Friday, September 18, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Raminah Belum Pensiun Menari di Usia 92, Asa Rospita dan Marsekal Budi Lanjutkan Regenerasi Rayantara

Mistar.idJumat, 18 September 2026 pukul 19.19 WIB
raminah_belum_pensiun_menari_di_usia_92_asa_rospita_dan_marsekal_budi_lanjutkan_regenerasi_rayantara

Rospita Purba (istri Wakil Bupati Simalungun) mencoba menenun ulos Simalungun sambil dipandu maestro tenun ulos Nesly Simarmata. (foto: dok Sanggar Rayantara/Mistar)

news_banner

Simalungun, MISTAR.ID - Usianya sudah 92 tahun, tetapi Raminah Garingging belum berhenti menari.

Di Rumah Maestro Sanggar Budaya Rayantara, Jalan Siantar Timur No. 97, Pematangsiantar, Rabu (16/9/2026), maestro tari Simalungun itu tampil membawakan Gual Batara Guru dan Balang Sahua. Gerakannya masih luwes, diiringi Gual Gonrang pimpinan Fius Garingging.

Raminah menjadi gambaran bahwa usia tidak selalu menjadi batas untuk terus menghidupkan tradisi. Namun, di balik penampilan itu muncul pertanyaan lain: bagaimana seni dan budaya Simalungun tetap hidup ketika para pelakunya semakin menua, sementara regenerasi masih menjadi tantangan?

Pemandangan tersebut disaksikan Rospita Purba saat mengunjungi Sanggar Budaya Rayantara. Istri Wakil Bupati Simalungun itu datang bersama Tenaga Ahli Anggota DPR RI Horas Bonauli Manullang, M.M., Ketua Perempuan UMKM Masyarakat Agri Usaha Daerah (MARSADA) Simalungun Erny Frida Simanjuntak dan rombongan peduli budaya serta UMKM.

“Saya sangat kagum. Masih ada lansia yang tidak pernah mengenal kata pensiun dan memilih pengabdian seumur hidup bagi budaya,” kata Rospita.

Namun, keberadaan maestro seperti Raminah juga memperlihatkan pekerjaan besar yang masih harus dilakukan. Sebagian besar alat musik tradisional di sanggar diketahui telah lapuk dan tidak layak pakai.

Persoalan regenerasi bahkan terlihat lebih nyata di Rumah Tenun Hiou Simalungun (RTHS), Jalan TB Simatupang No. 80.

Penerus Tenun Mulai Langka

Maestro Tenun Simalungun Nesly Simarmata (58) mengaku belum memiliki penerus untuk motif sakral bulang sapari atau sulappei.

“Kurang peminat yang mau belajar. Di kampung saya, Nagori Tongah dekat Tiga Runggu, anak muda lebih memilih bekerja di ladang atau marombou. Memetik jeruk penghasilannya lebih pasti,” ujar Nesly.

Di sisi lain, tekanan pasar membuat Nesly beralih dari motif asli ke pola yang lebih sederhana. Pembeli, katanya, kerap menawar hiou tenun duduk dengan harga semurah katuktak.

Rospita pun mencoba langsung alat tenun gedogan. Dari pengalaman singkat itu, ia merasakan bahwa menenun bukan pekerjaan sederhana.

“Ternyata memang tidak mudah, perlu belajar khusus. Bertenun ini butuh ketenangan dan kesabaran. Ada makna dan nilai filosofis di setiap motifnya,” katanya.

Pimpinan Sanggar Rayantara, Sultan Saragih, mengatakan pihaknya bersama Kagama Siantar-Simalungun dan BBPVP Medan akan menggelar workshop tenun untuk menjaring partonun baru. Pelatihan digital marketing juga disiapkan agar tenun tradisi mendapat pasar yang layak.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya agar tradisi tidak hanya bertahan melalui para maestro yang telah lama mengabdikan diri, tetapi juga memiliki generasi penerus.

Harapan dari Regenerasi

Persoalan pelestarian budaya tersebut kemudian menjadi perhatian dalam pertemuan bersama Marsekal Pertama TNI (Purn) Budi Rajamanggala Purba, M.Sc., di Jalan MH Sitorus, Siantar Barat, Pematangsiantar.

Pertemuan yang dihadiri Erny Frida Simanjuntak dan pemuka masyarakat Jamansen Purba itu membahas pelestarian adat dan budaya sebagai bagian dari pembangunan Simalungun.

Seni, tor-tor, hiou dan tradisi, dibahas, harus terus dihidupkan sejalan dengan falsafah Habonaron Do Bona, yakni kebenaran, kejujuran dan kebijaksanaan.

Selain budaya, penguatan UMKM lokal seperti pengrajin tenun hiou dan kuliner turut menjadi perhatian. Revitalisasi Rumah Bolon Raja-Raja Simalungun sebagai pusat edukasi sejarah juga masuk dalam pembahasan.

Untuk Sanggar Rayantara, Horas Bona Manullang berkomitmen memfasilitasi bantuan melalui Kementerian Kebudayaan, termasuk tambahan alat tenun dan perbaikan ruang tenun outdoor di RTHS.

Sebagai tindak lanjut, Sanggar Rayantara diminta segera menginventarisasi kebutuhan alat musik tradisional yang sudah tidak layak digunakan.

Rospita menegaskan, pendampingan tersebut bukan kunjungan satu hari, melainkan gerakan bertahap untuk mengejar ketertinggalan Simalungun dalam pemajuan kebudayaan. (*)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN