Tuesday, July 21, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Waisak di Pematangsiantar Hadirkan Refleksi Spiritual Lewat Ritual Pradaksina

Mistar.idMinggu, 17 Mei 2026 pukul 11.42 WIB
waisak_di_pematangsiantar_hadirkan_refleksi_spiritual_lewat_ritual_pradaksina

Pelepasan Ritual Pradaksina pada peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE di Vihara Samiddha Bhagya, Kota Pematangsiantar. (Foto: Istimewa/Mistar.id)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID

Perayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE di Kota Pematangsiantar tahun ini menghadirkan suasana refleksi spiritual kehidupan. Ritual Pradaksina digelar di Vihara Samiddha Bhagya, Sabtu (16/05/2026).

Ritual ini menjadi simbol bagaimana tradisi kuno Buddhis tetap relevan di era modern melalui pesan kesadaran, toleransi, dan kemanusiaan.

Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, secara resmi membuka ritual mengelilingi kota. Ribuan umat Buddha larut dalam suasana khidmat sambil membawa lilin yang memancarkan cahaya sepanjang rute Pradaksina. Cahaya dari lilin bukan sekadar penerang, tetapi perlambang kebajikan yang terus menyala di tengah masyarakat yang majemuk.

Ia menegaskan, Waisak bukan hanya perayaan keagamaan umat Buddha saja, melainkan momentum untuk merawat nilai cinta kasih, pengendalian diri, kedamaian, dan toleransi sosial.

"Kegiatan Pradaksina malam ini bukan hanya simbol spiritual dan religius, tetapi juga menjadi wujud nyata harmoni antarumat beragama di Kota Pematangsiantar," ujarnya.

Di tengah meningkatnya tantangan sosial dan polarisasi di berbagai daerah, Pradaksina hadir sebagai penghubung yang menghubungkan ruang spiritual dengan kehidupan sosial di tengah masyarakat.

Ketua DPD Walubi Sumatera Utara, Brillian Moktar, menjelaskan inti ajaran Buddha terletak pada kesadaran batin. Bahkan menurutnya, setiap langkah dalam Pradaksina turut mengandung makna perenungan diri.

"Pradaksina bukan sekadar berjalan mengelilingi kota. Setiap langkah adalah kesadaran, setiap keheningan adalah refleksi," ucapnya.

Ia juga mengingatkan semangat Waisak 2570 BE sejalan dengan tema menjaga perdamaian dunia. Pesan itu dinilai penting di tengah dinamika global yang penuh konflik dan ketegangan sosial.

Sementara itu, Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun, Susanto, menyebut bahwa Waisak sebagai momen menumbuhkan empat nilai utama Buddhis. Cinta kasih, welas asih, simpati atas kebahagiaan orang lain, dan keseimbangan batin.

"Peristiwa suci Waisak bukan hanya peringatan historis, tetapi sumber inspirasi untuk menapaki jalan damai dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Menurut Susanto, tantangan zaman modern membuat nilai-nilai tersebut semakin penting untuk diterapkan, terutama bagi generasi muda Buddhis agar aktif membangun masyarakat yang toleran dan bermartabat.

Nuansa inovatif dalam perayaan tahun ini juga tampak dari penggunaan lilin elektrik oleh peserta Pradaksina. Ketua Panitia Erbin Chandra menjelaskan bahwa penggunaan lilin elektrik bukan mengurangi kesakralan, melainkan bentuk adaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan makna spiritualnya.

"Lilin melambangkan kebajikan yang menerangi siapa saja tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun golongan," katanya.

Ia menambahkan, Pradaksina bukan pawai atau euforia semata, melainkan ruang introspeksi atas pikiran, ucapan, dan tindakan selama setahun terakhir. Dari refleksi itulah umat diharapkan kembali membangun komitmen menjadi pribadi yang lebih baik. (hm20)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN