Monday, September 7, 2026
home_banner_first
OPINI

Gen Z, Algoritma, dan Krisis Identitas: Tantangan Baru Pembangunan Sumber Daya Manusia

Mistar.idSenin, 7 September 2026 pukul 16.29 WIB
gen_z_algoritma_dan_krisis_identitas_tantangan_baru_pembangunan_sumber_daya_manusia

Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga. (Foto: Dok. Pribadi)

news_banner

Oleh: Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga

Medan, MISTAR.ID – Belakangan ini ada satu fenomena yang bikin kita menghela napas panjang di media sosial. Sebuah video pendek memperlihatkan seorang remaja SMA dengan penampilan dan gaya berpakaian yang sangat keren, rapi, dan percaya diri, mendadak kicep saat ditanya pertanyaan dasar perkalian sederhana.

Tampilan fisiknya sangat matang, up-to-date dengan tren gaya hidup urban, tapi begitu diajak menguji nalar dasar, terjadi jurang pemisah yang cukup mencengangkan.

Pertanyaannya, apakah ini sekadar kasus lucu-lucuan konten prank jalanan?

Dari kacamata pembangunan sumber daya manusia, tentu saja bukan.

"Kurikulum" Baru dari Layar HP

Anak-anak zaman now tumbuh di ekosistem yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Kalau dulu referensi kompetensi, etika, dan cara bersikap datangnya dari ruang kelas, buku pelajaran, atau bimbingan orang tua, sekarang ada "kepala sekolah" baru yang jauh lebih masif yakni algoritma media sosial.

Bayangkan anak-anak usia sekolah setiap hari dicekokin feed kehidupan instan, standar estetika visual yang tinggi, dan gaya hidup mewah para influencer.

Media sosial memberikan sistem reward yang sangat cepat dan adiktif berupa likes, views, dan validasi instan. Penampilan keren, outfit mahal, dan gestur tubuh yang percaya diri langsung mendulang ribuan pengikut.

Masalahnya, algoritma tidak peduli apakah seorang anak menguasai literasi dasar, bernalar kritis, atau memiliki kedalaman mental (psychological capital). Algoritma hanya mendewakan penampilan dan atensi. Akibatnya, banyak anak terjebak dalam krisis identitas: mereka sibuk merawat bungkus luarnya, sementara fondasi kognitif dan karakternya rapuh.

Kasus anak SMA yang stylish tapi gagap perkalian tadi hanyalah puncak gunung es dari pergeseran orientasi nilai di kalangan generasi muda kita.

Ancaman Nyata bagi Human Capital

Sebagai pengamat atau praktisi manajemen sumber daya manusia, situasi ini tentu mengkhawatirkan. Dalam ilmu pengembangan SDM, daya saing suatu bangsa tidak diukur dari seberapa estetik penampilan tenaga kerjanya di media sosial, melainkan dari kompetensi inti, kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kapasitas pemecahan masalah (problem solving), serta resiliensi mental mereka.

Jika generasi masa depan kita terbiasa mendefinisikan nilai diri berdasarkan seberapa banyak engagement dan validasi visual yang mereka dapatkan di internet, apa jadinya ketika mereka masuk ke dunia kerja?

Dunia profesional tidak berjalan di atas algoritma For You Page (FYP) yang penuh pujian instan. Dunia kerja menuntut ketahanan mental menghadapi tekanan, kemampuan adaptasi, dan penguasaan keahlian yang nyata—bukan sekadar polesan citra artifisial. Ketika standar hidup mereka dibentuk oleh ilusi media sosial, mereka rentan menjadi tenaga kerja yang fragile (mudah rapuh), cepat stres ketika menghadapi kritik, dan kesulitan menguasai keterampilan substansial karena terbiasa dengan segala sesuatu yang serba instan.

Urgensi Intervensi Kolektif

Menyalahkan anak-anak sepenuhnya tentu adalah tindakan yang tidak adil. Kita, sebagai orang dewasa, pendidik, dan pemangku kebijakan, adalah pihak yang menyediakan ekosistem digital ini tanpa pembekalan literasi yang memadai.

Pihak sekolah tidak boleh lagi hanya sibuk mengejar target administrasi nilai rapor, melainkan harus kembali fokus pada penguatan nalar kritis dan penanaman substansi ilmu pengetahuan. Begitu pula di rumah, orang tua harus berani menggeser obrolan dari sekadar memuji penampilan fisik anak ke arah apresiasi terhadap proses belajar, ketekunan, dan kerja keras yang autentik.

Sebab, jika kita abai, bonus demografi yang digadang-gadang akan membawa Indonesia emas justru akan melahirkan generasi yang luar biasa secara estetika, namun kosong secara substansi.

Tugas kita hari ini bukan sekadar merazia seragam sekolah atau melarang anak bermain gawai, melainkan memastikan bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari menyelamatkan nalar dan identitas mereka dari cengkeraman algoritma yang melenakan.

"The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn." (Alvin Toffler), Futuris yang mengingatkan pentingnya adaptasi kognitif di tengah perubahan zaman.

Mengutip riset dari psikolog sosial Jean Twenge dalam studinya mengenai generasi digital, paparan media sosial yang berlebihan tanpa diimbangi literasi kritis cenderung menggeser fokus anak muda dari pencapaian nyata (achievement) menuju pencarian validasi visual semata, yang pada akhirnya mengancam kesiapan mental mereka memasuki dunia profesional.[]

*Penulis adalah Dosen Universitas Prima Indonesia, Akademisi, Pengamat Pendidikan



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN