Erupsi Sinabung Lumpuhkan Ekonomi dan Pariwisata, Pengamat Desak Intervensi Pemerintah

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Sunarji Harahap. (Foto: Amita/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut), yang terjadi pada Senin (31/8/2026), mempengaruhi perekonomian dan pariwisata sekitar.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Sunarji Harahap, memaparkan sekitar 1.600 hingga 1.900 kepala keluarga di kawasan lereng Gunung Sinabung, khususnya daerah Siosar, kehilangan sumber mata pencaharian utama sebagai petani.
Sebab, abu vulkanik mencemari lahan pertanian hingga membuat tanaman seperti cabai dan sayuran mati. Selain itu, tanah untuk berkebun mengalami kerusakan.
"Erupsi vulkanik membuat proses perkebunan dan pertanian terhambat. Masyarakat tidak menghasilkan lagi. Ini menjadi masalah. Warga membutuhkan bantuan agar ekonomi di daerah tersebut bisa bangkit," katanya, Kamis (17/9/2026).
Selain sektor pertanian, pariwisata juga mengalami kelumpuhan total. Beberapa destinasi wisata ditutup, termasuk kawasan Danau Toba dan area sekitar Siosar karena pertimbangan keamanan dan ketakutan wisatawan.
Penutupan tersebut, menambah daftar penurunan pendapatan masyarakat lokal yang bergantung pada kunjungan wisatawan.
Sunarji meminta agar pemerintah daerah dan pusat memberikan intervensi secepatnya. Bantuan mendesak bukan hanya logistik jangka pendek, tapi juga subsidi penyediaan bibit, pupuk, hingga pembiayaan melalui skema koperasi agar dapat meringankan beban petani yang mengalami gagal panen akibat bencana.
"Harus ada dukungan maksimal dari pemerintah, peran daerah sangat penting untuk mengajukan pendanaan, baik dari proposal ke pemerintah pusat maupun pemanfaatan dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau CSR dari BUMN," ucapnya.
Jika erupsi terjadi dalam waktu lama, opsi relokasi penduduk ke 13 kecamatan lain di Kabupaten Karo juga perlu dipersiapkan secara matang.
"Masyarakat di pengungsian tetap waspada, gunakan masker untuk menghindari paparan abu vulkanik yang memicu penyakit pernapasan. Penting juga kepastian penanganan kebutuhan pangan agar krisis ekonomi tidak berlanjut," ujarnya.[]









































