Monday, August 31, 2026
home_banner_first
OPINI

Ketika Cinta Bertemu Algoritma: Teknologi dan Cara Kita Mempertahankan Hubungan

Mistar.idSenin, 31 Agustus 2026 pukul 20.28 WIB
ketika_cinta_bertemu_algoritma_teknologi_dan_cara_kita_mempertahankan_hubungan

Ketika Cinta Bertemu Algoritma: Teknologi dan Cara Kita Mempertahankan Hubungan. (foto:dokumen Amelia/mistar)

news_banner

Oleh: Jholant Bringg Luck Amelia Sinaga SE.,MM.,M.Ak

Ada satu hal yang belakangan sering membuat saya berpikir. Teknologi membuat manusia semakin mudah terhubung, tetapi mengapa hubungan antarmanusia justru terasa semakin rumit?

Dulu tidak ada WhatsApp, last seen, centang biru, atau media sosial untuk melihat siapa yang memberi like pada foto pasangan kita. Orang bahkan pernah hidup pada masa ketika kabar dari seseorang harus ditunggu berhari-hari melalui surat.

Tentu bukan berarti hubungan orang zaman dahulu selalu lebih bahagia. Perselingkuhan, pertengkaran, dan perceraian sudah ada jauh sebelum internet ditemukan.

Tetapi mungkin ada satu hal yang berubah: cara kita menilai orang yang kita cintai.

Ketika Perasaan Mencari Pembenaran

Dulu, ketika merasa pasangan berubah, kita lebih banyak mengandalkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan sendiri. Mungkin bertanya, bertengkar, bercerita kepada sahabat, lalu mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Sekarang kita punya pilihan lain: bertanya kepada internet.

Coba cari “tanda pasangan sudah tidak mencintai kita”. Dalam beberapa detik, kita akan menemukan begitu banyak jawaban.

Masalahnya, kita biasanya tidak datang ke internet dalam keadaan netral. Kita datang membawa kecewa, marah, curiga, atau takut kehilangan.

Kita menemukan satu video yang terasa sesuai. Kita tonton sampai selesai. Kemudian muncul video serupa. Kita menonton lagi, dan besok mungkin muncul lagi.

Pelan-pelan, sesuatu yang awalnya hanya dugaan terasa seperti kenyataan.

Padahal algoritma tidak mengenal pasangan kita. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah kita. Ia hanya tahu bahwa kita tertarik pada topik tersebut, lalu memberikan lebih banyak hal yang sama.

Akhirnya kita berkata dalam hati, “Benar, kan, yang saya pikirkan.”

Dalam psikologi, kecenderungan seperti ini dikenal sebagai confirmation bias: kita lebih mudah menerima informasi yang membenarkan apa yang sudah kita yakini.

Teknologi mungkin tidak menciptakan masalah. Tetapi terkadang, ia membantu kita menemukan pembenaran atas masalah yang sedang kita pikirkan.

Saat Kita Mulai Membandingkan

Media sosial membawa persoalan lain.

Kita melihat teman mendapat bunga dari suaminya. Pasangan lain sedang berlibur. Ada yang mengunggah hadiah ulang tahun atau makan malam romantis.

Lalu kita melihat orang yang ada di sebelah kita.

Kok pasangan saya tidak pernah begitu?

Kita lupa bahwa tentang pasangan sendiri, kita tahu hampir semuanya: kebiasaan buruknya, kemarahannya, masalah pekerjaannya, cicilan, pertengkaran, bahkan mungkin suara dengkurannya.

Sementara tentang pasangan yang terlihat bahagia di Instagram, kita hanya mengetahui apa yang mereka pilih untuk diperlihatkan.

Kita membandingkan seluruh isi kehidupan kita dengan beberapa menit terbaik kehidupan orang lain.

Dan perbandingan semacam itu tidak pernah benar-benar adil.

Survei Pew Research Center terhadap 4.860 orang dewasa di Amerika Serikat pernah menemukan bahwa di antara responden yang pasangannya menggunakan media sosial, 23 persen mengaku pernah merasa cemburu atau tidak yakin terhadap hubungannya akibat interaksi pasangan di media sosial. Pada kelompok usia 18–29 tahun, angkanya mencapai 34 persen.

Lalu apakah teknologi membuat orang lebih mudah bercerai?

Saya rasa kita harus berhati-hati menjawabnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perceraian di Indonesia memiliki beragam latar belakang, dengan perselisihan dan pertengkaran terus-menerus serta persoalan ekonomi termasuk faktor yang tercatat dalam statistik perceraian.

Artinya, terlalu sederhana jika teknologi kemudian dituduh sebagai penyebab perceraian.

Teknologi mungkin bukan penyebabnya. Tetapi dalam kondisi tertentu, ia bisa menjadi pengeras suara bagi masalah yang sebenarnya sudah ada.

Cemburu bukan sesuatu yang baru. Hanya saja, sekarang kecemburuan memiliki lebih banyak tempat untuk mencari bukti.

Ternyata Bukan Hanya Soal Cinta

Semakin dipikirkan, pola yang sama sebenarnya mulai terlihat dalam kehidupan kerja.

Seseorang mungkin sebelumnya merasa cukup baik dengan pekerjaannya. Kemudian setiap hari ia melihat orang lain mengunggah promosi, gaji yang lebih tinggi, kantor yang terlihat menyenangkan, atau cerita tentang keberhasilan setelah pindah pekerjaan.

Pelan-pelan muncul pertanyaan:

“Mengapa karier saya tidak seperti mereka?”

Ketika sedang kecewa dengan tempat kerja, kita juga dapat menemukan ratusan konten tentang toxic workplace, tanda seseorang harus resign, atau cerita orang yang hidupnya jauh lebih baik setelah meninggalkan pekerjaannya.

Bukan berarti informasi tersebut salah. Bisa saja sebuah hubungan memang tidak sehat. Bisa pula sebuah tempat kerja memang buruk dan sudah waktunya ditinggalkan.

Tetapi keduanya memperlihatkan sesuatu yang sama: manusia semakin sering menilai hubungan yang nyata melalui kehidupan orang lain yang tampil di layar.

Dalam hubungan pribadi kita bertanya, “Apakah pasangan saya masih cukup baik untuk saya?”

Dalam pekerjaan kita bertanya, “Apakah tempat ini masih cukup baik untuk saya?”

Pada akhirnya, keduanya berbicara tentang manusia: tentang kepercayaan, kepuasan, komitmen, dan keputusan untuk bertahan atau pergi.

Karena itu, mungkin yang perlu kita jaga bukan jarak dari teknologi, melainkan kemampuan membedakan apa yang benar-benar terjadi dalam kehidupan dengan apa yang dikatakan layar tentang kehidupan kita.

Tidak semua kekurangan pasangan adalah red flag. Tidak semua pekerjaan yang melelahkan adalah toxic workplace. Dan tidak semua orang yang terlihat bahagia di media sosial benar-benar lebih bahagia daripada kita.

Sesekali mungkin kita memang perlu meletakkan telepon.

Lalu kembali melakukan sesuatu yang sudah dilakukan manusia jauh sebelum algoritma mengenal siapa kita: berbicara, mendengar, dan mencoba memahami.

Sebab mungkin tantangan terbesar teknologi terhadap hubungan antarmanusia bukan karena ia membuat kita semakin mudah menemukan orang atau tempat yang baru.

Tetapi karena ia membuat kita semakin mudah menemukan alasan untuk meragukan apa yang sudah kita miliki. (Penulis Dosen FEB Unpri Medan)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN