Belum Bayar Maintenance, Penghuni Perumahan Royal Sumatera Mengaku Dihadang Satpam dan Preman

Salah seorang pemilik rumah di Royal Sumatera Kota Medan, Antonius Surbakti. (Foto: Matius/Mistar)
Medan, MISTAR.ID – Seorang penghuni perumahan Royal Sumatra di Jalan Jamin Ginting Kota Medan, Antonius Surbakti, 65 tahun, mengaku dihadang pihak keamanan dan sejumlah pria yang diduga preman saat hendak membawa barang miliknya dari dalam kompleks.
Antonius yang tinggal di blok Safri dan blok townhouse Royal Sumatra tersebut mengatakan penghadangan terjadi karena ia belum membayar maintenance atau biaya penjagaan, pemeliharaan, dan perawatan kompleks sebesar Rp300 ribu per bulan.
"Saya juga terkejut, ada hampir dua minggu seluruh barang-barang saya, berupa bahan konstruksi usaha saya dilarang keluar dari kompleks Royal Sumatra," ujar Antonius, Senin (14/9/2025) malam di Kota Medan.
Antonius menjelaskan, ia kemudian mengonfirmasi persoalan tersebut kepada pihak penjagaan dan pengelola perumahan. Menurutnya, saat penandatanganan akta jual beli rumah, tidak ada kesepakatan tertulis mengenai biaya maintenance tersebut.
Ia mengaku mulai tinggal di blok Safri sejak 2007 dan kemudian membeli satu unit lagi di blok townhouse. Menurut Antonius, saat membeli rumah, pihak developer menjanjikan sejumlah fasilitas umum, seperti tempat ibadah, kolam renang dan taman. Namun, fasilitas tersebut disebutnya tidak kunjung dibangun hingga bertahun-tahun.
Hal itu membuat Antonius keberatan membayar maintenance. Ia mengaku tidak lagi membayar iuran tersebut karena merasa janji fasilitas yang diberikan pihak pengelola tidak dipenuhi.
"Saat kita membeli rumah disana. Pertama kali saya membeli di blok Safri itu tahun 2007 dan kemudian saya membeli 1 lagi di blok townhouse pada tahun 2003. Saat itu, pihak developer banyak memberikan janji, seperti membangun fasilitas umum, tempat ibadah, kolam renang, taman dan rumah ibadah. Namun hingga puluhan tahun itu tidak kunjung dibangun, sehingga kita kesal. Dan itulah awalnya saya tidak mau membayar maintenance tersebut," ujar Antonius.
Menurut Antonius, beberapa kali karyawannya yang hendak mengambil barang dari unit miliknya juga dilarang masuk. Ia menyebut petugas keamanan didampingi sejumlah pria yang menurutnya berpakaian seperti preman.
"Gara-gara saya tak bayar, kemarin, ya beberapa kali karyawan saya mengangkat barang dari situ, mereka larang masuk. Diperintahkannya security didampingi dengan beberapa preman, gitu. Ini, ya saya anggap preman walaupun dia pengawas luar katanya, saya enggak tahu. Yang pasti dia tidak punya atribut pakaian untuk menghadang mobil saya ke dalam. Jadi kalau saya lakukan perlawanan, saya buka pintu itu, keluarlah mobil kita. Terakhir ini, kira-kira dua hari tiga hari yang lalu," tuturnya.
Antonius mengaku sempat terpancing emosi akibat penghadangan tersebut. Namun, ia memilih tidak melakukan perlawanan karena khawatir terlibat masalah hukum.
Ia juga mengaku telah membayar maintenance secara cicil selama 16 bulan. Meski demikian, menurutnya, pihak pengelola tetap menghadang kendaraannya.
"Karena teman-teman menasehati jangan melakukan kekerasan, nanti jadi masalah hukum. Nah, jadi saya datangi beberapa security. Saya pun malas ribut-ribut, saya berupaya juga melunasinya. Saya bayar 16 bulan. Nah, saya pikir sudah amanlah, karena saya bilang, 'Ya nanti saya lunasi dalam 3 bulan, karena dana saya juga belum keluar di pekerjaan saya. Ternyata mereka masih juga menggunakan oknum-oknum security bersamapreman. Seolah-olah seperti mengintimidasi gitu, mengancam," tambahnya lagi.
Antonius menyebut, dirinya bukan satu-satunya penghuni yang tidak membayar maintenance. Ia pun berencana membawa persoalan tersebut ke ranah hukum jika tidak ada penyelesaian dari pihak pengelola perumahan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola Royal Sumatra atau Manajer Estate Royal Sumatra, Erwin belum memberikan tanggapan mengenai masalah ini meski telah dihubungi melalui WhatsApp.[]
PREVIOUS ARTICLE
Ini Daftar Nama Murid SMKN 1 Merdeka Korban Keracunan MBG








































