Saturday, September 12, 2026
home_banner_first
KESEHATAN

Keracunan dan Alergi Makanan Berbeda, IDAI Jelaskan Ciri-cirinya

Mistar.idSabtu, 12 September 2026 pukul 15.57 WIB
keracunan_dan_alergi_makanan_berbeda_idai_jelaskan_ciricirinya

Ilustrasi. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Goran13)

news_banner

Jakarta, MISTAR.ID - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan keracunan dan alergi makanan merupakan dua kondisi yang berbeda, meski gejalanya kerap dianggap sama. Perbedaan utama terletak pada penyebab dan kelompok orang yang terdampak.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, DR. Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA(K), mengatakan keracunan makanan dapat dialami siapa saja yang mengonsumsi makanan atau minuman yang tercemar.

"Keracunan menimpa siapa pun yang memakannya, alergi hanya menimpa orang tertentu. Karena itu, keracunan bisa menjadi wabah, sementara alergi tidak," kata Yogi dalam diskusi media di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Ia menjelaskan, keracunan makanan terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi bakteri, racun, virus, parasit maupun bahan kimia.

Gejala yang umum muncul berupa mual, muntah, diare, nyeri perut, demam hingga pusing. Keluhan tersebut dapat muncul beberapa jam hingga satu sampai dua hari setelah makanan dikonsumsi.

Sementara alergi makanan merupakan reaksi sistem imun terhadap protein tertentu dalam makanan. Kondisi ini hanya dialami individu yang memiliki sensitivitas terhadap makanan tersebut.

Gejala alergi dapat muncul dalam hitungan menit hingga beberapa jam, antara lain gatal, bengkak pada bibir atau kelopak mata, biduran, sesak napas hingga penurunan kesadaran.

Yogi mengatakan alergi tidak menular karena reaksi hanya terjadi pada individu yang memiliki sensitivitas terhadap makanan tertentu.

Ia juga menyebut anak dan remaja lebih rentan mengalami dampak keracunan makanan karena cadangan cairan dalam tubuh mereka lebih kecil. Kehilangan cairan dalam jumlah yang sama dapat memberikan dampak lebih besar terhadap kesehatan dibandingkan orang dewasa.

Selain itu, sistem imun dan saluran cerna anak yang belum matang membuat jumlah kuman yang dibutuhkan untuk menyebabkan sakit relatif lebih sedikit.

Anak dan remaja juga lebih sering mengonsumsi makanan di luar pengawasan keluarga, seperti jajanan kantin maupun makanan di pinggir jalan.

Mengutip data Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) 2024, Yogi menyebut terdapat 1.164 kasus keracunan obat dan makanan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 806 kasus berasal dari makanan dan minuman.

Dalam data yang sama, sebanyak 42,96 persen kasus terjadi pada kelompok usia remaja dengan rentang 12 hingga 25 tahun. (hm25/antara)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN