Israel Krisis Air Bersih, Limbah Gaza Diduga Picu Ledakan Alga di Laut Mediterania

Israel menghadapi gangguan pada pasokan air setelah ledakan pertumbuhan alga terjadi di sepanjang pantai Mediterania. (Foto: REUTERS/DAWOUD ABU ALKAS)
Jakarta, MISTAR.ID (7/9/2026) – Israel mengalami gangguan pasokan air bersih setelah terjadi ledakan pertumbuhan alga di sepanjang pesisir Laut Mediterania. Akibatnya, sebagian besar pabrik desalinasi utama terpaksa ditutup.
Laporan Ynet menyebut limbah domestik yang tidak diolah dari Gaza diduga menjadi pemicu meledaknya alga secara besar-besaran.
Lima dari enam pabrik desalinasi utama Israel di pesisir Mediterania terpaksa menghentikan operasi.
Perusahaan air nasional Israel, Mekorot, mengonfirmasi gangguan itu berdampak pada fasilitas yang menyuplai sebagian besar kebutuhan air minum warga.
"Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Israel. Ini kejadian yang sangat langka," kata juru bicara Mekorot, Lior Gutman.65% Air Minum Berasal dari Desalinasi.
Desalinasi menyumbang sedikitnya 65 persen dari kebutuhan air minum Israel. Karena itu penutupan pabrik menimbulkan kerentanan serius.
Pemerintah merespons dengan menambah pasokan dari Danau Galilea, sumur air tanah, dan waduk. Penggunaan air untuk irigasi pertanian dan fasilitas umum juga dibatasi sementara.
Sistem pengolahan air limbah di Gaza dilaporkan rusak parah selama perang. Data dari Ynet dan otoritas Palestina menyebut sekitar 40 ribu meter kubik air limbah tidak diolah mengalir ke laut setiap hari.
Kepala Laboratorium Perubahan Iklim Universitas Ben-Gurion, Avner Gross, menjelaskan pertumbuhan alga pesat membutuhkan air hangat serta unsur fosfor dan nitrogen.
"Saya tidak memiliki penjelasan lain selain sumber polusi di Jalur Gaza selatan," ujarnya kepada Ynet.
Dalam unggahan di X, Gross menyebut Laut Mediterania saat ini seperti "bak mandi" karena pemanasan global.
Ditambah polusi, hal itu menciptakan "badai sempurna" bagi ledakan alga.Kepala organisasi lingkungan Israel Zalu, Noga Armi, juga menilai pembuangan limbah dari Gaza berkontribusi pada fenomena tersebut.
Namun tidak semua ilmuwan sepakat. Ahli ekologi kelautan Institut Oseanografi Nasional Israel, Tamar Guy-Haim, menilai kemungkinan limbah Gaza sebagai penyebab utama relatif kecil.
Para peneliti masih menelusuri spesies pasti alga jenis sianobakteri Synechococcus yang memicu ledakan ini.
Faktor lain yang dipertimbangkan adalah peningkatan suhu laut, intensitas matahari, arus, dan badai.Peneliti Lembaga Penelitian Oseanografi dan Limnologi Israel, Or Bialik, menyebut kondisi ini belum pernah ia lihat.
"Airnya hijau seperti danau. Kekeruhannya sangat tinggi," katanya kepada Haaretz.Peneliti air Universitas Ben-Gurion, Edo Bar-Zeev, memperingatkan kejadian serupa bisa semakin sering terjadi akibat perubahan iklim."Ini bukan peristiwa sekali seumur hidup. Dengan suhu laut yang terus naik, kejadian ini akan berulang," ujarnya kepada CNN.(CNN/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Yaman Gempur Houthi dengan 13 Serangan udara: Posisi, Rudal, dan Pos Komando Jadi Sasaran




































