Harga Beras dan Minyak Goreng di Siantar Stabil, Cabai Merah Keriting Melonjak

Cabai merah yang dijual di pasar tradisional Kota Pematangsiantar. (Foto: Gideon/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Memasuki pekan pertama Desember 2025, pergerakan harga bahan pokok di sejumlah pasar tradisional Kota Pematangsiantar masih berada pada posisi stabil.
Hal ini dikatakan Direktur Utama Perusahaan Daerah PD Pasar Horas Jaya, Bolmen Silaen, namun lonjakan cukup tajam terjadi pada cabai merah keriting.
Sejak 1-4 Desember, tim pendata harga PDPHJ mencatat beras berada dalam kondisi paling stabil. Baik beras KKB, IR64 Medium, maupun beras SPHP Bulog tidak mengalami perubahan harga sedikit pun.
Beras KKB bertahan di angka Rp15.500 per kilogram, IR64 Medium tetap Rp14.600 per kilogram, dan beras SPHP Bulog terpantau setia di Rp12.600 per kilogram.
“Stok beras aman. Distribusi lancar, sehingga tidak ada tekanan yang membuat harga bergerak,” ujar Bolmen, Kamis (4/12/2025).
Ia menambahkan pedagang juga tidak mengeluhkan pasokan dari distributor maupun Bulog. Sementara itu, hingga empat hari terakhir, baik minyak goreng curah maupun kemasan tidak mengalami perubahan harga.
Minyak goreng curah konsisten pada angka Rp16.000 per liter, Minyakita juga bertahan di harga yang sama, sementara minyak goreng kemasan premium tetap Rp21.000 per liter.
Menurut Bolmen, kestabilan harga ini menunjukkan pasokan minyak goreng dari produsen dan distributor masih mencukupi kebutuhan harian masyarakat.
“Untuk minyak goreng, sejauh ini tidak ada gejolak. Ketersediaan terpantau aman di seluruh pasar,” katanya.
Namun berbeda dengan dua komoditas tersebut, cabai merah keriting justru menjadi perhatian utama karena mengalami kenaikan tajam. Pada 1-2 Desember, harga masih berada di posisi Rp63.000 per kilogram, sementara mulai 3 Desember, harga melonjak menjadi Rp73.000 per kilogram dan bertahan hingga hari ini.
Bolmen menjelaskan, lonjakan ini berkaitan dengan kondisi cuaca dan berkurangnya pasokan dari sejumlah sentra penghasil.
“Memasuki akhir tahun, faktor cuaca sering memengaruhi produksi. Pasokan menurun, sehingga harga naik. Ini pola yang berulang setiap tahun,” ucapnya. (hm25)



















