Panen Perdana Contract Farming Cabai Merah di Siantar, Tekan Inflasi dari Akar Produksi

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pematangsiantar dorong penguatan produksi lokal melalui skema contract farming bersama para petani. (Foto: Istimewa/mistar)
Pematangsiantar, MISTAR.ID
Cabai merah kembali menjadi perhatian utama dalam pengendalian inflasi di Kota Pematangsiantar. Komoditas dapur yang selalu hadir dalam setiap masakan warga tercatat sebagai penyumbang dari inflasi tertinggi pada tahun lalu.
Menyadari tingginya harga cabai terhadap inflasi daerah, Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian mulai mendorong penguatan produksi lokal melalui skema contract farming bersama para petani.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Pematangsiantar, Legianto Pardamean Manurung, menjelaskan program ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pasokan cabai merah dari daerah lain yang selama ini kerap memicu fluktuasi harga.
"Cabai merah tahun lalu menjadi penyumbang inflasi tertinggi di Kota Pematangsiantar. Karena itu kita dorong produksi lokal melalui pola contract farming agar pasokan lebih terjamin," ujarnya.
Melalui skema tersebut, pemerintah berupaya membangun kemitraan yang lebih terstruktur antara petani, pasar, dan pemerintah. Dengan adanya kontrak produksi, petani mendapat kepastian pasar, sementara pemerintah dapat menjaga stabilitas pasokan di pasar tradisional.
Dengan adanya program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani di Pematangsiantar sekaligus menstabilkan harga di tingkat konsumen.
"Dengan program ini, semoga petani cabai merah bisa lebih sejahtera, harga cabai stabil, dan inflasi di daerah bisa terkendali," kata Pardamean.
Diketahui, pada 12 Maret 2026, Pemko bersama petani melakukan panen perdana cabai merah di lahan milik Kampiun Siagian seluas sekitar 2,5 rante. Panen ini menjadi simbol awal dari upaya perkuat kemandirian pangan hortikultura di Pematangsiantar.
























