Friday, October 9, 2026
home_banner_first
BUDAYA

El Niño Ancam Warisan Budaya Dunia, Bisakah Situs Bersejarah Diselamatkan Sebelum Terlambat?

Mistar.idJumat, 9 Oktober 2026 pukul 21.46 WIB
el_nio_ancam_warisan_budaya_dunia_bisakah_situs_bersejarah_diselamatkan_sebelum_terlambat

El Niño Ancam Warisan Budaya Dunia, Bisakah Situs Bersejarah Diselamatkan Sebelum Terlambat? (foto ilustrasi:gemini/mistar)

news_banner

Pematangsiantar, MISTAR.ID (9/10/2026) — Krisis iklim tidak hanya mengancam kehidupan manusia dan ekosistem, tetapi juga warisan budaya yang menyimpan identitas dan sejarah peradaban. Dari situs bersejarah yang terancam banjir hingga rumah adat yang rentan kebakaran, perubahan iklim menuntut pendekatan pelestarian yang lebih mengutamakan kesiapsiagaan.

Menjelang potensi dampak El Niño pada 2026–2027, UNESCO mendukung upaya memperkuat kesiapsiagaan warisan budaya di sejumlah wilayah, termasuk Timor-Leste. Pendekatan ini menempatkan pemetaan risiko, dokumentasi pengetahuan tradisional, dan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari perlindungan sebelum bencana terjadi.

Program ini menekankan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi, mulai dari pemetaan risiko hingga penguatan kapasitas komunitas. Pesannya jelas: pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan restorasi setelah kerusakan terjadi.

El Niño dan Krisis Iklim Mengancam Warisan Sejarah

El Niño merupakan fenomena iklim alami yang memengaruhi pola suhu dan curah hujan di berbagai belahan dunia. Dampaknya dapat meningkatkan risiko kekeringan, hujan ekstrem, banjir, dan kebakaran di sejumlah wilayah, meski tingkat ancamannya berbeda-beda.

Bagi warisan budaya, dampak tersebut bisa muncul dalam berbagai bentuk. Banjir dapat merusak fondasi bangunan bersejarah, manuskrip, dan koleksi museum. Kekeringan serta kebakaran mengancam bangunan kayu dan lanskap budaya, sementara kelembapan dan perubahan suhu dapat mempercepat kerusakan material bersejarah.

UNESCO mencatat hampir sepertiga dari 318 kota Warisan Dunia yang masuk dalam statistiknya berada di kawasan pesisir dan terdampak perubahan iklim. Angka ini memperlihatkan besarnya tantangan perlindungan warisan di tengah kenaikan permukaan laut dan perubahan kondisi lingkungan.

Kerugian yang muncul juga melampaui kerusakan fisik. Ketika situs budaya terdampak, masyarakat dapat kehilangan sumber penghidupan, ruang ritual, tradisi, hingga pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Strategi UNESCO: Bersiap Sebelum Bencana Datang

Melalui Culture × El Niño, UNESCO mendorong negara untuk memasukkan perlindungan budaya ke dalam sistem kesiapsiagaan bencana. Tahap awal program ini didukung alokasi US$150.000 dari Heritage Emergency Fund.

Pendekatan tersebut mencakup identifikasi situs dan koleksi yang rentan, penyusunan rencana darurat, penguatan kemampuan petugas, serta koordinasi antara pengelola warisan, pemerintah, dan komunitas lokal.

Bagi museum, kesiapsiagaan berarti menyiapkan prosedur penyelamatan koleksi, penyimpanan alternatif, pencadangan dokumentasi, dan perlindungan dari banjir maupun kelembapan. Sementara itu, pengelola situs bersejarah perlu memantau kondisi bangunan, memperbaiki drainase, dan menyiapkan prosedur tanggap darurat.

Namun, teknologi dan infrastruktur saja tidak cukup. Perlindungan juga harus mencakup tradisi lisan, kerajinan, pengetahuan ekologis, dan praktik budaya yang bergantung pada lingkungan.

Negara Berkembang dan Negara Maju Menghadapi Tantangan Berbeda

Krisis iklim mengancam warisan budaya di seluruh dunia, tetapi kemampuan menghadapi dampaknya tidak merata.

Di sejumlah negara berkembang, keterbatasan anggaran, tenaga konservasi, dokumentasi, dan fasilitas penyimpanan dapat menghambat kesiapsiagaan. Perlindungan situs budaya juga belum selalu terintegrasi dengan perencanaan kebencanaan.

Negara maju umumnya memiliki akses lebih besar terhadap teknologi pemantauan dan fasilitas konservasi. Meski demikian, mereka tetap menghadapi tantangan berupa biaya adaptasi yang tinggi, kompleksitas pemeliharaan bangunan tua, dan konflik antara pelestarian dengan kebutuhan pembangunan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa strategi perlindungan tidak bisa diseragamkan. Pemetaan risiko perlu disertai pendanaan, tenaga terlatih, dan tata kelola yang memungkinkan informasi tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Kerja sama internasional karena itu perlu melampaui bantuan peralatan. Penguatan lembaga lokal, pelatihan konservasi, dokumentasi digital, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya.

Timor-Leste dan Yogyakarta: Komunitas di Garis Depan Adaptasi

Di Timor-Leste, perhatian terhadap warisan budaya mencakup Uma Lulik, rumah sakral yang memiliki nilai spiritual dan sosial bagi masyarakat. Bangunan yang menggunakan material alami dapat menghadapi risiko kebakaran, sementara perubahan lingkungan juga berpotensi memengaruhi bahan dan praktik tradisional, termasuk tenun Tais.

UNESCO mendukung kegiatan kesiapsiagaan senilai US$30.000 yang melibatkan otoritas kebencanaan, pemerintah lokal, dan komunitas. Upayanya mencakup identifikasi kerentanan, pendokumentasian pengetahuan tradisional, dan penguatan kesiapsiagaan.

Di Indonesia, UNESCO juga mengumumkan rencana percontohan adaptasi iklim berbasis masyarakat di tiga kampung dalam zona penyangga Sumbu Kosmologis Yogyakarta. Program yang direncanakan berlangsung hingga Februari 2027 ini bertujuan membantu warga mengembangkan dan menguji solusi adaptasi sesuai kebutuhan lokal.

Kedua contoh tersebut menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar penerima bantuan. Mereka memiliki pengetahuan mengenai lingkungan, penggunaan ruang, material tradisional, dan praktik budaya yang penting dalam merancang perlindungan.

Digitalisasi dan Pengetahuan Lokal Jadi Kunci

Salah satu strategi yang semakin penting adalah digitalisasi warisan budaya. Pemindaian tiga dimensi, fotografi terukur, katalog digital, dan pencadangan arsip dapat membantu menyimpan informasi tentang bangunan maupun koleksi sebelum bencana terjadi.

Dokumentasi digital memang tidak dapat menggantikan benda asli, tetapi dapat membantu penelitian, konservasi, dan rekonstruksi apabila kerusakan terjadi. Upaya ini perlu disertai pencadangan data di lokasi terpisah dan pengamanan sistem penyimpanan.

Di sisi lain, pengetahuan tradisional juga dapat membantu masyarakat beradaptasi. Teknik bangunan, sistem pengelolaan air, pemanfaatan bahan lokal, dan pengetahuan tentang lingkungan dapat memberikan pelajaran bagi upaya menghadapi perubahan iklim.

UNESCO juga melaporkan bahwa setelah COP30, sebanyak 59 indikator adaptasi iklim global diadopsi, termasuk lima indikator yang berkaitan dengan warisan budaya dan alam. Indikator tersebut membantu negara mengukur penerapan langkah adaptasi, perlindungan melalui digitalisasi, kesiapsiagaan darurat, pelatihan, serta keterlibatan masyarakat. Kerangka ini menyediakan acuan untuk menilai kemajuan, tetapi efektivitasnya bergantung pada pelaksanaan dan pelaporan di tingkat nasional maupun lokal.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa perlindungan warisan budaya semakin dipandang sebagai bagian dari agenda adaptasi iklim, bukan sekadar urusan konservasi.

Apa yang Perlu Dilakukan Indonesia?

Indonesia memiliki warisan budaya yang beragam, mulai dari candi dan kota bersejarah hingga permukiman tradisional, museum, dan tradisi masyarakat. Setiap jenis warisan menghadapi risiko berbeda sehingga membutuhkan strategi yang sesuai dengan kondisi setempat.

Langkah pertama adalah memetakan ancaman iklim dan mengidentifikasi situs serta koleksi yang paling rentan. Data tersebut perlu diintegrasikan ke dalam rencana kebencanaan daerah, lengkap dengan prosedur penyelamatan, pembagian tanggung jawab, dan koordinasi antarinstansi.

Museum dan arsip juga perlu memperkuat dokumentasi digital, pencadangan data, penyimpanan yang aman, serta latihan evakuasi. Sementara itu, komunitas adat, pengrajin, dan penjaga tradisi harus dilibatkan dalam menentukan prioritas perlindungan.

Pendanaan berkelanjutan menjadi faktor penentu. Anggaran pemeliharaan rutin dan kesiapsiagaan perlu tersedia sebelum bencana terjadi, bukan baru dicari setelah situs mengalami kerusakan.

Pendekatan berbasis masyarakat yang direncanakan di Yogyakarta dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kawasan lain, dengan penyesuaian terhadap ancaman dan kebutuhan lokal.

Menyelamatkan Warisan Budaya Berarti Menjaga Masa Depan

Krisis iklim memaksa dunia memperluas cara pandang terhadap pelestarian budaya. Menjaga bangunan tetap berdiri dan koleksi tetap utuh merupakan bagian penting, tetapi perlindungan juga harus memastikan tradisi, pengetahuan, dan komunitas yang menopang warisan tersebut dapat terus hidup.

Inisiatif Culture × El Niño menegaskan pentingnya bertindak sebelum bencana terjadi. Bagi Indonesia, tantangannya adalah menerjemahkan kesadaran itu menjadi langkah nyata melalui pemetaan risiko, rencana darurat, pendanaan, dokumentasi, dan pelibatan masyarakat.

Sebab, warisan budaya yang berhasil diselamatkan bukan hanya peninggalan yang bertahan dari perubahan iklim. Warisan itu juga harus tetap bermakna dan dapat diteruskan kepada generasi mendatang.

(unesco/*/hm27)



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN