Menteri PU Akui Ada Kelalaian Tangani Banjir Sipange Tapteng, Percepat Perbaikan Aliran Sungai

Menteri PU Dody Hanggodo saat meninjau lokasi banjir dan pengerjaan tanggul sementara Aek Silaga-laga di Kelurahan Sipange. (Foto: Feliks/Mistar)
Tapteng, MISTAR.ID – Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengakui adanya kelalaian dalam penanganan banjir di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).
Hal itu disampaikannya saat meninjau lokasi banjir sekaligus pengerjaan tanggul sementara Aek Silaga-laga di Kelurahan Sipange serta proyek pengendali banjir di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Rabu (29/7/2026).
Dalam peninjauan tersebut turut hadir Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Brigjen TNI Fadjar Tjahjono, Komandan Korem (Danrem) 023/KS Kolonel Inf Iwan Budiarso, serta Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu.
Dody menjelaskan, Aek Silaga-laga merupakan sungai yang kewenangannya berada pada pemerintah daerah dan provinsi, bukan kewenangan pemerintah pusat. Namun, pihaknya mengakui belum mengidentifikasi persoalan tersebut sejak awal.
"Sebetulnya sungai ini kan punya kabupaten, Aek Silaga-laga yang merupakan kewenangan provinsi. Jadi memang kita ya salah. Kita dari awal tidak pernah mengidentifikasi itu sebagai satu masalah," ujarnya.
Menurut Dody, selama ini Kementerian PU lebih fokus menangani persoalan banjir di Kelurahan Hutanabolon dengan mengalokasikan proyek nasional pengendali banjir.
Pihaknya baru mengetahui adanya banjir besar di Kelurahan Sipange setelah mendapat laporan terkait kejadian pada Sabtu (18/7/2026), yang disebut lebih parah dibanding kejadian sebelumnya.
"Setelah itu kemarin ada banjir dilaporkan oleh Kepala Balai, saya bilang ya sudah, kerjakan saja," katanya.
Dody menilai, penanganan banjir di Kelurahan Sipange sebelumnya memang perlu melalui pembahasan langsung di tingkat kementerian karena wilayah tersebut bukan merupakan kewenangan nasional.
Saat ini, kata dia, pekerjaan awal sudah dilakukan dengan membuka saluran air. Selain itu, bagian tertentu akan ditinggikan agar kapasitas gorong-gorong menjadi lebih besar.
"Nanti ini yang bapak injak ini, kita akan tinggikan supaya gorong-gorongnya lebih besar," ucapnya.
Ia memastikan konsep penanganan banjir di Sipange akan dilakukan serupa dengan pengerjaan di Hutanabolon, yakni memperbesar gorong-gorong agar aliran air lebih lancar menuju Sungai Silaga-laga dan Sungai Sigala-gala.
"Kalau gorong-gorongnya besar sehingga kalau air turun dari sana, bisa lebih lancar masuk ke Sungai Silaga-laga dan Sungai Sigala-gala," jelasnya.
Terkait pembangunan tanggul dan Sabo Dam di Hutanabolon yang dinilai masyarakat berjalan lambat, Dody menyebut kondisi tersebut dipengaruhi faktor alam.
"Sebenarnya bukan lambat, karena kita bikin sementara, terus hujan turun lagi, banjir turun lagi, disapu lagi," ujarnya.
Dody mengaku telah meminta jajarannya mendesak pihak pelaksana, PT Wika, untuk mempercepat pengerjaan proyek pengendali banjir di Hutanabolon.
"Jadi tadi saya minta yang dipercepat itu pekerjaan Sabo Dam saja. Kalau kemudian banjir lagi, yang keluar itu air. Kalau air masih oke, namun kalau lumpur-lumpur akan lebih parah," tuturnya.
Ia menambahkan, Kementerian PU juga telah melakukan pekerjaan di luar area kewenangannya. Namun, sebagian pekerjaan kembali rusak akibat faktor alam, terutama curah hujan yang tinggi.
"Hari ini saja masih hujan, masih mendung. Jadi memang faktor alam sangat susah bisa kita kontrol, tapi tetap kita akan fokus dalam penanganan banjir ini," pungkasnya.























