Friday, June 26, 2026
home_banner_first
MEDAN

Bantu Pemerintah Susun Rencana Kerja, CSL Paparkan Hasil Kajian di 10 Daerah Aceh-Sumut

Mistar.idJumat, 26 Juni 2026 pukul 17.24 WIB
bantu_pemerintah_susun_rencana_kerja_csl_paparkan_hasil_kajian_di_10_daerah_acehsumut

Penyampaian hasil kajian Districts Readiness Profile yang dilakukan oleh Coalition Sustainable Livelihoods di 10 daerah yang ada di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh. (Foto: Iqbal/Mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID - Coalition Sustainable Livelihoods (CSL) menyampaikan hasil kajian Districts Readiness Profile yang telah dilakukan di 10 daerah yang ada di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh. Hasil kajian tersebut diharapkan bisa mempermudah Pemerintah Daerah dalam menentukan rencana kerja ke depan.

CSL Lead Edward Manihuruk mengatakan kajian tersebut dilakukan sekitar 8 bulan mulai Oktober 2025 hingga Mei 2026 lalu menggunakan metode indeks kesiapan lanskap. Ia berharap hasil kajian itu berguna bagi daerah untuk memperkuat program, khususnya yang sempat terdampak bencana.

"Kita berharap hasil kajian ini bermanfaat bagi mitra pemerintah dan bisa digunakan untuk mendesain kegiatan perencanaan ke depan, khususnya bagaimana memastikan daerah-daerah yang terdampak bencana kemarin mempunyai modal dasar menggaet investasi-investasi lanskap berdasarkan data-data yang mereka punya," ujarnya kepada Mistar di Santika Hotel, Jumat (26/6/2026).

Menurutnya, hasil kajian tersebut merupakan modal penting buat 10 daerah tersebut. Adapun kesepuluhnya yakni Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Langkat dan Mandailing Natal. Kemudian Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Subulussalam.

"Karena 10 daerah ini selain yang terdampak bencana, Kabupaten ini juga menjadi daerah yang beririsan dengan restorasi konservasi dan sustainable produksi," ucap Edward.

"Ya harapannya ke depan ada pemetaan dari multi stakeholder yang ada di lanskap, kita harapkan dengan data yang ada pemerintah mempunyai dasar untuk melakukan pendekatan, memiliki dasar untuk mendesain kegiatan-kegiatan di level lanskap," ujarnya menambahkan.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Tapanuli Utara Kartini Eva Christina Nahampun yang hadir pada kegiatan penyampaian hasil kajian tersebut pun mengapresiasi langkah CSL, khususnya terkait rencana pemetaan karbon.

"Saya sangat semangat melihat hasil kajian yang dilakukan CSL, ini akan sangat bermanfaat ke depannya, makanya tadi saran saya kedepan actionnya kita rancang bagaimana kita buat roadmap untuk peta karbon ini. Jadi dari peta karbon ini sebagai instrumen kita untuk mendapatkan berbagai program yang positif untuk daerah kita, ini sangat kita support," ucapnya.

Christina pun mengatakan Taput yang menjadi salah satu daerah terdampak bencana sangat memerlukan hasil kajian tersebut untuk bisa membantu memetakan kondisi daerah agar lebih cepat pulih.

"Ini memang tantangan yang besar untuk kami daerah yang terdampak bencana. Saat ini kami sangat disupport oleh pemerintah baik pemerintah pusat maupun provinsi dalam hal pemilihan pasca bencana. Nah ini intervensinya selama tiga tahun, intervensinya dalam bentuk dukungan moril dan juga materil, pendanaan seperti itu," ujarnya.

Melihat keadaan tersebut, menurutnya Taput harus bisa beradaptasi untuk mengembangkan potensi yang ada. Sebagaimana diketahui Taput saat ini memiliki potensi pertanian yang tinggi menurut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

"Untuk menangkap itu kami harus cepat untuk menyesuaikan diri, memperbaiki sektor yang berpeluang meningkatkan investasi, memang kalau dari segi PDRP kita tertinggi adalah pertanian," tuturnya.

Ia pun mengatakan berdasarkan hasil kajian tersebut, Taput juga akan mengembangkan potensi-potensi yang ada. Selain pertanian, Christina mencontohkan Taput ke depan akan mengembangkan potensi kemenyan.

"Kami sedang memikirkan beberapa daerah yang zona rawan bencana itu mengaktifkan satu ekosistem yang bisa jadi menghasilkan ekonomi tapi lestari lingkungannya," ujarnya.

"Misal Adiankoting dan Parmonangan itu potensinya ada kemenyan, ada juga karet. Nah ini kita kedepan akan meningkatkan dan mengembangkan komoditi kemenyan di daerah tersebut, selain ekonominya ada, lestari juga lingkungannya," tutur Christina menambahkan.

Christina berharap kajian-kajian sejenisnya bisa terus dilakukan dan diterapkan untuk mendukung pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah saat ini.

"Ini jujur saja saya sangat supportlah ya kepada mitra-mitra pembangunan yang sangat positif bagi kami daerah. Kami sangat butuh banyak masukan dan kami berharap kajian-kajian seperti ini bisa dilanjutkan terus dan kajian ini hadir ketika dibutuhkan dan memang segera harus kita implementasikan untuk kebaikan bersama kita," katanya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN