Friday, October 30, 2026
home_banner_first
EKONOMI

Binance Ungkap Penyebab Dugaan Peretasan Rp113 Triliun, Laptop Insinyur DevOps Disusupi

Mistar.idJumat, 30 Oktober 2026 pukul 14.20 WIB
binance_ungkap_penyebab_dugaan_peretasan_rp113_triliun_laptop_insinyur_devops_disusupi

Ilustrasi, peretasan Binance. (Foto ilustrasi: maris/meta/mistar.id)

Jakarta, MISTAR.ID – Bursa kripto global Binance mengungkap dugaan penyebab insiden keamanan yang berdampak terhadap aset digital senilai 6,3 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp113,37 triliun.

Berdasarkan hasil investigasi awal, serangan diduga bermula dari laptop milik seorang insinyur DevOps Binance yang telah disusupi pihak tidak bertanggung jawab.

Melalui unggahan di akun resmi X pada Jumat (30/10/2026), Binance menjelaskan bahwa perangkat yang terkompromi tersebut diduga menjadi pintu masuk bagi penyerang untuk mengakses lingkungan layanan perusahaan dan mengirimkan transaksi penarikan aset tanpa izin.

Meski demikian, perusahaan menyatakan belum menemukan indikasi bahwa kunci pribadi dompet kripto mengalami kebocoran.

"Investigasi awal Binance menunjukkan bahwa insiden keamanan mungkin melibatkan laptop insinyur DevOps yang disusupi, yang memungkinkan penyerang mendapatkan akses ke wadah layanan dan mengirimkan transaksi penarikan tidak sah," tulis Binance.

Perusahaan menegaskan penyelidikan masih berlangsung. Binance berencana menerbitkan laporan teknis atau post-mortem setelah seluruh fakta dan kronologi insiden berhasil diverifikasi.

Binance Bekukan Aset Kripto Senilai US$3 Miliar

Dalam perkembangan penanganan kasus tersebut, Binance menyebut sekitar US$3 miliar aset yang berkaitan dengan insiden telah berhasil dibekukan melalui mekanisme on-chain.

Upaya pembekuan dilakukan dengan melibatkan sejumlah mitra blockchain untuk mencegah aset berpindah ke alamat dompet lain atau digunakan dalam transaksi lanjutan.

Selain mengamankan aset, Binance memastikan seluruh kerugian pengguna yang terdampak akan ditanggung perusahaan melalui dana Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan dana internal perusahaan.

"Binance akan menanggung semua kerugian dari dana SAFU dan dana perusahaan. Dana pengguna aman," demikian pernyataan perusahaan.

SAFU merupakan dana perlindungan khusus yang disiapkan Binance untuk menghadapi situasi darurat, termasuk insiden keamanan yang berpotensi merugikan pengguna.

Sebagai bentuk transparansi, Binance juga berencana memperbarui laporan Proof of Reserves atau bukti cadangan aset setelah proses pemulihan dan penanganan insiden selesai.

Setoran dan Penarikan Kripto Dihentikan Sementara

Untuk mengurangi risiko keamanan lanjutan, Binance mengambil sejumlah langkah pengamanan, termasuk menghentikan sementara layanan penyetoran dan penarikan aset kripto selama pemeriksaan berlangsung.

Perusahaan juga mencabut otorisasi alamat yang terdampak serta berkoordinasi dengan mitra intelijen blockchain dan aparat penegak hukum.

Langkah tersebut dilakukan untuk menelusuri aliran aset, mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab, serta membuka peluang pemulihan dana yang diduga dicuri.

Binance menyatakan akan terus bekerja sama dengan otoritas terkait agar pelaku dapat diidentifikasi dan diproses sesuai ketentuan hukum.

Tether dan Circle Ikut Bekukan Aset Terkait

Sebelum Binance mengungkap dugaan sumber serangan, sejumlah pengamat kripto lebih dahulu menemukan aktivitas transaksi mencurigakan pada dompet digital bursa tersebut.

Estimasi awal menyebutkan aset senilai sedikitnya US$2 miliar telah keluar dari hot wallet Binance. Laporan lainnya memperkirakan potensi dampak mencapai sekitar US$5,7 miliar.

Insiden tersebut juga mendorong penerbit stablecoin mengambil tindakan untuk membatasi pergerakan aset yang diduga berkaitan dengan serangan.

CEO Circle, Jeremy Allaire, menyampaikan bahwa perusahaannya telah membekukan aset senilai lebih dari US$800 juta.

Sementara itu, CEO Tether, Paolo Ardoino, menyatakan pihaknya telah melakukan pembekuan aset lebih dari US$1,5 miliar.

Pembekuan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk mencegah aset yang diduga berasal dari aktivitas peretasan berpindah lebih jauh melalui jaringan blockchain.

Berpotensi Menjadi Salah Satu Peretasan Terbesar Industri Kripto

Dengan estimasi dampak mencapai US$6,3 miliar atau sekitar Rp113,37 triliun berdasarkan kurs Rp17.988 per dollar AS, insiden ini berpotensi masuk dalam daftar peretasan terbesar sepanjang sejarah industri cryptocurrency apabila angka tersebut terkonfirmasi.

Kasus ini juga kembali menyoroti pentingnya keamanan perangkat internal perusahaan, khususnya komputer yang digunakan oleh tenaga teknis dengan akses terhadap sistem operasional.

Selain perlindungan dompet digital, keamanan perangkat karyawan, pembatasan hak akses, serta sistem verifikasi transaksi menjadi bagian penting dalam mencegah serangan terhadap platform perdagangan kripto.

Hingga saat ini, Binance masih melanjutkan investigasi untuk memastikan seluruh jalur serangan, jumlah aset terdampak, dan proses pemulihan. Perusahaan menyatakan akan menyampaikan laporan teknis secara terperinci setelah pemeriksaan selesai.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN