Thursday, July 30, 2026
home_banner_first
SIANTAR SIMALUNGUN

Harga Material Bangunan Terus Naik, Pengembang Perumahan di Pematangsiantar Mulai Terhimpit

Mistar.idKamis, 30 Juli 2026 pukul 15.58 WIB
harga_material_bangunan_terus_naik_pengembang_perumahan_di_pematangsiantar_mulai_terhimpit

Ilustrasi, Harga Material Bangunan Terus Naik, Pengembang Perumahan di Pematangsiantar Mulai Terhimpit. (foto:ferry/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (30/7/2026) – Gelombang kenaikan harga material bangunan benar-benar membuat para pengembang di Pematangsiantar kelabakan. Dalam beberapa tahun terakhir, harga material terus merangkak naik tanpa ada tanda-tanda akan turun. Akibatnya, industri perumahan di kota ini mulai terengah-engah dan banyak proyek terancam mandek di tengah jalan.

Ketua REI Pematangsiantar, Gabriel Karel Pandiangan, terus terang mengaku cemas. Harga semen, besi, seng, cat, batu bata, hingga pasir sudah naik kelewat batas. Biaya konstruksi melonjak tajam, sementara pengusaha seolah tak lagi memiliki ruang untuk bernapas.

Yang membuat keadaan semakin sulit, kata Gabriel, harga bahan bangunan bukan hanya naik, tetapi juga tidak memiliki pola yang jelas. "Sebagai pengusaha, kami makin bingung dengan kenaikan harga yang tidak konsisten ini. Bukan naik-turun, melainkan terus naik setiap minggu. Semen yang dulu sekitar Rp50.000 per sak, sekarang sudah tembus di angka Rp75.000 sampai Rp85.000," ujarnya kepada MISTAR.ID, Kamis (30/7/2026).

Di tengah kenaikan harga yang terus terjadi, pengembang juga tidak leluasa menaikkan harga jual rumah, terutama untuk rumah subsidi yang harganya telah diatur pemerintah. Alhasil, keuntungan terus tergerus. Bahkan, banyak pengembang yang kini hanya mampu menyelesaikan proyek yang sedang berjalan. Tak sedikit pula yang memilih menghentikan pembangunan karena perhitungan bisnisnya sudah tidak lagi masuk akal.

"Harga rumah subsidi kan tidak bisa kita sentuh sembarangan. Banyak pengembang jadi cuma fokus menyelesaikan yang sudah tanggung. Bahkan, ada yang memilih berhenti total daripada terus merugi," jelas Gabriel.

Keterangan gambar: Ketua REI Pematangsiantar, Gabriel Karel Pandiangan (foto:abdi/mistar)

Kenaikan harga ternyata tidak hanya terjadi pada satu atau dua jenis material. Hampir seluruh bahan bangunan mengalami kenaikan, mulai dari besi, keramik, cat, hingga seng yang harganya nyaris dua kali lipat. Gabriel menyebut, secara keseluruhan biaya produksi meningkat hingga sekitar 50 persen dibandingkan perhitungan awal.

Imbasnya, pada akhirnya kembali dirasakan masyarakat. Untuk rumah komersial, pengembang terpaksa menaikkan harga jual agar usaha tetap bertahan.

"Pada akhirnya masyarakat yang paling terdampak. Harga jual terus naik, daya beli menurun. Banyak pengembang yang tadinya ingin memulai proyek baru, sekarang memilih mundur," katanya.

Saat ini, sekitar 30 pengembang yang tergabung dalam REI Pematangsiantar mengalami perlambatan kegiatan. Pembangunan perumahan pun nyaris lumpuh. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu Program Strategis Nasional dalam penyediaan rumah bagi masyarakat.

Gabriel menegaskan, mahalnya harga material bangunan yang dibarengi kenaikan harga tanah membuat beban pengembang semakin berat.

"Kerugiannya sudah besar sekali. Ini bukan cuma masalah developer, tetapi juga industri perumahan secara luas dan masyarakat yang membutuhkan rumah," tutup Gabriel. (hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN