Wednesday, October 21, 2026
home_banner_first
EKONOMI

IHSG Anjlok 0,84 Persen ke 5.234, Elandry Pratama Ungkap Penyebab dan Level Kunci

Mistar.idKamis, 22 Oktober 2026 pukul 06.05 WIB
ihsg_anjlok_084_persen_ke_5234_elandry_pratama_ungkap_penyebab_dan_level_kunci

Ilustrasi IHSG anjlok (Foto: AI)

Jakarta, MISTAR.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 44,53 poin atau 0,84 persen ke level 5.234,36 pada perdagangan sesi I, Rabu (21/10/2026). Pelemahan terjadi setelah indeks sempat menguat tajam pada perdagangan sehari sebelumnya.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai aksi profit taking atau pengambilan keuntungan menjadi salah satu faktor yang menekan IHSG. Investor memanfaatkan penguatan sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian pasar.

Pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026), IHSG melonjak 282,28 poin atau 5,65 persen ke level 5.278,89.

“Sebagian investor memanfaatkan kenaikan tersebut untuk merealisasikan keuntungan. Di sisi lain, sentimen terkait MSCI dan kekhawatiran terhadap arus dana asing masih membayangi pergerakan pasar sehingga investor cenderung lebih berhati-hati,” ujar Elandry saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Sentimen MSCI dan Dana Asing Bayangi IHSG

Elandry mengatakan investor global maupun domestik kini cenderung lebih selektif dalam mengambil keputusan investasi dan menjaga risk appetite atau selera risiko.

Setelah mengalami volatilitas tinggi, pelaku pasar masih menunggu kepastian mengenai reformasi transparansi pasar modal Indonesia. Respons investor asing terhadap perkembangan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang dicermati.

“Dalam kondisi ini, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan atau menunggu momentum yang lebih jelas sebelum kembali melakukan akumulasi,” ujarnya.

Saham Perbankan dan Komoditas Perlu Dicermati

Menurut Elandry, tekanan terhadap IHSG perlu dilihat dari pergerakan saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks.

Selain itu, saham sektor energi dan komoditas, termasuk saham yang sebelumnya mengalami kenaikan tajam, berpotensi mengalami aksi ambil untung.

“Besarnya kontribusi setiap sektor terhadap pelemahan tetap bergantung pada pergerakan harga saham pada perdagangan hari ini,” kata Elandry.

Level 5.405 Jadi Penentu Arah IHSG

Dalam jangka pendek hingga menengah, Elandry memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak volatil. Penguatan pada perdagangan sebelumnya dinilai belum cukup untuk memastikan pasar memasuki fase pembalikan tren atau reversal.

Ia mengingatkan masih terdapat risiko koreksi lanjutan dan tekanan jual. Menurutnya, level 5.405 menjadi batas penting untuk dicermati sebagai konfirmasi awal perubahan tren.

Selama IHSG belum mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, penguatan indeks masih perlu dipandang sebagai technical rebound, yakni pemulihan sementara setelah penurunan.

“Investor sebaiknya tetap selektif, tidak mengejar harga saat rebound, dan menggunakan trading plan yang jelas dengan target keuntungan serta batas risiko yang terukur,” ujarnya.

IHSG Melemah, Mayoritas Saham Turun

Berdasarkan data perdagangan sesi I Rabu (21/10/2026), indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga melemah 3,47 poin atau 0,65 persen ke posisi 526,88.

Frekuensi perdagangan tercatat mencapai 1,07 juta kali transaksi, dengan volume 16,93 miliar saham senilai Rp9,43 triliun. Sebanyak 218 saham menguat, 499 saham melemah, dan 246 saham bergerak stagnan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, hanya tiga sektor yang menguat. Sektor barang konsumen nonprimer naik 0,38 persen, sektor kesehatan menguat 0,36 persen, sedangkan sektor barang konsumen primer naik 0,02 persen.

Sebaliknya, delapan sektor mengalami pelemahan. Sektor industri mencatat penurunan terdalam sebesar 2,65 persen, disusul sektor teknologi yang turun 2,06 persen dan sektor barang baku yang melemah 1,60 persen.

Data tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi perdagangan sesi I, meskipun beberapa sektor mampu bertahan di zona positif.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN