Wednesday, November 4, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Tumbuh Tapi Melambat! Ekonomi RI Diprediksi 5,20% di Kuartal III-2026, Ini Biang Pelambatnya

Mistar.idRabu, 4 November 2026 pukul 21.48 WIB
tumbuh_tapi_melambat_ekonomi_ri_diprediksi_520_di_kuartal_iii2026_ini_biang_pelambatnya_

Ilustrasi, ekonomi RI Kuartal III-2026 dengan grafik melambat ke 5,20%. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

Jakarta, MISTAR.ID (4/11/2026) — Di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, perekonomian Indonesia diperkirakan tetap bertahan di atas 5% pada kuartal III-2026. Namun, lajunya diproyeksi melambat.

Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 pada Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,20% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2026. Secara kuartalan, ekonomi diproyeksi tumbuh 1,33% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Sebagai pembanding, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% yoy dan 3,73% qtq. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan tercatat 5,61% yoy.

Jika proyeksi tersebut sesuai dengan data BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat selama dua kuartal berturut-turut, dari 5,61% menjadi 5,29%, lalu 5,20%. Meski demikian, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 yang mencapai 5,04% yoy.

Konsumsi Melemah, Daya Beli Tertekan

Menurut Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman, perlambatan terutama akibat melemahnya konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, terutama didorong oleh perlambatan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah,” ujar Juniman kepada CNBC Indonesia.

Ia menjelaskan, daya beli masyarakat masih tertekan akibat meningkatnya biaya hidup. Sementara dorongan belanja pemerintah juga diperkirakan tidak sekuat kuartal sebelumnya.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama karena menyumbang lebih dari separuh perekonomian nasional. Pada kuartal II-2026, konsumsi tumbuh 5,06% yoy.

Tantangan datang dari inflasi yang naik sepanjang kuartal III. BPS mencatat inflasi tahunan meningkat dari 2,88% pada Juli menjadi 3,19% pada Agustus, lalu 3,28% pada September 2026. Angka ini masih dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%, tetapi tetap menekan belanja kelompok berpendapatan rendah dan menengah.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia tercatat 116,8 pada Juli, naik menjadi 118,5 pada Agustus, lalu turun tipis menjadi 118,1 pada September. Indeks di atas 100 menandakan masyarakat masih optimistis, tetapi tetap berhati-hati.

Penjualan eceran juga tumbuh terbatas, yakni 1,1% yoy pada Juli dan 1,3% pada Agustus, serta diprakirakan 1,4% pada September. Kredit konsumsi pada September tumbuh 4,86% yoy, jauh di bawah kredit investasi yang melonjak 23,20%.

Di sisi lain, penjualan mobil wholesales menurut Gaikindo mencapai 242.412 unit pada Juli-September 2026, melonjak 31,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 184.698 unit. Namun, angka tersebut belum tentu mencerminkan daya beli karena mobil yang dikirim ke dealer belum tentu langsung terjual ke konsumen.

Investasi dan Manufaktur Jadi Penopang

Di tengah konsumsi yang belum kuat, investasi justru menunjukkan perkembangan positif. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6% yoy dan meningkat dari Rp511,8 triliun pada kuartal sebelumnya.

Dari total tersebut, penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp270,2 triliun, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp258,5 triliun. Investasi ini menyerap 745.634 tenaga kerja.

Industri manufaktur juga mulai pulih. PMI Manufaktur S&P Global tercatat 50,2 pada Juli, turun menjadi 49,8 pada Agustus, lalu melonjak ke 52,4 pada September. Rata-rata kuartal III mencapai 50,8, naik dari 48,7 pada kuartal sebelumnya. Angka di atas 50 menandakan ekspansi.

PMI Bank Indonesia juga naik dari 51,43% pada kuartal II menjadi 52,28% pada kuartal III-2026. Meski begitu, Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) BI mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) turun dari 12,97% menjadi 11,46%, dan kapasitas produksi terpakai turun tipis dari 73,80% menjadi 73,75%.

Neraca Dagang Kembali Surplus

Setelah defisit pada kuartal II-2026, neraca perdagangan barang kembali surplus sepanjang Juli-September. Surplus tercatat 0,12 miliar dolar AS pada Juli, 3,55 miliar dolar AS pada Agustus, dan 3,36 miliar dolar AS pada September. Total surplus kuartal III mencapai sekitar 7,03 miliar dolar AS, berbalik dari defisit sekitar 1,97 miliar dolar AS pada kuartal II.

Ekspor pada September mencapai 27,59 miliar dolar AS atau tumbuh 11,87% yoy. Namun, impor tumbuh lebih tinggi, yakni 24,23 miliar dolar AS atau naik 18,41% yoy. Sepanjang Januari-September 2026, ekspor tumbuh 5,58% yoy, sedangkan impor naik 19,67%.

Belanja Pemerintah Meningkat Tajam

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi belanja negara sepanjang Januari-September 2026 mencapai Rp2.660,5 triliun, naik 19,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2.234,8 triliun.

Kenaikan paling mencolok terjadi pada belanja barang yang melonjak 66,9%, dari Rp277,9 triliun menjadi Rp463,9 triliun. Kenaikan ini antara lain didorong program prioritas pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) yang realisasinya mencapai Rp153,2 triliun hingga September 2026.

Pemerintah juga mendorong pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan menyiapkan paket stimulus semester II-2026 senilai Rp26,34 triliun, termasuk bantuan pangan, diskon transportasi, serta magang dan pelatihan kerja. Salah satunya bantuan beras 10 kilogram per bulan bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat selama Juli-September 2026.

Pemerintah juga menahan tarif listrik PLN dan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar sepanjang kuartal III-2026 untuk menjaga daya beli.(cnbc/hm02)




BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN