Tuesday, July 28, 2026
home_banner_first
SUMUT

DPC PDI Perjuangan Tapteng Gelar Dialog Publik dan Nobar Peringatan Kudatuli 1996

Mistar.idSelasa, 28 Juli 2026 pukul 15.57 WIB
dpc_pdi_perjuangan_tapteng_gelar_dialog_publik_dan_nobar_peringatan_kudatuli_1996

DPC PDI Perjuangan Tapanuli Tengah menggelar dialog publik dan nonton bareng peringatan Kudatuli 1996 di Pandan Kupie. (Foto: Syaiful/Mistar)

news_banner

Tapteng, MISTAR.ID – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menggelar dialog publik dan nonton bareng (nobar) peringatan peristiwa Kudatuli atau Kerusuhan 27 Juli 1996 di Pandan Kupie, Senin (27/7/2026) malam.

Ketua panitia kegiatan, Dennis Simalango, mengatakan peringatan Kudatuli bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi pengingat atas perjalanan sejarah PDI Perjuangan.

"Kegiatan ini untuk mengingat kembali peristiwa penyerangan dan pengambilalihan paksa Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996," ujar Dennis.

Narasumber dalam kegiatan tersebut, Turunan Gulo, mengatakan Kudatuli menjadi salah satu rangkaian peristiwa penting yang mengawali era Reformasi 1998 hingga berakhirnya kepemimpinan Presiden Soeharto setelah menjabat selama 32 tahun.

Ia juga menceritakan bagaimana beratnya perjuangan menyampaikan pendapat di muka umum pada masa itu.

"Hanya 10 kader yang berani berdemonstrasi melawan rasa takut terhadap militer, bahkan berisiko dipenjara. Dari situlah kebebasan berpendapat di muka umum mulai tumbuh. Demokrasi yang kita rasakan hingga saat ini, termasuk kebebasan untuk berdemonstrasi, lahir dari perjuangan tersebut," kata Turunan.

Menurutnya, kebebasan pers dan hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak mudah.

"Itu adalah sesuatu yang sangat mahal pada era rezim Soeharto. Kebebasan itu bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan hasil perjuangan yang berdarah-darah," ujarnya.

Turunan Gulo berharap peringatan Kudatuli menjadi momentum refleksi bagi masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi keadilan dan demokrasi.

"Saya titip pesan kepada generasi muda agar memahami hak-hak sipil, politik, ekonomi, dan sosial, serta merawat demokrasi dengan penuh tanggung jawab agar tidak kembali tergerus oleh kekuasaan yang sewenang-wenang," tuturnya.



BERITA TERPOPULER

BERITA PILIHAN