Dirty Soda Kembali Viral! Perpaduan Soda dan Krim Ini Berpotensi Jadi Tren Minuman Baru di Indonesia

Dirty Soda: soda dingin bercampur krim yang membentuk pusaran putih, dilengkapi variasi rasa stroberi dan jeruk nipis. (foto ilustrasi:chatgpt/mistar)
"Minuman soda dengan tambahan krim, sirup, dan buah ini kembali mencuri perhatian dunia. Berawal dari Utah, Amerika Serikat, Dirty Soda kini dilirik industri minuman besar. Akankah tren unik ini merambah pasar Indonesia?"
Pematangsiantar, MISTAR.ID (4/11/2026) — Minuman soda biasanya identik dengan sensasi segar dan gelembung karbonasi. Namun, bagaimana jika soda dicampur krim, sirup kelapa, dan perasan jeruk nipis? Hasilnya bukan sekadar minuman bersoda biasa, melainkan racikan unik bernama Dirty Soda yang kembali mencuri perhatian dunia.
Perpaduan rasa manis, creamy, segar, dan sedikit asam membuat Dirty Soda menawarkan pengalaman minum yang berbeda. Popularitasnya kembali terdorong oleh media sosial, terutama TikTok, serta inovasi sejumlah perusahaan minuman besar yang mulai mengadaptasi konsep tersebut.
Bukan tren yang benar-benar baru, Dirty Soda telah berkembang sejak lebih dari satu dekade lalu di Utah, Amerika Serikat. Kini, minuman ini kembali mendapatkan momentum dan berpotensi membuka peluang baru dalam industri minuman kekinian, termasuk di Indonesia.
Lantas, apa itu Dirty Soda, bagaimana asal-usulnya, apa saja bahan pembuatnya, dan mengapa minuman ini kembali viral pada 2026?
Apa Itu Dirty Soda? Perpaduan Soda, Krim, dan Sirup dalam Satu Gelas
Dirty Soda adalah minuman berbasis soda karbonasi yang dicampur dengan sirup aneka rasa, krim atau creamer, serta tambahan buah sesuai selera.
Berbeda dengan soda biasa yang langsung dikonsumsi dari kemasan, Dirty Soda mengusung konsep racikan atau customized beverage. Konsumen bebas menentukan kombinasi bahan, tingkat kemanisan, hingga karakter rasa yang diinginkan.
Bahan utamanya relatif sederhana, yakni Coca-Cola, Diet Coke, Sprite, Dr Pepper, atau jenis soda lainnya. Minuman tersebut kemudian dicampur dengan sirup kelapa, vanila, stroberi, karamel, maupun raspberry.
Untuk menghasilkan tekstur creamy, racikan ditambahkan coconut cream, half-and-half, sweet cream, atau coffee creamer. Beberapa variasi juga menggunakan perasan lemon, jeruk nipis, puree buah, dan es batu.
Salah satu racikan klasik yang populer adalah Diet Coke dengan sirup kelapa, perasan jeruk nipis, dan coconut cream.
Perpaduan tersebut menghasilkan sensasi soda yang menyegarkan dengan sentuhan lembut menyerupai minuman pencuci mulut atau liquid dessert.
Menariknya, kata "dirty" bukan berarti kotor atau tidak higienis. Istilah tersebut merujuk pada soda yang telah dimodifikasi dengan tambahan bahan sehingga memiliki rasa dan tampilan berbeda dari soda aslinya.
Berawal dari Utah, Dirty Soda Kini Mendunia
Popularitas Dirty Soda modern berawal dari Utah, Amerika Serikat. Pada 2010, Nicole Tanner mendirikan Swig, sebuah gerai minuman di St. George yang memperkenalkan konsep soda dengan berbagai tambahan sirup, krim, dan bahan perasa.
Konsep tersebut berkembang di tengah masyarakat Utah, termasuk komunitas Latter-day Saints atau anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir. Sebagian anggota komunitas ini menghindari kopi dan teh berdasarkan ajaran agamanya, sehingga gerai soda dengan berbagai pilihan racikan menjadi alternatif minuman yang menarik.
Dirty Soda kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya minuman lokal.
Popularitasnya menjangkau audiens yang lebih luas setelah penyanyi Olivia Rodrigo mengunggah foto dengan gelas Swig pada akhir 2021. Perbincangan di TikTok pada 2022 semakin memperkenalkan minuman tersebut kepada pengguna media sosial internasional.
Gelombang popularitas berikutnya muncul melalui acara televisi The Secret Lives of Mormon Wives pada 2024.
Dengan demikian, TikTok bukan tempat lahirnya Dirty Soda, melainkan salah satu faktor yang mempercepat penyebaran tren minuman asal Utah tersebut ke berbagai negara.
Mengapa Dirty Soda Kembali Viral pada 2026?
Kembalinya popularitas Dirty Soda tidak terlepas dari perubahan selera konsumen dan perkembangan industri minuman.
Salah satu daya tarik utamanya adalah personalisasi. Konsumen dapat menciptakan kombinasi rasa sendiri hanya dengan mengganti jenis soda, sirup, atau krim. Satu bahan dasar bahkan bisa menghasilkan puluhan variasi menu.
Dari sisi media sosial, tampilan Dirty Soda juga memiliki daya tarik tersendiri. Perpaduan warna soda dengan krim putih menghasilkan visual kontras yang menarik untuk foto maupun video. Proses menuangkan krim ke dalam soda juga menciptakan efek visual yang mudah dijadikan konten TikTok dan Instagram.
Faktor lainnya adalah dukungan industri minuman besar. Pada 2026, sejumlah merek seperti Mountain Dew, McDonald's, dan Dunkin' mulai mengadaptasi konsep Dirty Soda melalui inovasi produk maupun menu racikan.
PepsiCo juga melihat peluang dari perkembangan kategori ini dan mengembangkan produk siap minum yang terinspirasi Dirty Soda.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa Dirty Soda tidak lagi sebatas eksperimen minuman rumahan, tetapi mulai diperhitungkan sebagai peluang inovasi komersial.
Berpotensi Menjadi Tren Minuman Baru di Indonesia
Indonesia memiliki pasar minuman kekinian yang cukup akrab dengan inovasi rasa dan tampilan. Mulai dari kopi susu, minuman berbasis teh, boba, hingga racikan buah dan susu, konsumen telah mengenal konsep minuman yang menawarkan pengalaman berbeda.
Dalam konteks tersebut, Dirty Soda memiliki peluang untuk masuk sebagai kategori baru yang menggabungkan karakter soda, minuman creamy, dan dessert.
Bayangkan Sprite dengan sirup leci dan coconut cream, Coca-Cola dengan vanila dan krim, atau soda jeruk dengan tambahan strawberry puree. Kombinasi tersebut dapat menghadirkan pilihan rasa yang berbeda dari minuman kekinian pada umumnya.
Bahan bakunya pun relatif mudah ditemukan di Indonesia. Soda kemasan, sirup, krim, buah, dan es dapat diperoleh melalui pasar ritel maupun pemasok bahan minuman.
Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan gerai khusus Dirty Soda, menghadirkannya sebagai menu tambahan di kedai kopi, atau menjualnya sebagai produk racikan rumahan.
Namun, potensi tersebut belum berarti Dirty Soda telah menjadi tren besar di Indonesia. Tingkat penerimaan konsumen, harga jual, kesesuaian rasa, dan kemampuan pelaku usaha melakukan inovasi akan menentukan perkembangannya.
Fakta Unik Dirty Soda yang Jarang Diketahui
Di balik tampilannya yang sederhana, Dirty Soda memiliki sejumlah fakta menarik.
Pertama, minuman ini bukan inovasi baru yang lahir dari TikTok. Konsep Dirty Soda modern telah berkembang sejak 2010 melalui gerai Swig di Utah.
Kedua, Dirty Soda tidak selalu menggunakan susu. Coconut cream, half-and-half, dan berbagai jenis creamer dapat digunakan untuk menghasilkan tekstur creamy.
Ketiga, salah satu racikan klasiknya justru menggunakan Diet Coke, bukan Coca-Cola biasa.
Keempat, konsepnya memiliki kemiripan dengan Italian Soda yang menggunakan air soda dan sirup, termasuk variasi dengan tambahan krim. Namun, Dirty Soda memiliki identitas tersendiri melalui penggunaan soda kemasan dan kombinasi bahan yang lebih beragam.
Kelima, Dirty Soda kini mulai masuk ke strategi inovasi perusahaan minuman besar. Hal ini memperlihatkan bahwa tren tersebut memiliki potensi komersial di luar popularitas media sosial.
Peluang Bisnis Dirty Soda: Bukan Sekadar Minuman Viral
Daya tarik Dirty Soda sesungguhnya bukan hanya perpaduan soda dan krim, melainkan konsep personalisasi yang ditawarkannya.
Konsumen tidak sekadar membeli minuman, tetapi juga mendapatkan pengalaman memilih dan menciptakan kombinasi rasa sendiri. Inilah yang membuat Dirty Soda menarik untuk dikembangkan sebagai produk bisnis.
Dari sisi operasional, konsep ini relatif fleksibel. Pelaku usaha dapat menyediakan beberapa jenis soda sebagai bahan dasar, kemudian menawarkan pilihan sirup dan krim sebagai tambahan.
Dengan sistem tersebut, satu gerai dapat menghadirkan banyak variasi menu tanpa harus menyediakan terlalu banyak bahan baku utama.
Peluang lainnya adalah adaptasi cita rasa lokal. Sirup pandan, kelapa, mangga, markisa, leci, dan jeruk nipis dapat menjadi pilihan untuk menciptakan Dirty Soda bercita rasa Indonesia.
Meski demikian, ada sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Kandungan gula dari soda dan sirup, ditambah krim atau creamer, dapat membuat beberapa racikan memiliki kandungan gula tambahan dan kalori yang tinggi.
Pelaku usaha perlu mempertimbangkan pilihan rendah gula, ukuran sajian, kualitas bahan, serta konsistensi rasa agar produk dapat diterima lebih luas.
Pada akhirnya, keberhasilan Dirty Soda di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan viralitas TikTok. Kreativitas menu, harga kompetitif, kualitas produk, dan kemampuan membangun identitas merek akan menjadi faktor penentu.
Dirty Soda mungkin hanya terlihat seperti soda yang dicampur krim. Namun, di balik racikannya yang sederhana, tersimpan peluang inovasi yang mempertemukan budaya media sosial, personalisasi rasa, dan kreativitas bisnis minuman. Jika mampu beradaptasi dengan selera lokal, Dirty Soda berpotensi menjadi warna baru dalam industri minuman kekinian Indonesia.
(foodnetwork/eater/fooddive/ksl/risingtrend/hm2)
PREVIOUS ARTICLE
Dari Dapur Keluarga ke Restoran Global, Sambal Nusantara Berpeluang Jadi Menu McDonald’s 2027










































