari proyek eksperimen menjadi layanan komersial.

Perusahaan Zoox juga mengembangkan robotaxi dengan desain khusus yang memungkinkan penumpang duduk saling berhadapan tanpa konfigurasi pengemudi konvensional.

Sementara itu, China tidak kalah agresif melalui Baidu dengan layanan Apollo Go. Laporan Stanford AI Index 2026 menyebutkan Apollo Go mencatat sekitar 11 juta perjalanan tanpa pengemudi sepanjang 2025, meningkat sekitar 175 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, perkembangan robotaxi tidak selalu berjalan mulus. Pada April 2026, pemerintah China dilaporkan menghentikan sementara penerbitan izin baru kendaraan otonom setelah puluhan robotaxi Apollo Go mengalami penghentian mendadak di Wuhan.

Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kecanggihan teknologi belum otomatis menjamin keselamatan dalam berbagai kondisi lalu lintas.

Seberapa Canggih Teknologi Mobil Otonom Saat Ini?

Mobil otonom mengandalkan kombinasi kamera, radar, sensor LiDAR, GPS, peta digital, komputer berperforma tinggi, dan kecerdasan buatan.

Kamera berfungsi mengenali marka jalan, lampu lalu lintas, rambu, kendaraan, dan pejalan kaki. Radar mengukur jarak serta kecepatan objek, sedangkan LiDAR menggunakan pantulan sinar laser untuk membangun gambaran tiga dimensi lingkungan sekitar kendaraan.

Seluruh informasi tersebut diproses AI untuk menentukan tindakan, seperti memperlambat kendaraan, berpindah jalur, berhenti, atau menghindari hambatan.

Namun, tidak semua mobil yang memiliki fitur bantuan mengemudi dapat disebut sepenuhnya otonom.

Standar SAE International membagi otomatisasi berkendara menjadi enam tingkatan, mulai Level 0 hingga Level 5.

Pada Level 1 dan 2, kendaraan hanya membantu pengemudi mengendalikan kemudi, akselerasi, atau pengereman. Pengemudi tetap harus mengawasi perjalanan.

Level 3 memungkinkan kendaraan mengambil alih tugas mengemudi dalam kondisi tertentu, tetapi manusia harus siap mengambil kendali ketika diminta.

Pada Level 4, kendaraan dapat beroperasi tanpa pengemudi dalam wilayah dan kondisi yang telah ditentukan. Sementara Level 5 merupakan tingkat otomatisasi penuh yang tidak memerlukan intervensi manusia dalam seluruh kondisi operasional yang dirancang.

Artinya, robotaxi yang saat ini beroperasi tanpa sopir umumnya menggunakan teknologi Level 4, bukan Level 5. Kendaraan yang sepenuhnya mampu mengemudi sendiri di semua kondisi jalan masih menjadi sasaran pengembangan.

Siapa Bertanggung Jawab Jika Mobil Otonom Mengalami Kecelakaan?

Di balik kemudahan kendaraan tanpa sopir, terdapat persoalan hukum yang tidak sederhana: siapa yang harus bertanggung jawab jika mobil otonom mengalami kecelakaan?

Dalam kendaraan konvensional, pengemudi biasanya menjadi salah satu pihak utama yang diperiksa. Namun, ketika kendaraan dikendalikan AI, penyebab kecelakaan bisa melibatkan berbagai unsur.

Produsen dapat dimintai pertanggungjawaban jika terdapat cacat kendaraan. Pengembang perangkat lunak dapat diperiksa apabila kesalahan sistem berkontribusi terhadap insiden. Operator robotaxi juga dapat bertanggung jawab jika terjadi kelalaian dalam pengawasan, pemeliharaan, atau pengelolaan armada.

Penentuan tanggung jawab harus mempertimbangkan bukti teknis, rekaman sensor, data perjalanan, kondisi kendaraan, serta peraturan yang berlaku.

Risiko tersebut bukan sekadar teori. Pada Januari 2026, sebuah kendaraan Waymo dilaporkan menabrak seorang pelajar berusia sembilan tahun di kawasan sekolah Santa Monica, California. Insiden tersebut menjadi perhatian dalam evaluasi keselamatan kendaraan otonom.

Kasus seperti ini mempertegas bahwa mobil tanpa sopir tetap memiliki risiko dan membutuhkan sistem investigasi serta pertanggungjawaban hukum yang jelas.

Apakah Sopir Manusia Akan Tergantikan?

Kemunculan robotaxi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan pengemudi taksi, transportasi daring, angkutan umum, hingga logistik.

Jika kendaraan otonom semakin murah dan mampu beroperasi sepanjang hari, perusahaan transportasi berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap tenaga pengemudi manusia.

Namun, hilangnya profesi sopir secara menyeluruh belum dapat dipastikan. Kendaraan otonom tetap membutuhkan tenaga manusia untuk pengawasan armada, pemeliharaan, penanganan keadaan darurat, pengelolaan pusat kendali, dan pengembangan teknologi.

Selain itu, jalan sempit, cuaca buruk, lalu lintas tidak teratur, serta perilaku pengguna jalan yang sulit diprediksi masih menjadi tantangan.

Karena itu, perubahan yang mungkin terjadi bukan hanya pengurangan pekerjaan, melainkan pergeseran kebutuhan tenaga kerja. Pengemudi perlu memiliki kesempatan mengikuti pelatihan ulang agar dapat beradaptasi dengan industri transportasi berbasis teknologi.

Singapura Mulai Bersiap, Bagaimana Peluang Indonesia?

Asia Tenggara mulai memasuki persaingan kendaraan otonom. Singapura menjadi salah satu negara yang paling aktif mempersiapkan penerapannya.

Pada September 2026, Waymo mengumumkan kerja sama dengan Kementerian Transportasi Singapura dan Land Transport Authority (LTA) untuk menghadirkan layanan robotaxi. Perusahaan tersebut menargetkan peluncuran layanan komersial tanpa pengemudi pada 2028.

Grab juga mengembangkan layanan kendaraan otonom di kawasan Punggol melalui rencana uji coba transportasi berdasarkan permintaan penumpang.

Langkah Singapura memperlihatkan bahwa penerapan robotaxi tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga regulasi, standar keselamatan, dan kesiapan infrastruktur.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia memiliki potensi pasar yang besar berkat jumlah penduduk, pertumbuhan kawasan perkotaan, perkembangan transportasi digital, dan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik.

Namun, karakteristik lalu lintas Indonesia menghadirkan tantangan tersendiri. Kendaraan otonom harus mampu mengenali sepeda motor yang bergerak di antara mobil, pejalan kaki yang menyeberang, kendaraan berhenti mendadak, jalan berlubang, hingga marka jalan yang tidak selalu jelas.

Karena itu, penerapan mobil otonom di Indonesia lebih realistis dimulai dari kawasan dengan lingkungan operasional terkendali.

Kawasan industri, bandara, pusat bisnis, kawasan pariwisata, dan lingkungan perumahan dapat menjadi lokasi awal pengujian kendaraan tanpa sopir.

Pendekatan bertahap tersebut memungkinkan pengujian teknologi, penyusunan standar keselamatan, dan evaluasi penerimaan masyarakat sebelum penggunaannya diperluas.

Lima Fakta Menarik tentang Mobil Otonom

Ada sejumlah hal menarik yang memperlihatkan betapa cepatnya teknologi kendaraan tanpa sopir berkembang.

Pertama, mobil otonom Level 4 dapat berjalan tanpa orang di kursi pengemudi selama berada dalam wilayah operasional yang telah ditentukan.

Kedua, layanan Apollo Go di China mencatat sekitar 11 juta perjalanan tanpa pengemudi sepanjang 2025.

Ketiga, sensor LiDAR memungkinkan kendaraan membangun gambaran tiga dimensi lingkungan menggunakan pantulan sinar laser.

Keempat, Zoox mengembangkan robotaxi dengan desain kabin khusus, termasuk tempat duduk yang saling berhadapan.

Kelima, Singapura menargetkan layanan robotaxi Waymo secara komersial pada 2028, membuka peluang ekspansi teknologi kendaraan otonom di Asia Tenggara.

Masa Depan Mobil Otonom Bukan Sekadar Menghilangkan Sopir

Perkembangan mobil otonom tidak hanya ditentukan oleh kemampuan kendaraan mengemudi sendiri. Keselamatan, kepercayaan masyarakat, kepastian hukum, dan dampak sosial justru menjadi faktor yang menentukan keberhasilan teknologi ini.

Kendaraan harus mampu menghadapi situasi tidak terduga, seperti anak kecil yang tiba-tiba berlari ke jalan, kendaraan darurat, atau pengendara yang melanggar aturan. Perusahaan juga harus dapat menjelaskan bagaimana sistem mengambil keputusan dan siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kecelakaan.

Di sisi lain, setiap negara memiliki kondisi infrastruktur dan karakteristik lalu lintas berbeda. Teknologi yang berhasil beroperasi di Amerika atau China belum tentu dapat langsung diterapkan di Indonesia tanpa penyesuaian.

Bagi Indonesia, peluang pengembangan kendaraan otonom tetap terbuka, tetapi harus disertai kesiapan regulasi, infrastruktur, pengawasan, dan perlindungan tenaga kerja.

Pada akhirnya, mobil tanpa sopir mungkin sudah mulai menjadi kenyataan di sejumlah negara. Namun, perjalanan menuju transportasi yang sepenuhnya otonom masih membutuhkan satu hal penting: kepercayaan manusia.

Sebab, masa depan transportasi bukan sekadar tentang kendaraan yang mampu berjalan tanpa pengemudi, melainkan bagaimana teknologi dapat menghadirkan perjalanan yang lebih aman, efisien, dan terjangkau bagi masyarakat.

(stanforduniversity/nhtsa/ntsb/cna/ministryoftransportsingapore/Bloomberg/unece/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN