Aek Nauli Didorong Kembali Buka Kunjungan Wisata Gajah

Teks foto: Kadisbuparekraft Simalungun, Franky Purba saat mengikuti peringatan Hari Gajah Sedunia dan Hari Konservasi Alam di Aek Nauli.(foto: Disbudparekraft/mistar)
Simalungun, MISTAR.ID (13/8/2026) - Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraft) Simalungun mendorong pengelola Aek Nauli Elephant Conservation, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, kembali membuka layanan kunjungan bagi wisatawan.
Kepala Dinas Budaya, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraft) Simalungun Franky Purba mengatakan, kunjungan tidak harus dibuka setiap hari. Pengelola dapat mengatur jadwal tertentu agar aktivitas wisata tetap berjalan tanpa mengganggu upaya konservasi gajah.
"Polanya bisa dibuat, seperti pengaturan waktu dan harinya. Kalau berbasis edukasi, hal ini perlu dilakukan. Harapan kita memang dibuka kembali, tetapi mereka yang menentukan polanya," kata Franky saat menghadiri peringatan Hari Gajah Sedunia dan Hari Konservasi Alam di Aek Nauli, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, pembukaan kembali kunjungan dapat dilakukan secara terbatas, misalnya tiga atau empat kali dalam sepekan. Pengaturan tersebut dinilai penting untuk menjaga agar keberadaan gajah tidak semata-mata menjadi objek tontonan wisatawan.
"Kita juga tidak bisa mengesampingkan itu. Harus ada jadwal dan waktu karena kita tetap menjaga agar tidak terjadi eksploitasi terhadap gajah," ujarnya.
Franky menyebut Aek Nauli sebelumnya menjadi salah satu tujuan wisata yang cukup ramai karena keberadaan wisata gajah. Bahkan, pengunjung datang dari luar daerah untuk melihat dan mendapatkan informasi mengenai satwa tersebut.
Ia mengaku masih kerap menerima pertanyaan dari tamu mengenai keberadaan wisata gajah di Simalungun. Namun, penghentian sementara layanan kunjungan membuat potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
"Tempat itu sebelumnya sudah ramai karena ada pariwisata gajah, bahkan sampai luar daerah. Kita juga sering kedatangan tamu yang mempertanyakan soal gajah di Simalungun. Karena layanan kunjungan sempat dihentikan, kita jadi bingung juga, padahal itu sangat potensial," katanya.
Bagi Franky, pengaktifan kembali kunjungan bukan sekadar untuk meningkatkan jumlah wisatawan. Kegiatan tersebut juga bisa menjadi sarana edukasi kepada masyarakat mengenai gajah dan konservasi satwa.
"Edukasi tentang gajah masih minim diketahui. Sembari edukasi, jadi berguna juga bagi pengunjung yang datang," ucapnya.(indra/hm02)























