Thursday, October 22, 2026
home_banner_first
NASIONAL

BMKG Peringatkan Risiko Karhutla Meningkat, Potensi Hujan Minim

Mistar.idRabu, 21 Oktober 2026 pukul 22.53 WIB
bmkg_peringatkan_risiko_karhutla_meningkat_potensi_hujan_minim_

Update sebaran titik panas karhutla di Indonesia menurut data Peta sipongi pada Rabu (21/10/2026). (Foto: Tangkapan Layar Sipongi)

Dan, kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masuk kategori Berbahaya. Dengan jarak pandang 0,2-0,7 km di Kalimantan Tengah dan tak sampai 5 km di Kalimantan Selatan.

Untuk mengetahui update Indeks Standar Pencemar Udara di Indonesia dapat dipantau di situs ISPU Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.

Update hari ini pukul 17.56 WIB, tampak pada peta di situs tersebut sebaran titik-titik hitam tersebar di Kalimantan, Jambi, dan Sumatera Selatan, menunjukkan kualitas udara Berbahaya dengan indeks ISPU melampaui 300.

Di sisi lain, di tengah masih minimnya pembentukan awan hujan, BMKG bersama seluruh unsur terkait seperti TNI, BNPB, Kemenhut, Kemenhan, dan BRIN mengimplementasikan penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

BMKG menjelaskan, metode ini membantu mengurai kabut asap pekat akibat karhutla di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Teknik ini menargetkan lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan, terutama ketika awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.

"Penyemaian dry ice menjadi salah satu langkah taktis untuk mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat penyebaran asap. Dalam kondisi tertentu, asap karhutla yang sangat pekat terjebak di lapisan atmosfer dekat permukaan hingga ketinggian 6.000-7.000 kaki, bahkan bisa lebih tinggi," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resmi, dikutip Rabu.

Namun ditegaskan, OMC melalui penyemaian dry ice merupakan bagian dari rangkaian penanganan karhutla, bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi kebakaran maupun kabut asap.

Upaya ini perlu berjalan beriringan dengan pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dan organisasi nonpemerintah dalam mencegah dan memadamkan kebakaran," ujar Teuku Faisal. (hm25/cnbc Indonesia)


Halaman:


BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN