Tuesday, July 28, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

PDI Perjuangan Siantar Gelar Refleksi Kudatuli, Tegaskan Komitmen Jaga Demokrasi

Mistar.idSelasa, 28 Juli 2026 pukul 08.12 WIB
pdi_perjuangan_siantar_gelar_refleksi_kudatuli_tegaskan_komitmen_jaga_demokrasi

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Pematangsiantar menggelar refleksi dan doa bersama untuk mengenang Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Kantor Sekretariat DPC PDI Perjuangan, Jalan Sisingamangaraja, Senin (27/7/2026). (Foto: Dokumentasi DPC PDI Perjuangan Siantar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Pematangsiantar menggelar refleksi dan doa bersama untuk mengenang Peristiwa 27 Juli 1996 atau Kudatuli di Kantor Sekretariat DPC PDI Perjuangan, Jalan Sisingamangaraja, Senin (27/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun Peristiwa Kudatuli yang dilaksanakan PDI Perjuangan di berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan terhadap para kader yang gugur dan mengalami kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Peristiwa Kudatuli merupakan salah satu catatan penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Konflik internal yang terjadi saat itu mengakibatkan sedikitnya lima orang meninggal dunia, 149 orang mengalami luka-luka, dan 23 orang dinyatakan hilang hingga kini.

Refleksi di Pematangsiantar diikuti jajaran pengurus DPC, PAC, badan dan sayap partai, seluruh kader PDI Perjuangan se-Kota Pematangsiantar, serta Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Pematangsiantar. Dalam kegiatan itu, peserta diajak menelusuri kembali rangkaian Peristiwa Kudatuli sebagai bagian dari edukasi sejarah perjalanan demokrasi Indonesia menuju era reformasi.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pematangsiantar, Timbul Marganda Lingga, mengatakan refleksi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para kader yang telah berjuang memperjuangkan demokrasi di Indonesia.

"Peristiwa Kudatuli merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Sekaligus pengingat bahwa kebebasan tidak lahir dengan sendirinya, melainkan melalui perjuangan, keberanian, dan pengorbanan banyak anak bangsa," ujarnya.

Menurut Timbul, momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa demokrasi harus terus dijaga dengan keberanian, keteguhan, dan kesetiaan kepada rakyat.

"Semangat perjuangan itu harus terus hidup dalam sanubari kader PDI Perjuangan," katanya.

Ia juga mengajak seluruh kader untuk tidak melupakan sejarah perjuangan tersebut. Menurutnya, pernah ada masa ketika mengenakan atribut partai menjadi simbol keberanian. Banyak kader menghadapi tekanan, intimidasi, hingga pembungkaman karena mempertahankan keyakinan politik dan memperjuangkan demokrasi.

"Generasi hari ini dapat berorganisasi dan menyampaikan pendapat dengan lebih bebas. Namun, kebebasan itu merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak boleh dilupakan. Karena itu, sejarah Kudatuli harus terus menjadi pengingat agar nilai-nilai demokrasi tetap dijaga," ujarnya.

Timbul berharap pengalaman kelam tersebut tidak kembali terjadi di Indonesia.

"Harapan kita, jangan pernah lagi terjadi pembungkaman demokrasi terhadap siapa pun dan terhadap partai politik apa pun di Indonesia. Perbedaan pandangan adalah bagian dari demokrasi yang harus dihormati, bukan dibungkam. Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang memberikan ruang yang sama bagi seluruh warga negara untuk menyampaikan aspirasi dan mengabdi kepada bangsa," tegasnya.

Rangkaian kegiatan diisi dengan pemutaran kilas balik Peristiwa Kudatuli, refleksi sejarah, doa bersama, diskusi kebangsaan, serta makan malam bersama sebagai simbol persatuan dan soliditas kader.

Melalui kegiatan tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Pematangsiantar menegaskan komitmennya untuk terus menjaga semangat perjuangan para pendahulu, memperkuat demokrasi, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan keberpihakan kepada rakyat dalam setiap pengabdian. (hm25)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN