Thursday, September 3, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Neraca Perdagangan Sumut Surplus US$4,41 Miliar hingga Juli 2026

Mistar.idKamis, 3 September 2026 pukul 18.03 WIB
neraca_perdagangan_sumut_surplus_us441_miliar_hingga_juli_2026_

Ilustrasi impor. (foto: unsplash/mistar)

news_banner

Medan, MISTAR.ID – Neraca perdagangan luar negeri Sumatera Utara (Sumut) mencatat kinerja positif sepanjang Januari hingga Juli 2026. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, perdagangan daerah ini mengalami surplus mencapai US$4.412,94 juta atau sekitar US$4,41 miliar.

Khusus pada Juli 2026, surplus perdagangan Sumut tercatat US$822,67 juta. Angka tersebut meningkat 10,54 persen dibandingkan surplus pada Juli 2025 yang berada di angka US$701,90 juta.

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan surplus perdagangan tersebut tidak terlepas dari tingginya kinerja transaksi dengan sejumlah negara mitra dagang utama.

"Surplus perdagangan sepanjang tahun, ditopang kinerja transaksi sejumlah negara mitra utama, seperti Amerika Serikat, India, Jepang, Tiongkok, dan Belanda," katanya, Kamis (3/9/2026).

Amerika Serikat menjadi negara yang memberikan surplus perdagangan terbesar bagi Sumut dengan nilai US$911,05 juta. Berikutnya India sebesar US$414,40 juta, Jepang US$375,22 juta, Tiongkok US$335,51 juta, serta Belanda US$242,14 juta.

Di sisi lain, Sumut masih mencatat defisit perdagangan dengan sejumlah negara. Defisit terbesar berasal dari Singapura sebesar US$452,55 juta, disusul Malaysia US$224,32 juta, Argentina US$56,79 juta, Australia US$40,27 juta, dan Belarus US$34,24 juta.

Dari sisi ekspor, nilai pengiriman barang melalui pelabuhan muat di Sumut selama Januari-Juli 2026 mencapai US$7.933,17 juta. Nilai tersebut tumbuh 12,48 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Secara bulanan, ekspor Juli 2026 juga meningkat 13,75 persen menjadi US$1.400,62 juta, dari US$1.231,34 juta pada Juli tahun sebelumnya.

"Ekspor barang ini, tumbuh 12,48 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Kinerja bulanan juga meningkat 13,75 persen menjadi 1.400,62 juta Dolar AS. Juli tahun lalu hanya sekitar 1.231,34 juta Dolar AS," ucapnya.

Pertumbuhan ekspor tersebut antara lain didorong peningkatan permintaan terhadap golongan berbagai produk kimia yang naik US$240,47 juta atau 22,75 persen.

Sementara itu, ekspor golongan lemak dan minyak hewan atau nabati tumbuh 6,09 persen menjadi US$176,63 juta. Sebaliknya, ekspor buah-buahan mengalami penurunan terdalam sebesar 11,06 persen menjadi sekitar US$18 juta.

Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor terbesar Sumut dengan nilai US$1.325,05 juta. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar US$1.117,68 juta dan India US$578,41 juta.

"Secara kawasan, negara-negara di Asia yang di luar ASEAN, mendominasi ekspor Sumut mencapai 39,13 persen atau 3.103,90 juta Dolar AS," ujarnya.

Sementara itu, nilai impor Sumut berdasarkan CIF (cost, insurance, and freight) selama Januari-Juli 2026 mencapai US$3.520,22 juta. Angka tersebut meningkat 12,24 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar US$3.136,24 juta.

Pada Juli 2026, nilai impor juga mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 18,64 persen. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya impor barang konsumsi sebesar 46,79 persen serta bahan baku dan barang penolong sebesar 12,76 persen.

Sebaliknya, impor barang modal mengalami penurunan sebesar 17,53 persen. "Komoditas bahan bakar mineral jadi impor tertinggi sepanjang 2026 dengan nilai 239,98 juta Dolar AS atau 48,47 persen. Kenaikan terjadi pada golongan karet dan barang dari karet sebesar 56,55 juta Dolar AS atau naik 50,01 persen," tuturnya.

Asim juga menyebut terdapat sejumlah komoditas impor yang mengalami penurunan. Salah satunya mesin dan peralatan mekanis yang nilainya menjadi US$26,75 juta atau turun 7,08 persen.

Dari sisi negara pemasok, Tiongkok masih menjadi sumber impor terbesar bagi Sumut. Nilainya mencapai US$989,54 juta atau sekitar 28,11 persen dari total impor. Setelah Tiongkok, negara pemasok impor terbesar berikutnya adalah Singapura dengan nilai US$516 juta dan Malaysia sebesar US$501,77 juta.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN