Harga Beras di Pematangsiantar Tembus Rp16.700, Pasokan Gabah Tersendat Akibat Cuaca Ekstrem

Pengamat ekonomi Universitas Simalungun, Darwin Damanik. (Foto: Abdi/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID – Harga beras di pasar tradisional Pematangsiantar kembali mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dipengaruhi pasokan gabah dari daerah penyangga yang tersendat akibat cuaca ekstrem dan hasil panen yang menurun.
Saat ini, harga beras medium mencapai Rp15.800 per kilogram, sedangkan beras premium menembus Rp16.700 per kilogram. Kenaikan tersebut mulai menekan pedagang dan masyarakat di tengah kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan hingga musim panen berikutnya.
Pengamat ekonomi Universitas Simalungun, Darwin Damanik, mengatakan persoalan pasokan beras tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, gangguan terjadi dari sisi hulu hingga hilir sehingga berdampak terhadap ketersediaan beras di pasar.
“Pasokan yang lancar itu penting, tapi kalau panen gagal karena El Nino, stok gabah ke penggilingan turun drastis. Produksi lokal ikut jatuh,” kata Darwin kepada MISTAR.ID, Kamis (20/8/2026).
Selain produksi, proses pengeringan gabah juga menghadapi kendala akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Sejumlah penggilingan tradisional disebut tidak dapat beroperasi secara maksimal.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan stok beras hingga memasuki musim panen berikutnya. Jika tidak segera diantisipasi, tekanan terhadap harga beras berpotensi terus berlanjut.
Darwin mendesak Pemerintah Kota Pematangsiantar bergerak cepat dengan melibatkan Bulog, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), serta Dinas Pertanian. Menurutnya, ketiga instansi tersebut perlu melakukan langkah bersama untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.
Bulog, kata Darwin, perlu mempercepat pelaksanaan operasi pasar, memperluas Gerakan Pangan Murah, serta memastikan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tersedia di pasar tradisional. Ia juga meminta pemerintah lebih transparan mengenai ketersediaan stok agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.
“Sementara itu, Disperindag perlu rajin melakukan sidak dan memeriksa pasar, mencegah penimbunan, serta mengawasi agar tidak terjadi spekulasi harga. Harga Eceran Tertinggi (HET) harus diawasi ketat. Mereka juga harus memangkas rantai penjualan yang membuat harga membengkak. Kalau pasokan daerah sendiri tidak cukup, buka peluang kerja sama antardaerah untuk pasokan tambahan,” ujarnya.
Di tingkat petani, Darwin meminta Dinas Pertanian mendorong percepatan masa tanam. Ketersediaan pupuk, benih unggul, dan irigasi juga harus dipastikan agar tersalurkan dengan lancar sehingga biaya produksi petani tidak semakin tinggi.
Terkait harga dalam beberapa pekan ke depan, Darwin memperkirakan harga beras masih akan berada pada level tinggi atau bergerak fluktuatif sebelum adanya intervensi pemerintah dalam skala besar.
Namun, ia mengimbau masyarakat tidak panik. Menurutnya, harga berpeluang mulai turun apabila beras SPHP dan operasi pasar Bulog dapat didistribusikan secara merata. Selain itu, pasokan gabah diperkirakan kembali normal ketika sentra produksi beras memasuki musim panen berikutnya.






















