Atap Terbang Diterjang Puting Beliung, Warga Kecewa: Pas Pilkada Minta Suara, Pas Bencana Disebut Tanah Sengketa

Warga memperbaiki atap rumah dengan biaya sendiri. (foto: Abdi/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Bencana alam puting beliung menerjang kawasan Kampung Baru Gurilla, Kelurahan Gurilla, Kecamatan Siantar Sitalasari, Kota Pematangsiantar pada Senin (20/4/2026). Bencana alam yang terjadi sekitar pukul 16.10 WIB tersebut meluluhlantakkan satu unit rumah warga hingga mengalami kerusakan parah.
Berdasarkan pantauan wartawan di lokasi pada Selasa (21/4/2026) menunjukkan kondisi rumah milik Martalena Limbong, 53 tahun dalam keadaan memprihatinkan. Angin kencang yang datang tiba-tiba menyapu bersih seluruh atap rumah, mulai dari ruang tamu, kamar tidur, hingga area dapur.
Menurut Martalena, angin puting beliung tersebut datang begitu cepat. Dalam hitungan detik, struktur atap rumahnya terangkat dan terbang terbawa angin.
"Atap dari depan sampai dapur habis semua. Saat ini, kami sedang berupaya memperbaiki sebisa mungkin agar ada tempat berteduh," ujar Martalena dengan nada sedu saat ditemui di sela-sela proses perbaikan.
Hal yang paling menyayat hati bukan hanya soal rumah yang hancur, melainkan respons dari pemerintah setempat. Martalena mengungkapkan rasa kecewanya yang mendalam terhadap Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar.
Ia bercerita pada malam hari pasca-kejadian, pihak Kelurahan dan Babinsa sempat datang meninjau lokasi.
"Tadi malam Lurah dan Babinsa sudah datang melakukan pendataan. Mereka sempat menanyakan berapa biaya perbaikan, dan saya sampaikan estimasinya mencapai Rp25 juta," tuturnya.
Namun, harapan mendapatkan bantuan sirna keesokan harinya. Petugas dari pihak kecamatan dan kelurahan kembali datang, namun membawa kabar pahit, bantuan tidak bisa diberikan dengan alasan tanah tersebut merupakan tanah sengketa.
Martalena merasa dianaktirikan oleh pemerintah sendiri. Ia mempertanyakan status mereka sebagai warga negara yang haknya seolah hilang saat bencana melanda, namun dicari saat pesta demokrasi.
"Pada saat seperti ini dikatakan tanah sengketa. Tapi pada saat pemilihan (Pilkada), mereka datang kemari minta suara. Sebenarnya kami ini dianggap masyarakatnya atau tidak? Kami ikut memilih Walikota, tapi nyatanya bantuan tidak sampai kemari," ujarnya.
Karena tidak adanya bantuan dari Pemko Pematangsiantar, Martalena kini mengandalkan bantuan dari Gereja Katolik dan kepedulian masyarakat sekitar. Proses perbaikan dilakukan secara swadaya agar keluarga tersebut bisa segera memiliki tempat tinggal yang layak kembali.
"Kami memperbaiki ini dengan biaya sendiri dan bantuan gereja serta tetangga. Kalau tidak diperbaiki sekarang, kami bingung mau tinggal di mana, atap rumah sudah hilang total," ucapnya.
BERITA TERPOPULER
























