Komisi V DPR RI Pastikan Pengawasan Ketat Pembangunan BRT Mebidang

Satu unit Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang di terminal Lapangan Merdeka Medan. (Foto: Ari/Mistar)
Medan, MISTAR.ID - Anggota Komisi V DPR RI, Lokot Nasution, memastikan bahwa pengawasan pada pembangunan bus rapid transit (BRT) yang menghubungkan Kota Medan-Binjai-Kabupaten Deli Serdang secara optimal.
Menurutnya, pengawasan yang terukur menjadi tolak ukur keberhasilan program transportasi darat yang ramah lingkungan tersebut. Pasalnya, sumber anggaran proyek itu juga bersumber dari dana pinjaman bank dunia selain dari APBD Sumatera Utara.
“BRT ini adalah sistem transportasi darat baru yang ramah lingkungan. Kalau pengawasan, yang namanya orang transportasi pasti berpendapat masyarakat terimbau untuk gunakan angkutan umum dari pada pribadi,” katanya kepada Mistar, Selasa (3/11/2026) malam.
Ia mengatakan, pada prinsipnya, yang diawasi oleh para Anggota Komisi V DPR RI merupakan pada ketentuan, spesifikasi yang layak dan tepat. Hal itu menjadi bagian penting dalam terciptanya struktur bangunan yang kokoh dan kuat hingga kemudian hari.
“Untuk pengawasannya, ini pekerjaan kontraknya itu tahun jamak, yang harusnya selesai pada 2027 akhir, jadi pengawasan kami tidak masuk sampai kepada pekerjaannya, uangnya. Tetapi kami harus memastikan pekerjaan itu sesuai spesifikasi dan waktunya terpenuhi serta masyarakat Medan, Binjai, Deli Serdang, merasakan manfaatnya,” tegasnya.
Menyikapi pertanyaan Mistar atas perhatian Komisi V, pihaknya memastikan dalam waktu dekat bahwa pihaknya akan meninjau di sejumlah titik lokasi pembangunan. Pasalnya, imbas dari pembangunan tersebut, sejumlah titik lokasi kerap mengalami kemacetan panjang.
“Terkait kemacetan atas pembangunan BRT yang dilakukan, ia menanggapi dengan merujuk pada salah satu buku transportasi dengan nama morlok. Ketika kita ingin membangun peradaban, perekonomian sebuah wilayah, maka transportasi yang harus terlebih dahulu di bangun,” kata Politisi Demokrat itu.
Sebab ia menilai, persoalan kemacetan merupakan persoalan waktu, bahan bakar, hingga risiko lainnya yang dapat ditekan melalui program infrastruktur transportasi darat yakni BRT.
“Karena kemacetan inikan delay, bensin menguap, efek rumah kaca dan lainnya. Memang kalau berada di Kota yang sedang dibangun, pasti terkorbankan diwaktu yang sementara. Hanya saja kita berkorban demi sebuah kemajuan,” tuturnya. (hm25)
PREVIOUS ARTICLE
Tinjau Sungai Wampu Langkat, Bobby Nasution: Pengerjaan Tanggul Sudah Bersifat Permanen










































