Monday, September 7, 2026
home_banner_first
INTERNATIONAL

AS: Jalan Damai dengan Iran Tipis, Opsi Militer Masih Terbuka

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 16.03 WIB
as_jalan_damai_dengan_iran_tipis_opsi_militer_masih_terbuka_

Pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat belum tentu tercapai. (Foto ilustrasi: Antara/Anadolu)

news_banner

Istanbul, MISTAR.ID (7/9/2026) – Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan kesepakatan nuklir dengan Iran belum tentu tercapai. AS bahkan mungkin harus menghancurkan kemampuan nuklir Teheran.

"Mungkin tidak akan ada kesepakatan nuklir. Jalannya mungkin hanya dengan menghancurkan kemampuan mereka. Kesepakatan itu mungkin harus menunggu pemerintahan berikutnya di Iran. Kami benar-benar tidak tahu," kata Wright kepada ABC News, Minggu (6/9/2026) waktu setempat.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan setelah serangan AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.

Presiden AS Donald Trump berulang kali mengklaim kepemimpinan Iran telah berubah secara mendasar, meski sistem pemerintahan Iran masih bertahan di bawah Pemimpin Tertinggi yang baru.

Ketika ditanya apakah pemboman berkelanjutan menjadi strategi untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Wright menjawab ya.

"Anda harus menghancurkan kemampuan mereka. Saat ini mereka membangun infrastruktur rudal dalam jumlah besar. Rudal-rudal itu sekarang mereka luncurkan, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk membuat lebih banyak," ujarnya.

Wright juga menyoroti situasi di Selat Hormuz. Ia mengatakan rata-rata aliran minyak selama 7 hari terakhir melalui selat itu mencapai lebih dari 9 juta barel per hari. Itu merupakan rekor tertinggi.

Jika ditambah aliran melalui pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, total minyak yang keluar dari kawasan mencapai 13 juta hingga 14 juta barel per hari.

Pada Juni lalu, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar.

Isinya mencakup penghentian permusuhan, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pelonggaran sanksi ekonomi.

Namun sejak itu kedua negara saling menuduh gagal menjalankan komitmen. Selat Hormuz kini masih menjadi titik rawan.

AS mengklaim jalur pelayaran internasional sudah bersih dari ranjau dan puluhan kapal melintas setiap hari.

Sebaliknya, Teheran menegaskan selat itu masih di bawah kendali Iran dan belum sepenuhnya aman dari ancaman ranjau.(Anadolu/Antara/hm02)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN