Harga Tepung di Pematangsiantar Naik Tajam, Pelaku Usaha Kuliner di Siantar Tertekan

Aktivitas di Pasar Murah, Jalan Sisingamaraja, Kelurahan Bukit Sofa, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID - Kenaikan harga bahan pokok kembali membuat warga Kota Pematangsiantar, cemas. Sekarang, harga tepung berbagai jenis naik tajam di pasaran, bahkan ada yang mencapai Rp46.000 per kilogram.
Dari pantauan langsung di Pasar Murah Jalan Sisingamaraja, Kelurahan Bukit Sofa, Kecamatan Siantar Sitalasari, kenaikan ini terjadi pada hampir semua jenis tepung, bukan hanya satu varian saja. Hampir seluruh tepung mengalami perubahan harga dalam beberapa minggu terakhir.
Neneng, pedagang tepung di pasar itu, mengatakan dirinya sudah merasakan harga naik sejak sebulan terakhir.
"Harga tepung terigu yang dulu Rp8.000 sekarang menjadi Rp10.000 per kilogram. Tepung tapioka naik dari Rp12.000 ke Rp13.000, dan tepung kanji dari Rp10.000 menjadi Rp14.000 per kilogram," ujarnya saat ditemui, Sabtu (7/11/2026).
Kenaikan juga terjadi pada komoditas tepung lain. Harga tepung sagu naik dari Rp11.000 menjadi Rp12.000 per kilogram. Harga tepung beras naik dari Rp20.000 menjadi Rp22.000 per kilogram. Tepung maizena sekarang dijual Rp20.000 per kilogram, sebelumnya Rp18.000.
Kenaikan harga paling besar terjadi pada tepung ketan. Harganya naik tajam dari Rp36.000 menjadi Rp46.000 per kilogram. Tepung panir juga naik, dari Rp14.000 menjadi Rp16.000 per kilogram.
Neneng mengatakan, selain harga yang mahal, pedagang juga kesulitan karena pasokan dari distributor seret. Biasanya ia bisa menerima 2 sampai 3 kuintal dalam seminggu. Sekarang, jatah kiriman itu jauh berkurang.
"Sekarang biasanya kami hanya menerima kiriman 1 kuintal per minggu. Kami tidak tahu pasti penyebabnya. Sepertinya stok dari produsen memang turun banyak," katanya.
Karena harga naik tajam, penjualan di pedagang eceran turun banyak. Pembeli mulai mengurangi jumlah yang mereka beli.
Kenaikan harga tepung ini juga langsung dirasakan pelaku usaha kuliner kecil seperti Yanto. Penjual cilok keliling yang biasa mangkal di Jalan Rakutta Sembiring, Kecamatan Siantar Martoba, ini harus mencari cara supaya usahanya tetap berjalan meski biaya produksi makin berat.
Yanto harus mengeluarkan uang lebih banyak karena harga tepung kanji, bahan utama dagangannya, naik dari Rp10.000 jadi Rp14.000 per kilogram.
Meski biaya usaha naik, Yanto tetap tidak menaikkan harga ciloknya. Ia takut jika harga per porsi naik, pembeli pergi dan omzetnya turun.
“Harga naik pelan, lama-lama bikin kepala pusing. Kalau harga cilok dinaikkan, pelanggan bisa kabur. Jadi, ukurannya saya kecilkan sedikit saja. Yang penting masih dapat untung, meski tipis," ujarnya.










































