Friday, October 9, 2026
home_banner_first
BUDAYA

Festival Asmat Pokman ke-38: Ukiran Leluhur Jadi Peluang Ekonomi Kreatif Papua Selatan

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 21.07 WIB
festival_asmat_pokman_ke38_ukiran_leluhur_jadi_peluang_ekonomi_kreatif_papua_selatan

Festival Asmat Pokman ke-38: Ukiran Leluhur Jadi Peluang Ekonomi Kreatif Papua Selatan. (foto ilustrasi:getlost.id/gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (9/10/2026) — Bagaimana warisan leluhur bisa tetap hidup sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat adat? Festival Asmat Pokman ke-38 menawarkan jawabannya melalui seni ukir, kerajinan anyaman, dan peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Berlangsung pada 7–10 Oktober 2026 di Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, festival ini mengangkat tema “Mengukir Warisan Asmat, Merajut Ekonomi Kreatif, Berkarya dalam Seni, Tumbuhkan Ekonomi Kreatif.” Lebih dari sekadar perayaan budaya, Festival Asmat Pokman menjadi ruang untuk memperkuat identitas masyarakat Asmat, meneruskan keterampilan antargenerasi, dan memperluas pasar karya perajin lokal.

Festival Asmat Pokman, Menjaga Identitas Lewat Seni Ukir

Bagi masyarakat Asmat, seni ukir bukan sekadar karya dekoratif. Di balik pahatan kayu, terdapat pengetahuan tradisional, nilai kehidupan, serta hubungan masyarakat dengan leluhur dan lingkungan.

Karena itu, pelestarian ukiran Asmat tidak cukup dilakukan dengan memamerkan hasil karya. Makna budaya, keterampilan, dan pengetahuan yang menyertainya juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Festival Asmat Pokman menyediakan ruang bagi seniman dan perajin untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas. Dukungan pemerintah daerah, komunitas budaya, dan lembaga terkait menjadi penting agar warisan tersebut tetap berkembang tanpa kehilangan akar tradisinya.

Fakta Unik Festival Asmat: Berawal dari Lomba Ukir

Festival Asmat Pokman memiliki sejarah panjang. Menurut Asmat Museum, penyelenggaraan perdananya berlangsung pada 1981. Festival ini berkembang dari kegiatan lomba ukir menjadi perhelatan budaya yang menghadirkan beragam ekspresi seni masyarakat Asmat.

Nama Pokman juga memiliki makna menarik. Istilah tersebut berasal dari bahasa Asmat dialek rumpun Bismam: pok berarti karya, sedangkan man atau mban berarti tangan. Maknanya merepresentasikan karya yang lahir dari keterampilan tangan masyarakat.

Selain ukiran kayu, kerajinan anyaman dan pertunjukan budaya turut memperlihatkan kekayaan tradisi Asmat. Pada Festival Asmat Pokman ke-37 tahun 2024, seni ukir dan anyaman kembali menjadi bagian penting dari promosi budaya serta pengembangan ekonomi kreatif masyarakat Asmat. Data tersebut menunjukkan potensi kerajinan Asmat untuk menjangkau pasar yang lebih luas, meski bukan merupakan angka penjualan Festival 2026.

Regenerasi Perajin Jadi Kunci Masa Depan Budaya Asmat

Salah satu tantangan pelestarian budaya adalah memastikan generasi muda bersedia mempelajari keterampilan yang diwariskan para pendahulu.

Keahlian mengukir membutuhkan latihan, ketekunan, pemahaman bahan, dan pengetahuan mengenai makna karya. Karena itu, keterlibatan perajin muda perlu didukung melalui pembelajaran bersama seniman senior, ruang pamer, serta kesempatan memperoleh penghasilan dari hasil karya mereka.

Festival dapat menjadi titik awal untuk mempertemukan generasi muda dengan para perajin berpengalaman. Namun, keberlanjutan regenerasi membutuhkan program yang berjalan sepanjang tahun, bukan hanya selama acara berlangsung.

Inovasi desain dan pemasaran digital juga berpotensi memperluas jangkauan karya Asmat. Pengembangannya perlu tetap menghormati nilai adat, persetujuan masyarakat, serta hak perajin atas karya dan pengetahuan tradisional mereka.

Ekonomi Kreatif Harus Memberi Manfaat bagi Perajin

Seni ukir dan anyaman memiliki peluang ekonomi karena nilai produknya tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga keterampilan, keunikan, dan makna budaya yang melekat.

Melalui pameran, demonstrasi, dan lelang, festival berpotensi mempertemukan perajin dengan pembeli serta membuka jaringan pemasaran baru. Namun, peningkatan transaksi belum tentu otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila manfaat ekonominya tidak terdistribusi secara adil.

Karena itu, pengembangan ekonomi kreatif Asmat perlu memperhatikan transparansi harga, penghargaan terhadap pembuat karya, akses pasar, dan pembagian manfaat yang layak bagi masyarakat pemilik budaya.

Keberhasilan festival juga penting diukur dari dampak setelah acara selesai: apakah pesanan berlanjut, pendapatan perajin meningkat, dan semakin banyak generasi muda yang meneruskan keterampilan leluhur.

Festival Asmat Pokman, Merawat Warisan untuk Masa Depan

Festival Asmat Pokman ke-38 mempertemukan dua agenda penting: menjaga warisan budaya dan membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat adat.

Pelestarian akan lebih berkelanjutan ketika perajin mendapat penghidupan yang layak, generasi muda memiliki ruang belajar, dan masyarakat Asmat tetap berperan menentukan bagaimana kebudayaannya dikembangkan.

Pada akhirnya, keberhasilan Festival Asmat bukan hanya tentang ramainya pengunjung atau banyaknya karya yang dipamerkan. Ukurannya adalah sejauh mana tradisi tetap hidup, keterampilan terus diwariskan, dan manfaat ekonomi kembali kepada masyarakat yang menjaga warisan tersebut.

Dengan demikian, ukiran Asmat bukan sekadar peninggalan leluhur, melainkan identitas hidup yang berpotensi menggerakkan masa depan ekonomi kreatif Papua Selatan.

(rri/portalpemkabasmat/asmatmuseum/eventdaerahkemenpar/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN