Wednesday, October 21, 2026
home_banner_first
NASIONAL

BMKG Peringatkan Risiko Karhutla Meningkat, Potensi Hujan Minim

Mistar.idRabu, 21 Oktober 2026 pukul 22.53 WIB
bmkg_peringatkan_risiko_karhutla_meningkat_potensi_hujan_minim_

Update sebaran titik panas karhutla di Indonesia menurut data Peta sipongi pada Rabu (21/10/2026). (Foto: Tangkapan Layar Sipongi)

Jakarta, MISTAR.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia akibat minimnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah wilayah.

Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino yang sangat kuat serta Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang dirilis BMKG pada Rabu (21/10/2026) menunjukkan hampir seluruh wilayah Indonesia berada pada indeks merah, yang menandakan tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah sangat tinggi. Peta tersebut berlaku untuk Kamis (22/10/2026).

Sementara itu, citra satelit Himawari-9 IR Enhanced yang dirilis BMKG pada Rabu menunjukkan minimnya pembentukan awan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini mengindikasikan terbatasnya potensi hujan dan dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla.

Ribuan Hektare Lahan Terbakar Belum Dapat Dipadamkan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat, per hari ini ada 1.006 kali kejadian karhutla yang melanda wilayah di Indonesia.

Tercatat per hari Selasa (20/10/2026), ada 983,34 hektare (ha) lahan yang jadi target penanganan pemadaman karhutla. Dari angka itu, karhutla di 502,08 ha sudah dipadamkan, dan masih ada 481,26 ha belum padam. Data ini adalah mencakup total enam provinsi prioritas penanganan karhutla tahun 2026. Yaitu di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau (penyebutan berdasarkan urutan paling luas).

Sementara, kejadian karhutla di luar enam provinsi tersebut per 20 Oktober 2026 tercatat sekitar 1.044,08 ha. Di mana, luasan yang sudah dapat dipadamkan baru sekitar 44,08 ha.

Di saat bersamaan, BNPB mengacu pantauan Sipongi mencatat, per hari ini pukul 17.43 WIB, ada 6.563 titik panas (hotspot), dengan luas lahan terbakar dalam 24 jam terakhir mencapai 1.024,33 ha.

Disebutkan, di enam provinsi, kebakaran di 723,25 ha lahan sudah dipadamkan. Data ini adalah akumulasi enam provinsi. Tercatat, wilayah paling banyak terbakar ada di Kalimantan Tengah (44%), disusul Sumatera Selatan dengan porsi 39%.

Lalu bagaimana kualitas udara hari ini?

BNPB mencatat kualitas udara di Riau hari ini kategori Tidak Sehat dengan jarak pandang hanya 5 km.

Sementara, kualitas udara di Jambi, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat hari masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Dengan jarak pandang berkisar 0,1-8 km.

Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN