Thursday, September 10, 2026
home_banner_first
SUMUT

Jejak Kaki Kucing Besar Ditemukan di Humbahas, BBKSDA Turunkan Tim

Mistar.idKamis, 10 September 2026 pukul 20.53 WIB
jejak_kaki_kucing_besar_ditemukan_di_humbahas_bbksda_turunkan_tim

Jejak kaki kucing besar yang ditemukan di Humbahas. (Foto: BBKSDA Sumut/Mistar)

news_banner

Humbahas, MISTAR.ID – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut) menemukan jejak kaki dari famili felidae atau kucing besar di areal perladangan warga Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Jejak tersebut ditemukan saat petugas melakukan penelusuran di Desa Tukka, Kecamatan Pakkat, pada Sabtu (5/9/2026). Ukurannya sekitar 13 sentimeter dan menjadi indikasi adanya aktivitas satwa liar dari famili Felidae di kawasan tersebut.

Temuan itu ditindaklanjuti BBKSDA Sumut dengan menerjunkan tim gabungan melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV bersama Center for Orangutan Protection (COP).

Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumut, Andar Abdi Saragih, mengatakan penelusuran dilakukan setelah adanya laporan terkait dugaan interaksi antara manusia dan satwa liar di wilayah tersebut pada awal September 2026.

Laporan itu berkaitan dengan ternak warga di Dusun Huta Torop yang diduga menjadi mangsa satwa liar yang diduga Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae).

Saat melakukan penelusuran dua hari kemudian, petugas juga menemukan bangkai seekor anak sapi di areal perladangan.

“Sebelumnya ada lima ekor sapi yang berada di lokasi itu. Dua induk dan tiga anak sapi. Seekor anak sapi kemudian diduga diterkam oleh satwa liar,” kata Andar dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026).

Untuk memastikan keberadaan satwa yang dilindungi tersebut, petugas memasang dua unit kamera jebak (camera trap) serta menerbangkan pemantau drone di sekitar kawasan Areal Penggunaan Lainnya (APL) yang berjarak 300 meter dari Hutan Lindung Sibauminyak.

Keesokan harinya, Minggu (6/9/2026), hasil pengecekan kamera I yang diletakkan di sekitar bangkai sapi hanya merekam aktivitas anjing yang memakan bangkai tersebut.

Sementara kamera II tidak menunjukkan adanya keberadaan satwa liar, dan berujung dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis.

“Pemantauan lewat kamera jebak ini akan dilanjutkan sampai tujuh hari ke depan,” tutur Andar.

Pihak BBKSDA juga melakukan mitigasi bersama pemerintah desa dan kecamatan, serta mengimbau masyarakat setempat agar memasukkan ternak ke wilayah permukiman sebelum sore hari guna mencegah hal serupa berulang.[]



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN