Monday, August 3, 2026
home_banner_first
MEDAN

Peneliti USU Ungkap Kerentanan Banjir di Desa Padang Tualang, Rekomendasikan Perbaikan Tanggul

Mistar.idSenin, 3 Agustus 2026 pukul 17.32 WIB
peneliti_usu_ungkap_kerentanan_banjir_di_desa_padang_tualang_rekomendasikan_perbaikan_tanggul

Dosen Universitas Sumatera Utara (USU), Destanul Aulia, SKM, memaparkan hasil penelitian mengenai kerentanan banjir di Desa Padang Tualang, Kabupaten Langkat. (Foto: Berry/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) memaparkan hasil observasi awal mengenai tingkat kerentanan dan kesiapsiagaan masyarakat Desa Padang Tualang, Kabupaten Langkat, dalam menghadapi bencana banjir.

Perwakilan tim, Destanul Aulia, SKM, mengatakan observasi dilakukan pada 4 Juli 2026 dengan melibatkan tim pengabdian serta mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL).

Destanul menjelaskan, hasil observasi menunjukkan kondisi umum Desa Padang Tualang dalam empat aspek utama. Pertama, akses jalan yang sekitar 80 persen telah beraspal sehingga memudahkan mobilitas warga.

"Kedua, kondisi drainase masuk kategori sedang karena sebagian parit beton rusak akibat banjir sehingga belum berfungsi optimal," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Mistar, Senin (3/8/2026).

Ia menambahkan, tanggul dan Sungai Batang Hari juga menjadi perhatian karena terdapat tanggul yang jebol dan sungai yang belum pernah dikeruk, sehingga meningkatkan risiko banjir saat curah hujan tinggi.

Selain itu, kebersihan lingkungan desa dinilai cukup baik. Namun, tim menemukan sistem pengelolaan sampah masih buruk dan sebagian masyarakat masih membakar sampah.

"Kami merekomendasikan perbaikan tanggul dan parit beton yang rusak, pengerukan Sungai Batang Hari secara berkala, pemeliharaan saluran drainase, serta penyediaan tempat sampah yang memadai," katanya.

Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU juga mengungkap riwayat banjir di Desa Padang Tualang. Berdasarkan hasil observasi, banjir terjadi sekitar tiga kali dalam setahun dengan ketinggian air mencapai dua meter.

Genangan air dapat bertahan hingga 12 hari, sedangkan proses pemulihan rumah dan lingkungan memerlukan waktu sekitar setengah bulan setelah banjir surut.

Menurut Destanul, penyebab utama banjir adalah curah hujan tinggi yang berlangsung selama tiga hingga empat hari berturut-turut, ditambah kondisi tanggul yang telah jebol.

Dari sekitar 3.000 kepala keluarga (KK) di desa tersebut, sebanyak 900 KK atau sekitar 30 persen terdampak banjir. Saat proses evakuasi, sebagian warga dilaporkan enggan meninggalkan rumah sehingga memilih bertahan atau mengungsi di area rel kereta api.

"Kebutuhan penanganan yang diperlukan antara lain penyediaan jalur dan lokasi evakuasi yang aman, sistem peringatan dini, edukasi serta simulasi evakuasi bagi masyarakat, dan evaluasi terhadap perubahan fungsi lahan," ujarnya.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan Destanul dalam Forum Kolaborasi Internasional dan Diseminasi Hasil Observasi Awal yang mempertemukan peneliti dari Indonesia dan Malaysia melalui Zoom Meeting.

Menurutnya, kolaborasi lintas negara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir melalui pendekatan ilmiah berbasis bukti.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN