Dari Dana Pribadi ke Jalan Swadaya: Kisah Gapura yang Menerangi Brohol

Teks Foto: Acai Sembada bersama tokoh masyarakat saat meresmikan Gapura Jalan Swadaya. (Foto:Dok.Warga/Mistar.id)
Tebingtinggi, MISTAR.ID (18/8/2026) – Selasa sore (18/8/2026) di Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis, suasana berbeda. Warga Lingkungan III berkumpul di ujung Jalan Swadaya.
Bukan karena ada hajatan. Tapi karena sebuah gapura baru saja dipotong pitanya.Gapura sederhana itu kini berdiri gagah di pintu masuk.
Malamnya, lampu di atasnya menyala, menerangi jalan yang dulu gelap. Yang membangunnya bukan pemerintah.
Bukan juga donasi massal. Melainkan satu nama, Acai Sembada, atau Lim Kuang Cai, pemilik Sembada Peduli Kasih.
"Orang sekarang sudah tahu di mana Jalan Swadaya. Dulu bingung. Sekarang ada tandanya," kata Sarmin, tokoh masyarakat Brohol, sambil menunjuk gapura.
Ia mewakili warga mengucapkan terima kasih. Karena gapura itu lahir dari kantong pribadi Acai.Tanpa proposal, tanpa menunggu bantuan.
Bagi warga Brohol dan Pinang Mancung, nama Acai memang sudah tidak asing.
Ustadz Kabul yang hadir dalam peresmian, menghitung dengan jarinya, gapura, jembatan, masjid, perbaikan jalan, lampu jalan, sumbangan untuk anak yatim dan dhuafa, sampai ambulans gratis.
"Semua itu sudah dilakukan beliau. Karena itu saya salut," ujar Ustadz Kabul.
Ini gapura kedua. Yang pertama ada di Lingkungan I, Brohol. Jaraknya tak jauh. Niatnya sama."Tidak Ada Niat Apa-apa".
Di tengah warga yang bersalaman, Acai berdiri sederhana. Saat ditanya, jawabannya datar tapi mantap."Pembangunan ini ikhlas dari hati nurani. Tanpa ada niatan apa pun," katanya.
Lalu muncul pertanyaan yang sering membayangi para dermawan, apa mau maju caleg? Mau ke DPRD Kota Tebingtinggi? Acai polos menggeleng.
"Tidak ada niatan sedikit pun. Tujuan saya hanya berbuat baik. Semua kegiatan sosial ini murni dana pribadi. Tidak ada sumbangan dari siapa-siapa," tegasnya.
Ia berharap apa yang ia beri jadi amal. Jadi keberkahan untuk dirinya dan keluarga.Gapura itu mungkin hanya beton dan lampu.
Tapi bagi warga Jalan Swadaya, ia adalah tanda, bahwa masih ada orang yang membangun bukan untuk dipuji, hanya karena ingin kampungnya lebih terang.(Damanik/hm02)
























