Monday, September 7, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

Terlibat “Proyek Hantu”, Sepupu Presiden Filipina Marcos Didakwa Korupsi

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 17.21 WIB
terlibat_proyek_hantu_sepupu_presiden_filipina_marcos_didakwa_korupsi_

Terlibat korupsi “Proyek Hantu”, sepupu Presiden Filipina Marcos Jr, Martin Romualdez. (Foto ilustrasi: Bloomberg)

news_banner

Manila, MISTAR.ID (7/9/2026) – Ombudsman Filipina resmi mendakwa Martin Romualdez, anggota parlemen sekaligus sepupu Presiden Ferdinand Marcos Jr., atas kasus korupsi proyek pengendalian banjir.

Dakwaan "plunder" atau penjarahan itu menyeret dana senilai 7,4 miliar peso atau sekitar US$117,9 juta atau setara Rp1,9 triliun.

Kasus ini mencuat setelah Presiden Marcos sendiri menyoroti adanya proyek infrastruktur "hantu" yang menghabiskan miliaran dolar uang pajak rakyat.

"Kami tidak pilih-pilih. Tidak ada nama yang kami coba lindungi. Semuanya berdasarkan bukti," tegas Ombudsman Jesus Crispin Remulla kepada AFP, Senin (7/9/2026). "Kasus ini membuktikan bahwa tidak ada yang kebal hukum," lanjutnya.

Remulla menyebut dana itu berasal dari suap, penyerapan anggaran tidak wajar, serta pengaturan alokasi proyek pengendalian banjir.

Selain Romualdez, penyidik juga memeriksa mantan anggota parlemen Elizaldy Co dan sejumlah pihak lain. Mereka diduga bekerja sama untuk meraup keuntungan ilegal dari dana pemerintah.

Sejumlah pemilik perusahaan konstruksi, pejabat, dan politisi lain juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam skandal yang sama.

"Plunder" di Filipina merupakan tindak pidana korupsi berskala besar. Pelakunya tidak bisa dijaminkan dan terancam hukuman penjara seumur hidup.

Jaksa menyatakan akan mengajukan dakwaan tambahan terhadap Romualdez dan pihak-pihak lain yang terlibat.

Romualdez telah berulang kali membantah tuduhan tersebut dan belum memberikan komentar atas dakwaan terbaru.

Pada September 2025 lalu, ia mengundurkan diri dari posisi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat setelah namanya muncul dalam penyelidikan.

"Pengunduran diri ini agar penyidik bisa bekerja tanpa pengaruh yang tidak semestinya," ujarnya saat itu. Kini ia tetap menjabat sebagai anggota kongres.

Dalam setahun terakhir, penuntut Filipina juga telah menjerat sejumlah anggota parlemen aktif, mantan anggota parlemen, pejabat pekerjaan umum, hingga kontraktor.

Korupsi sudah lama menjadi penyakit kronis di sistem politik Filipina dan menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan di negara itu.(CNN/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN