Monday, November 2, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Budaya Mekongga di Kolaka: Sejarah, Musik Bambu Baasi, hingga Ritual Adat yang Siap Diperkenalkan ke Generasi Muda

Mistar.idSenin, 2 November 2026 pukul 20.37 WIB
budaya_mekongga_di_kolaka_sejarah_musik_bambu_baasi_hingga_ritual_adat_yang_siap_diperkenalkan_ke_generasi_muda

Mosehe Wonua di Makam Sangia Nibandera. (foto:diskominfo.kolaka/mistar)

Pematangsiantar, MISTAR.ID (2/11/2026) — Sejarah kerajaan, musik bambu Baasi, tarian tradisional hingga ritual adat menjadi kekayaan budaya Mekongga yang diwariskan lintas generasi. Kini, warisan leluhur masyarakat asli Kolaka, Sulawesi Tenggara, tersebut akan mendapat panggung khusus melalui penyelenggaraan Hari Kebudayaan Mekongga pertama pada 13–19 November 2026.

Peringatan ini bukan sekadar festival kesenian, melainkan momentum memperkenalkan kembali identitas Mekongga sekaligus mengajak generasi muda mengenal sejarah dan tradisi daerahnya.

Berdasarkan agenda Pemerintah Kabupaten Kolaka, kegiatan akan diawali dengan pembukaan dan pawai budaya pada 13 November. Selanjutnya, Alun-Alun 19 November Kolaka menjadi pusat pertunjukan dan lomba seni pada 14–18 November.

Berbagai kesenian akan ditampilkan, mulai dari tari tradisional dan kreasi Mekongga, musik bambu Baasi, pidato bahasa Mekongga, Mombesara hingga Moanggo. Rangkaian kegiatan juga mencakup tradisi adat, termasuk Monahundau di Museum Adat Bende dan Mepae-Pae atau permainan tempo dulu.

Puncak peringatan dijadwalkan pada 19 November melalui upacara Hari Kebudayaan Mekongga, pembacaan ikrar adat Wonua Mekongga, serta pertunjukan seni dan budaya.

Mengenal Sejarah dan Identitas Masyarakat Mekongga

Budaya Mekongga memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan Kerajaan Mekongga, yang pusat kekuasaannya secara tradisional dikenal berada di kawasan Wundulako, Kabupaten Kolaka.

Dalam cerita turun-temurun masyarakat, nama Mekongga berkaitan dengan kisah Konggaaha, seekor burung raksasa yang konon pernah mengganggu kehidupan penduduk.

Kisah tersebut juga menyebut Larumbalangi sebagai tokoh yang berperan dalam pembentukan Kerajaan Mekongga, sementara Wekoila dikenal sebagai saudaranya yang melanjutkan perjalanan ke wilayah Konawe.

Cerita Larumbalangi dan Konggaaha menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Di dalamnya terkandung nilai keberanian, kepemimpinan, dan perjuangan mempertahankan kehidupan komunitas.

Warisan sejarah ini memperlihatkan bahwa identitas Mekongga tidak hanya dibangun melalui kesenian, tetapi juga melalui cerita leluhur, bahasa, adat istiadat, dan nilai sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Musik Bambu Baasi hingga Mosehe Wonua, Kekayaan Tradisi Mekongga

Salah satu kekayaan budaya yang akan diperkenalkan dalam peringatan tersebut adalah musik bambu Baasi. Kesenian ini menjadi bagian dari ekspresi musikal tradisional yang memperkaya khazanah budaya Mekongga.

Selain Baasi, masyarakat juga mengenal berbagai bentuk kesenian dan tradisi bertutur, termasuk tari tradisional, Mombesara, dan Moanggo.

Kekayaan budaya Mekongga juga tercermin melalui ritual adat Mosehe Wonua. Tradisi ini dikenal sebagai ritual penyucian negeri yang mengandung makna membersihkan manusia dan lingkungan sosial dari berbagai kesalahan maupun konflik.

Mosehe Wonua memiliki nilai kebersamaan, keharmonisan, dan pemulihan hubungan sosial. Pelaksanaannya melibatkan tokoh adat serta tata cara ritual yang diwariskan secara turun-temurun.

Penelitian etnobotani yang diterbitkan dalam AMPIBI: Jurnal Alumni Pendidikan Biologi pada 2021 juga mendokumentasikan pemanfaatan berbagai tumbuhan dalam ritual Mosehe Wonua masyarakat Tolaki-Mekongga di Kolaka.

Hal ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya berupa pertunjukan atau upacara, tetapi juga mencakup pengetahuan tradisional tentang alam dan lingkungan.

Hari Kebudayaan Mekongga 2026, Mengapa Generasi Muda Perlu Mengenal Tradisi Leluhur?

Penyelenggaraan Hari Kebudayaan Mekongga pertama menjadi kesempatan untuk mendekatkan warisan leluhur kepada generasi muda.

Keterlibatan pelajar dan masyarakat dalam berbagai pertunjukan diharapkan membuka ruang pembelajaran budaya secara langsung. Anak-anak muda tidak hanya mengenal nama kesenian, tetapi juga berkesempatan memahami nilai dan sejarah di balik setiap tradisi.

Tantangan pelestarian budaya saat ini tidak ringan. Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, serta pengaruh budaya global membuat pewarisan bahasa dan tradisi daerah membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif.

Karena itu, pelestarian budaya Mekongga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, dokumentasi sejarah, regenerasi pelaku seni, serta keterlibatan keluarga, komunitas, tokoh adat, dan pemerintah daerah.

Budaya juga perlu dikembangkan sebagai sumber pengetahuan dan potensi ekonomi masyarakat, termasuk melalui pariwisata budaya dan kegiatan kreatif, tanpa menghilangkan nilai sakral tradisi adat.

Merawat Wonua Mekongga, Menjaga Identitas untuk Masa Depan

Hari Kebudayaan Mekongga 2026 diharapkan menjadi awal penguatan pelestarian budaya lokal di Kabupaten Kolaka.

Pawai budaya, musik bambu Baasi, tarian tradisional, bahasa daerah, hingga ritual adat merupakan kekayaan yang tidak cukup hanya ditampilkan dalam festival. Seluruhnya membutuhkan proses pewarisan agar tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Keberhasilan pelestarian budaya pada akhirnya bukan hanya diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari sejauh mana generasi penerus memahami sejarah, menghargai adat, dan bersedia menjaga warisan leluhur.

Melalui momentum ini, masyarakat Kolaka diharapkan semakin mengenal dan mencintai budaya Mekongga sebagai bagian dari jati diri daerah.

Sebab, menjaga budaya bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan memastikan identitas Wonua Mekongga tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.

(diskominfokolaka/infopublik/dinaspariwisatakolaka/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN