Hadapi Disrupsi AI, APTISI Siapkan Pemimpin Kampus Menuju Education 6.0 pada 2035

Kegiatan APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA). (Foto: APTISI/Mistar)
Jakarta, MISTAR.ID - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan membawa perubahan besar terhadap dunia pendidikan pada 2035. Perguruan tinggi akan menghadapi tantangan baru, mulai dari transformasi sistem pembelajaran hingga perubahan tata kelola kampus. Kondisi ini menuntut kesiapan pemimpin perguruan tinggi dalam mengantisipasi perkembangan teknologi sejak dini.
Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), Budi Djatmiko, mengatakan persiapan menghadapi perubahan tersebut perlu dimulai dari jajaran pimpinan perguruan tinggi.
“Kami menyebutnya Education 6.0, bahwa pendidikan pada 2035 akan berbeda sekali. Oleh karena itu, kami harus mempersiapkan para rektor dan pimpinan perguruan tinggi lebih dini untuk menghadapi perubahan,” ujar Budi dalam kegiatan APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I dilansir, Kamis (22/10/2026).
Menurut Budi, transformasi pendidikan juga akan memengaruhi konsep pengelolaan kampus. Pemanfaatan teknologi mendorong pergeseran dari model kampus konvensional yang mengandalkan infrastruktur fisik menuju sistem berbasis cloud atau komputasi awan.
Melalui AERLA, APTISI berharap para pimpinan perguruan tinggi memiliki ruang untuk bertukar pengetahuan, membagikan pengalaman, serta menyusun strategi pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pendidikan pada masa mendatang.
Pengembangan kompetensi kepemimpinan tersebut tidak terbatas bagi rektor. Program serupa diharapkan dapat menjangkau dekan, ketua program studi, pengelola yayasan, dosen, hingga mahasiswa sehingga peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan.
AERLA dirancang sebagai forum pengembangan kepemimpinan yang mempertemukan para pimpinan perguruan tinggi untuk berbagi praktik baik dan mencari solusi atas berbagai persoalan pendidikan tinggi. Melalui program ini, pimpinan perguruan tinggi swasta (PTS) didorong membangun kepemimpinan yang adaptif, transformatif, serta mampu menghasilkan dampak nyata.
Di tengah perubahan global, perguruan tinggi juga dihadapkan pada sejumlah agenda penting, seperti percepatan digitalisasi, peningkatan kualitas riset, dan komersialisasi hasil inovasi. APTISI berupaya mendorong lahirnya pemimpin kampus yang kreatif dan inovatif agar PTS Indonesia semakin kompetitif di tingkat internasional.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi, menambahkan kepemimpinan memegang peranan strategis dalam mendorong perubahan di lingkungan perguruan tinggi. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan APTISI dapat memperluas jangkauan peningkatan kapasitas pimpinan, baik di perguruan tinggi negeri (PTN) maupun PTS.
“Dalam konteks memajukan atau mentransformasi perguruan tinggi, salah satu kuncinya adalah leadership,” kata dia.
Khairul menjelaskan, kerja sama antarlembaga memungkinkan pengembangan kapasitas kepemimpinan dilakukan secara lebih efektif. Tanpa kolaborasi, upaya menjangkau seluruh pimpinan perguruan tinggi berpotensi membutuhkan waktu lebih panjang karena besarnya jumlah institusi yang harus dilibatkan.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) turut mengapresiasi penyelenggaraan AERLA. Inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan agenda Diktisaintek Berdampak yang menekankan kontribusi nyata pendidikan tinggi bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Program ini diharapkan mampu membentuk kepemimpinan perguruan tinggi yang visioner, tanggap terhadap kemajuan sains dan teknologi, serta mampu mengantisipasi kebutuhan industri pada masa depan.
Melalui kolaborasi tersebut, APTISI dan Kemendiktisaintek menempatkan penguatan kepemimpinan sebagai salah satu landasan penting dalam transformasi pendidikan tinggi.
Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki mutu tata kelola kampus sekaligus memperbesar kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.








































