Festival Tao Toba Jou-Jou, Ramai Pengunjung tetapi Sepi Transaksi

Stan UMKM kuliner di lokasi Festival Tao Toba Jou-Jou 2026, Pangururan, Sabtu (8/8/2026), tampak ramai pengunjung, tetapi transaksi pembelian masih minim. (foto: pangihutan)
Oleh: Pangihutan Sinaga
Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 di Waterfront City (WFC) Pangururan, Kabupaten Samosir, semestinya tidak berhenti pada kemeriahan panggung, ramainya pengunjung, dan banyaknya stan yang menghiasi lokasi acara.
Festival yang membawa nama besar pariwisata dan perekonomian Samosir itu seharusnya meninggalkan sesuatu yang lebih konkret: perputaran uang yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Di sinilah persoalannya, target perputaran uang Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar yang dikaitkan dengan Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 tentu bukan angka kecil. Angka tersebut mencerminkan ekspektasi besar terhadap dampak ekonomi kegiatan yang didukung Bank Indonesia (BI) tersebut.
Tetapi target besar membutuhkan transaksi yang besar pula.
Ramainya pengunjung tidak otomatis berarti ramainya transaksi. Orang yang datang ke lokasi festival belum tentu membeli produk UMKM. Orang yang menikmati pertunjukan belum tentu makan di foodcourt. Bahkan orang yang berkeliling di antara 51 stan UMKM belum tentu mengeluarkan uang di setiap stan.
Inilah perbedaan antara keramaian dan perputaran ekonomi. Keramaian adalah pemandangan. Transaksi adalah angka.
Bagi saya, keberhasilan festival semestinya tidak diukur pertama-tama dari seberapa padat kawasan Waterfront City, melainkan dari seberapa besar uang yang berpindah dari tangan konsumen kepada pelaku usaha.
Sebab, tujuan menghadirkan puluhan UMKM dalam sebuah festival bukan hanya agar lokasi terlihat semarak. UMKM seharusnya mendapatkan pasar.
Pelaku usaha datang membawa produk, mengeluarkan biaya produksi, membayar transportasi, membawa tenaga kerja, menyediakan stok, bahkan menanggung risiko apabila dagangan tidak habis.
Mereka tentu berharap keramaian pengunjung berubah menjadi pendapatan.
Karena itu, ketika masih ada pelaku UMKM yang mengeluhkan minimnya penjualan di tengah ramainya pengunjung, keluhan tersebut seharusnya menjadi bahan introspeksi.
Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa festival gagal. Tetapi jangan pula buru-buru mengatakan festival berhasil hanya karena pengunjung terlihat ramai.
Keduanya harus dibuktikan dengan data.
Saya melihat ada persoalan yang lebih mendasar dalam cara kita memandang sebuah kegiatan ekonomi.
Sering kali keberhasilan sebuah event diukur dari jumlah pengunjung, jumlah peserta, jumlah stan, kemeriahan acara, dan besarnya anggaran. Padahal, untuk kegiatan yang mengusung semangat pengembangan ekonomi masyarakat, ukuran akhirnya adalah berapa besar nilai ekonomi yang tercipta.
Kalau 10.000 orang datang tetapi hanya sebagian kecil yang berbelanja, apa yang terjadi?
Yang ramai mungkin hanya lokasi.
Tetapi jika 5.000 orang datang dan hampir seluruhnya membelanjakan uang untuk makanan, kopi, ulos, kerajinan, transportasi, penginapan, dan produk lokal, dampak ekonominya bisa jauh lebih besar.
Artinya, jumlah kepala tidak selalu sama dengan jumlah rupiah.
Konsep multiplier effect atau efek pengganda ekonomi sebenarnya memberikan gambaran sederhana mengenai hal tersebut.
Ketika seorang wisatawan membeli makanan dari UMKM, uang yang diterima pedagang tidak berhenti di sana. Pedagang membeli bahan baku, membayar pekerja, membayar transportasi, dan memenuhi kebutuhan usaha.
Pekerja kemudian membelanjakan pendapatannya. Pemasok kembali membelanjakan uangnya. Begitu seterusnya.
Dari satu transaksi dapat lahir transaksi berikutnya.
Tetapi efek pengganda tersebut tidak akan maksimal jika uang yang diperoleh pelaku usaha langsung keluar dari daerah.
Jika bahan baku didatangkan dari luar Samosir, tenaga kerja berasal dari luar daerah, pemasok berada di luar daerah, bahkan sebagian besar kebutuhan usaha dibeli dari luar daerah, maka uang yang masuk ke Samosir tidak sepenuhnya berputar di Samosir.
Ada kebocoran ekonomi. Karena itu, saya berpendapat bahwa target Rp2,9 miliar tidak cukup hanya dilihat sebagai total uang yang dibelanjakan selama festival.
Yang jauh lebih penting adalah berapa besar uang tersebut tinggal dan berputar di Samosir.
Inilah yang seharusnya menjadi perhatian.
Festival Tao Toba Jou-Jou menghadirkan 51 UMKM. Jumlah tersebut sebenarnya bisa menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa apabila seluruhnya memperoleh transaksi yang sehat.
Namun, secara sederhana saja, jika transaksi langsung seluruh UMKM mencapai Rp500 juta selama empat hari, maka rata-ratanya sekitar Rp9,8 juta per UMKM.
Artinya, setiap UMKM harus menghasilkan sekitar Rp2,45 juta per hari.
Bagi sebagian UMKM, angka tersebut mungkin mudah dicapai. Tetapi bagi UMKM lainnya, angka itu bisa sangat berat, terutama apabila harga produk relatif murah dan daya beli pengunjung terbatas.
Dari sini terlihat bahwa target miliaran rupiah membutuhkan strategi, bukan sekadar menghadirkan stan.
Pengunjung harus diarahkan menjadi konsumen.
Konsumen harus diarahkan untuk membeli produk lokal.
Dan uang yang dibelanjakan harus sebanyak mungkin tetap berputar di daerah.
Kalau tidak, festival hanya menghasilkan traffic, bukan economic impact.
Hal yang sama berlaku terhadap business matching yang difasilitasi BI.
Adanya komitmen pembiayaan perbankan sebesar Rp1,17 miliar tentu patut diapresiasi. Tetapi komitmen pembiayaan tidak boleh disamakan dengan uang yang sudah berputar dalam ekonomi masyarakat.
Kredit yang baru berupa komitmen belum menjadi transaksi.
Pembiayaan baru memberikan dampak apabila benar-benar direalisasikan, diterima pelaku usaha, dan digunakan untuk kegiatan produktif.
Karena itu, publik juga layak mengetahui berapa dari Rp1,17 miliar tersebut yang benar-benar terealisasi setelah festival.
Menurut saya, transparansi semacam ini justru akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan festival.
Tidak ada salahnya pemerintah, BI, maupun penyelenggara nantinya menyampaikan secara terbuka hasil evaluasi ekonomi festival.
Berapa jumlah pengunjung? Berapa omzet UMKM? Berapa nilai transaksi foodcourt? Berapa tingkat hunian hotel dan penginapan? Berapa transaksi transportasi? Berapa penjualan produk kerajinan dan ulos?
Berapa pembiayaan business matching yang benar-benar dicairkan?
Dan yang paling penting, berapa total perputaran uang yang benar-benar terjadi?
Data-data tersebut jauh lebih bermakna daripada sekadar mengatakan festival sukses karena ramai.
Sebab, festival pada akhirnya bukan hanya tentang panggung.
Bukan hanya tentang musik. Bukan hanya tentang budaya. Bukan hanya tentang wisata.
Festival yang menggunakan narasi penggerak ekonomi masyarakat harus mampu membuktikan dampak ekonominya.
Saya juga tidak ingin melihat persoalan ini hanya dari sisi negatif.
Festival Tao Toba Jou-Jou tetap memiliki potensi besar. Kehadiran wisatawan dapat menggerakkan banyak sektor sekaligus. UMKM memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya. Pelaku pariwisata mendapatkan pasar. Penginapan memperoleh tamu. Transportasi mendapatkan penumpang. Pedagang memperoleh pembeli.
Potensi itu nyata. Tetapi potensi bukan realisasi.
Di sinilah penyelenggara harus berani melakukan evaluasi.
Jika transaksi UMKM minim, jangan menyalahkan pelaku UMKM.
Bisa jadi masalahnya bukan pada produk, tetapi pada pola pengunjung, penempatan stan, harga, promosi, metode pembayaran, durasi festival, atau strategi mengubah pengunjung menjadi pembeli.
Bisa juga karena sebagian besar pengunjung datang hanya untuk menikmati acara utama tanpa memiliki alasan ekonomi untuk berbelanja.
Semua itu perlu dianalisis.
Sebab, festival yang baik bukan hanya mendatangkan orang ke lokasi. Festival yang baik mampu membuat orang tinggal lebih lama, berbelanja lebih banyak, dan membelanjakan uangnya kepada masyarakat lokal.
Itulah sesungguhnya esensi multiplier effect.
Karena itu, saya kira target Rp2,5 miliar hingga Rp2,9 miliar sebaiknya tidak dipandang sebagai angka untuk dipertahankan secara retoris.
Biarkan angka tersebut diuji oleh realisasi.
Jika tercapai, publikasikan.
Jika melampaui target, tentu lebih baik lagi.
Jika tidak tercapai, sampaikan secara terbuka mengapa tidak tercapai.
Tidak ada yang perlu ditakuti dari evaluasi.
Justru dari evaluasi itulah festival berikutnya dapat dirancang lebih baik.
Samosir tidak kekurangan potensi wisata. Danau Toba tidak kekurangan keindahan. UMKM juga tidak kekurangan produk.
Yang perlu diperkuat adalah bagaimana potensi tersebut dikonversi menjadi transaksi ekonomi yang nyata.
Maka, ukuran keberhasilan Festival Tao Toba Jou-Jou 2026 seharusnya sederhana.
Bukan seberapa ramai panggungnya, tetapi seberapa ramai transaksi.
Bukan seberapa banyak stan berdiri, tetapi seberapa besar omzet yang diperoleh pelaku usaha.
Bukan seberapa besar angka target diumumkan, tetapi seberapa besar target tersebut benar-benar terealisasi.
Dan bukan sekadar berapa rupiah yang masuk ke Samosir, melainkan berapa rupiah yang tetap berputar di Samosir.
Sebab, festival boleh berakhir. Panggung boleh dibongkar. Lampu boleh dipadamkan. Pengunjung boleh kembali ke daerah masing-masing.
Tetapi jika festival benar-benar berhasil menciptakan efek pengganda, maka manfaat ekonominya seharusnya masih terasa setelah festival selesai.
Itulah festival yang tidak hanya meriah untuk ditonton, tetapi juga berarti untuk ekonomi rakyat. (*)
**Penulis adalah wartawan Harian Mistar dan Mistar.id
PREVIOUS ARTICLE
Prabowonomics: Jalan Pulang Negara Kepada Rakyat






















