Dokter Bagikan Tips Penuhi Kebutuhan Serat bagi yang Tak Suka Sayur dan Buah

Ilustrasi. (Foto: Shutterstock/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Memenuhi kebutuhan serat harian bisa menjadi tantangan bagi orang yang kurang menyukai sayur dan buah. Sebagian orang memilih mengonsumsi minuman serat kemasan sebagai alternatif untuk membantu menjaga kelancaran pencernaan.
Namun, spesialis gizi klinik dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengingatkan produk makanan atau minuman tinggi serat dalam kemasan sebaiknya tidak dijadikan sumber serat utama setiap hari. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing individu.
Menurut dr. Yaze, produk tersebut dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya ketika seseorang mengalami sembelit atau kesulitan buang air besar (BAB).
"Jadi kalau kita cuma ngandelin kayak makanan atau minuman kemasan yang mengandung fiber itu, ada beberapa case. Jadi ada beberapa kondisi, misalnya dia susah BAB. Misalnya per 5 hari deh dia BAB, itu baru biasanya saya indikasikan untuk ada minuman atau makanan kemasan yang mengandung fiber," ujar dr. Yaze dalam keterangannya dilansir, Rabu (28/10/2026).
Sebaliknya, bagi orang yang masih bisa BAB setiap hari atau dua hari sekali, ia lebih menyarankan untuk mengutamakan konsumsi makanan alami atau real food sebagai sumber serat.
"Tapi kalau misalnya per hari dia bisa BAB atau per 2 hari dia bisa BAB, sebenarnya saya lebih saranin lebih banyak di real food," lanjutnya.
Bagi orang yang sulit mengonsumsi sayur dan buah, dr. Yaze menyarankan agar tidak langsung menyerah atau bergantung pada produk serat kemasan. Salah satu langkah yang bisa dicoba adalah mencari bahan makanan berserat yang sesuai dengan selera.
Tidak semua sayuran harus dikonsumsi sekaligus. Seseorang bisa memulai dari jenis yang paling disukai, kemudian mencoba variasi lainnya secara bertahap.
"Misalnya kamu nggak suka buah dan sayur, tapi ada beberapa sayur yang disuka. Kayak wortel, labu siam, atau misalnya timun itu masih boleh. Konsumsi saja makanan yang kamu suka, yang mengandung serat pastinya," katanya.
Wortel, labu siam, dan mentimun dapat menjadi pilihan untuk menambah variasi makanan sehari-hari. Selain memperhatikan jenis bahan pangan, cara mengolahnya juga perlu menjadi pertimbangan.
Meski menyarankan konsumsi sayuran sesuai selera, dr. Yaze mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan metode pengolahan makanan. Kebiasaan menggoreng sayuran, misalnya, perlu diperhatikan jika dilakukan terlalu sering.
Salah satu contoh yang disorot adalah kol goreng yang kerap disajikan sebagai pelengkap hidangan di berbagai tempat makan. Menurutnya, kol tetap bisa dikonsumsi, tetapi sebaiknya tidak selalu diolah dengan cara digoreng, terutama jika menjadi kebiasaan sehari-hari.
"Terus misalnya suka kol boleh juga. Yang penting jangan digoreng, intinya gak disarankan makan kol goreng setiap hari," ucapnya.












































