Sempat Hilang, Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Pematangsiantar

Kabut asap kiriman karhutla kembali menyelimuti Kota Pematangsiantar. (Foto: Hamzah/Mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID (22/10/2026) — Setelah sempat hilang beberapa hari, kiriman kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di beberapa daerah kembali menyelimuti Kota Pematangsiantar. Kemunculan kabut asap ini menjadi perhatian bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya hilang.
Kondisi udara yang kembali diselimuti kabut asap menimbulkan kewaspadaan masyarakat, terutama terkait kualitas udara. Paparan asap dalam jangka waktu tertentu dapat berdampak bagi kesehatan, terutama anak-anak dan kelompok rentan dengan gangguan pernapasan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pematangsiantar Dedi Idris Harahap membenarkan kabut asap kiriman kembali menyelimuti Kota Pematangsiantar. Namun, kondisi udara saat ini masih tergolong aman.
"Kita (Pematangsiantar) masih kategori sedang," ujar Dedi saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat berkendara ketika jarak pandang rendah, mengurangi kecepatan dan menjaga jarak aman, serta menggunakan perlengkapan yang sesuai saat berada di luar ruangan yang diselimuti kabut.
Selain mengimbau masyarakat, BPBD Kota Pematangsiantar juga menyarankan agar masyarakat memantau informasi resmi dan kualitas udara, mengikuti arahan petugas, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak penting.
Selain Kabut Asap, Pematangsiantar Berpotensi Dilanda Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang
Sementara itu, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan mengimbau masyarakat terkait potensi cuaca ekstrem pada 23 hingga 26 Oktober 2026 untuk seluruh wilayah Sumatra Utara (Sumut).
BMKG mengidentifikasi adanya sirkulasi siklonik yang terbentuk di Samudra Hindia barat Aceh yang mengakibatkan belokan angin dan konfluensi (pertemuan massa udara) di Sumatra Utara. Sirkulasi siklonik juga didukung aktifnya gelombang atmosfer dan Madden-Julian Oscillation (MJO) di Sumatra Utara.
Kondisi ini berpotensi menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat disertai petir dan angin kencang pada siang hingga dini hari dengan durasi lebih dari tiga jam. Selain itu, suhu muka laut terpantau hangat berkisar 30–31 derajat Celsius dan kelembapan udara tinggi di semua lapisan atmosfer.
Dengan adanya faktor tersebut, Sumatra Utara diprediksi akan menerima tambahan uap air sehingga terjadi peningkatan pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah pantai barat dan pesisir timur Sumatra Utara.
Wilayah yang berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat antara lain Kabupaten Deli Serdang, Asahan, Serdang Bedagai, Batu Bara, Humbang Hasundutan, Karo, Sibolga, Tanjungbalai, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Nias, Nias Utara, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba, Langkat, Mandailing Natal, Nias Barat, Nias Selatan, Pakpak Bharat, Dairi, Kota Medan, Binjai, Gunungsitoli, Padangsidimpuan, dan Pematangsiantar.
Berdasarkan faktor tersebut, BMKG mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, angin kencang, dan tanah longsor.
"Terkait dampak bencana hidrometeorologi, diimbau kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan keluarga, menyiapkan obat-obatan dasar, memantau informasi cuaca secara berkala, mengikuti saran pemerintah, dan melaporkan setiap kejadian bencana," ucapnya.(hm02)








































