Di Balik Musik Keras, Gigs Simpan Ruang Perlawanan dan Kontradiksi

Ilustrasi gigs. (Foto: Dok. Adhe Junaedy)
Medan, MISTAR.ID (2/11/2026) — Menyaksikan pertunjukan gigs bagi Derry (25), pemuda asal Medan, Sumatera Utara, tak sekadar melompat mengikuti musik atau mengenakan pakaian yang disukai. Ruang itu justru berkembang menjadi pembicaraan tentang pekerjaan, lingkungan, politik, hingga pengalaman sehari-hari.
"Dan yang lebih penting dari itu semua, mengkritik pemerintah," kata Derry yang sudah 4 tahun terakhir menyukai gigs, Selasa (2/11/2026).
Gigs adalah pertunjukan musik berskala kecil yang menampilkan beberapa aliran musik bawah tanah, seperti rock, punk, metal, hardcore, dan lainnya.
Selain mencakup berbagai genre, gigs biasanya melibatkan artis lokal, band independen, atau musisi yang belum begitu terkenal secara nasional.
Gigs juga selalu berlangsung tanpa panggung megah di ruang yang relatif sederhana. Gigs hadir dengan mempertemukan musisi dan penonton tanpa sekat.
Ketika berada di tengah pertunjukan gigs, keresahan yang Derry bawa dari rumah dituangkan dengan banyak cara, lebih sering lewat teriakan.
"Gigs enggak hanya berhenti sampai di tahap adu estetika, tapi dia juga menjadi ruang penyaluran bagaimana keresahan kami sebagai pribadi, juga sebagai kolektif," ujarnya.
"Bagi aku, gigs itu juga merupakan perlawanan," imbuhnya.
Berbeda dengan Derry, Sarah, bukan nama sebenarnya, mengatakan pertunjukan gigs tidak selalu aman bagi perempuan.
Dalam setiap pertunjukan, ketika musisi mulai bernyanyi, penonton akan berkerumun. Ketika suasana gigs mulai terlalu penuh dan dorongan penonton membuatnya tidak nyaman, perempuan berusia 25 tahun itu memilih menepi.
Sebagai perempuan yang menyukai gigs, Sarah pernah mengalami hal yang mengancam kenyamanannya. Ia pernah menemukan tindakan verbal maupun fisik yang membuat perempuan tidak nyaman.
Bukan hanya penonton, bahkan tak jarang hal tersebut justru datang dari para musisi.
"Kebebasan itu tidak selalu berarti rasa aman," ucapnya.
Meski demikian, ia tetap datang karena tertarik pada sejumlah musisi akar rumput yang menurutnya menyampaikan kritik sosial melalui musik mereka.
Gigs, Ruang Sosial yang Diproduksi dan Kontradiksi di Dalamnya
Sosiolog Universitas Negeri Medan (Unimed), Sry Lestari Samosir, mengatakan gigs tidak hanya dimaknai sebagai pertunjukan musik yang menampilkan musisi di atas panggung dan disaksikan penonton. Gigs juga merupakan ruang interaksi sosial.
Pengunjung datang tidak hanya untuk mendengarkan band yang tampil, tetapi juga untuk bertemu orang lain dan berdiskusi mengenai musik, pekerjaan, keresahan sosial, politik, lingkungan, serta persoalan sehari-hari.
"Dalam konteks tersebut, gigs telah berfungsi sebagai ruang sosial," katanya kepada MISTAR.ID, Senin petang.
Menurut Sry, hal tersebut dapat dijelaskan melalui pemikiran Henri Lefebvre tentang produksi ruang. Ruang tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi juga diproduksi melalui praktik sosial manusia. Dengan demikian, gudang kecil, kafe, taman, atau ruang komunitas dapat berubah maknanya ketika digunakan secara berulang oleh komunitas untuk bertemu, berdiskusi, berkarya, dan membangun jaringan.
Sementara itu, ketika gigs menjadi perlawanan, hal itu ditandai dari pertanyaan-pertanyaan soal hal-hal yang dianggap mapan atau tidak adil.
Sebagai contoh, kata Sry, anak muda yang merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial kemudian membuat gigs secara mandiri. Mereka menentukan sendiri siapa yang tampil, isu apa yang diangkat, dan bagaimana acara tersebut dikelola.
"Dengan demikian, perlawanan tidak selalu harus berbentuk demonstrasi. Menciptakan ruang alternatif ketika ruang dominan dinilai tidak memberikan tempat juga dapat menjadi bentuk perlawanan sosial," jelasnya.
Berangkat dari pengalaman Sarah, Sry mengatakan gigs tidak otomatis menjadi perlawanan hanya karena liriknya mengandung kritik sosial. Hal itu perlu dilihat secara lebih kritis agar gigs tidak diromantisasi sebagai gerakan perlawanan.
"Perlawanan dalam musik tidak cukup dinilai dari teks lagu semata, tetapi juga dari praktik sosial yang terjadi di dalam komunitasnya," ujarnya.
"Kita perlu hati-hati agar tidak meromantisasi semua gigs sebagai gerakan perlawanan," imbuhnya.
Misalnya, terdapat lagu dengan lirik sangat keras yang mengkritik kapitalisme. Namun, setelah pertunjukan selesai, perilaku komunitasnya justru berjalan dalam logika industri yang dikritik.
"Apakah itu otomatis menjadi perlawanan? Belum tentu," katanya.
Dalam kajian sosiologi, yang dilihat bukan hanya teks, tetapi praktik sosialnya. Sejumlah pertanyaan mendasar perlu diajukan, seperti siapa yang diberi ruang untuk tampil, apakah perempuan dan kelompok minoritas juga memiliki ruang, serta bagaimana harga tiket ditentukan.
Selain itu, perlu dilihat apakah ada upaya membuat gigs dapat diakses kelompok ekonomi yang berbeda, bagaimana komunitas memperlakukan pekerja, musisi, dan penontonnya, serta apakah terdapat solidaritas ketika salah satu anggota komunitas mengalami persoalan.
"Hal-hal sehari-hari seperti itu justru penting," katanya.
Ia menegaskan indikator perlawanan tidak cukup dilihat dari seberapa keras lirik sebuah lagu. Kritik tersebut perlu diterjemahkan menjadi praktik, nilai, solidaritas, atau bentuk organisasi alternatif.
"Bisa saja liriknya sangat revolusioner, tetapi praktik sosialnya justru sangat eksklusif. Di situ terdapat kontradiksi yang menarik untuk dibaca secara sosiologis," tutupnya. (junaidin/hm02)
PREVIOUS ARTICLE
Martha Stewart Dikecam Gegara Kostum Halloween Mirip Tunawisma, Foto Dihapus dan Minta Maaf









































