Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Hari di Masa Depan Bisa Mencapai 25 Jam

Bulan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 cm per tahun akibat interaksi gravitasi. Proses ini alami dan tidak berdampak langsung pada kehidupan manusia. (Foto: Reuters/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID – Bulan ternyata terus bergerak menjauh dari Bumi dengan kecepatan rata-rata sekitar 3,8 sentimeter (cm) setiap tahun. Perubahan tersebut merupakan bagian dari interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan yang berlangsung secara perlahan dalam rentang waktu sangat panjang.
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, mengatakan Bumi dan Bulan terus mengalami interaksi gravitasi. Proses tersebut tidak hanya memengaruhi orbit Bulan, tetapi juga berkaitan dengan perubahan kecepatan rotasi Bumi.
Menurut Thomas, jarak rata-rata Bumi dan Bulan saat ini sekitar 384.000 kilometer (km). Dari jarak tersebut, Bulan secara perlahan bertambah jauh sekitar 3,8 cm setiap tahunnya.
“Gravitasi bumi menyebabkan efek gaya pasang surut pada bulan yang menyebabkan rotasi bulan diperlambat dan akhirnya terkunci pada periode 27,3 hari, sama dengan periode revolusinya,” kata Thomas dalam keterangan di kanal YouTube miliknya dilansir, Kamis (17/9/2026).
Selain memengaruhi Bulan, gaya gravitasi juga menimbulkan efek pasang surut di Bumi. Proses ini secara perlahan mengurangi kecepatan rotasi Bumi sehingga durasi satu hari bertambah.
Thomas memperkirakan dalam kurun sekitar 200 juta tahun, perlambatan tersebut dapat membuat panjang satu hari bertambah hingga satu jam. “Dalam 200 juta tahun diperkirakan rotasi Bumi diperlambat 1 jam, panjang hari di bumi menjadi 25 jam,” ujarnya.
“Interaksi Bumi dan Bulan tersebut yang menyebabkan Bulan menjauhi Bumi walau dampaknya baru terasa setelah ratusan juta tahun,” katanya.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan posisi Bulan terhadap Bumi tidak selalu berada pada jarak yang sama. Hal tersebut berkaitan dengan bentuk orbit Bulan yang berbentuk elips.
“Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan terhadap Bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan,” ucap Sonni, melansir laman resmi IPB.
Dengan orbit tersebut, Bulan memiliki titik ketika berada paling dekat dengan Bumi yang disebut perigee. Sebaliknya, posisi ketika Bulan berada paling jauh dari Bumi disebut apogee.
Perubahan jarak tersebut terjadi dalam setiap periode revolusi Bulan. Namun, berbeda dengan perubahan posisi dalam satu orbit, jarak rata-rata Bumi dan Bulan juga mengalami peningkatan secara perlahan dalam jangka panjang.
Fenomena tersebut berkaitan erat dengan gaya pasang surut. Gravitasi Bulan menarik massa air laut di Bumi sehingga menimbulkan pasang surut. Karena Bumi berotasi lebih cepat dibandingkan Bulan mengorbit Bumi, tonjolan pasang tersebut sedikit bergeser ke depan relatif terhadap posisi Bulan.
Kondisi itu membuat sebagian energi rotasi Bumi berpindah melalui interaksi pasang surut ke sistem orbit Bulan. Akibat transfer momentum sudut tersebut, rotasi Bumi perlahan melambat, sementara orbit Bulan secara bertahap melebar.
Dengan demikian, Bulan bergerak semakin jauh dari Bumi dengan laju rata-rata sekitar 3,8 cm per tahun. Sonni menyebut proses tersebut merupakan fenomena alamiah yang berlangsung sangat lambat sehingga tidak perlu dikhawatirkan dalam kehidupan sehari-hari.
PREVIOUS ARTICLE
Mau Beli MacBook Bekas di 2026? Ini yang Perlu Dicek






































